Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Berubah


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa Izzam pun pulang kerumahnya, karena Lili sendirian dan sedang hamil muda.


"Mita! kalau seandainya Lili mau kesini, apakah boleh aku membawanya?" Tanya Izzam sebelum pulang, dia terlihat berbaring di kasur seakan-akan malas unjuk beranjak pergi.


"Tentu saja! ini kan juga rumahnya? " Jawab Mita.


"Baiklah, sekarang aku pulang dulu." Izzam pun bangun dan berdiri menuju pintu,namun tiba-tiba dia berbalik.


cup.


Izzam memegangi pundak Mita dan melu**t bibir Mita.


Ceklek.


"Ummi..." Tiba-tiba Ayana datang, untung saja Mita dan Izzam berada di belakang pintu jadi tak kelihatan.


"Eeh sayang." Mita cepat cepat mendorong tubuh Izzam.


"Papah mana?" Ayana masih memegangi handle pintu. Jadi tidak tau kalau Izzam ada dibelakang pintu.


"Ayo kita keluar, kita makan diluar sore ini ya?" Mita segera membawa gadis kecil itu keluar dan bersiap siap.


"Ayo kita berangkat, kita makan sore dulu sebelum papah pulang ke rumah." Ucap Izzam sambil berjalan menuju halaman.


Mita, Ayana, Zila pun mengiringi di belakang.


" Mi, kita pindah kesini aja yu Mi!" Ucap Ayana pada Mita.


"Trus Kakak Lili gimana, dia kan nggak mau ikut?" Jawab Mita sambil mengelus kepala anak itu.


"Biarin sendirian, siapa suruh jahat sama ummi." Ucap Ayana judes.


"Ayana nggak boleh gitu sama Kakak! entar dosa lho!" Tambah Zila lagi sambil menggandeng tangan Ayana mesra. Izzam yang jalan duluan menoleh 3 wanita di belakangnya sambil senyum senyum.


Seandainya saja mereka adalah Tami, Lili, Ayana aku pasti lebih bahagia lagi. Keluargaku memang tak utuh, semua sudah terlambat, aku akan memperbaikinya dengan keluarga baruku.


lirih Izzam dalam hati.


"Ayo naik!" Izzam membuka semua pintu untuk wanita wanita cantik itu.


Mereka pun mulai menyusuri jalanan yang terlihat ramai.


"Kita makan dimana Bang?" Mita pun bertanya karena mobilnya berjalan terlalu lambat.


"Di WS aja Mi!" Ayana menentukan pilihan, sulit kalau di tolak.


"Baik sayang." Izzam pun melajukan mobilnya menuju WS terdekat, karena Izzam sudah hafal jalanan kota ini.


💐💐💐


Tampak Lili sedang ke Dapur mengambil makanan dan duduk sendirian.


"Mamah kemana sih? semaleman tidak datang datang? mana papah dan si wanita j**ang itu pulang kampung," Gumam Lili kesal.


Tapi wanita itu lebih baik pada mamah, walau pun aku sudah mengasarinya dan mengusirnya dari kamarku, dia tetap mengambilkan makanan untikku. Setelah aku ketahuan hamil, dia sangat baik padaku, apa itu hanya cari perhatianku saja ya? Ayana juga sangat menyayanginya, terlihat dia lebih menyayangi wanita itu dari pada mamah.


Hatinya terus saja berbisik bisik saling pro dan kontra.


Tring


Tring


Tring


Telpon rumah berbunyi. Lili pun segera mendekat.


("Hello.l")


("Lili, Mamah telpon nggak di angkat, papah juga nggak ngangkat kalian kemana sih?")

__ADS_1


("Lili lagi makan di dapur, Papah ngantar istri mudanya tuh ke kampung halaman!")


("Apa? Papah mu mengantarnya?")


("Mamah kapan pulang?")


("Mamah mungkin nggak bekal pulang lagi Li, Mamah mau mengajukan gugatan cerai sama papahmu").


("Apa mah? Kenapa? Lalu aku bagaimana? aku sedang hamil mah, aku lerlu mamah!")


("Kan di sana ada Mita,wanita ****** itu.")


("Mah kenapa sih mau di madu, katanya Mamah yang ngizinin!")


("Kamu kan tau sendiri, Mamah dan Papah mu sudah tak cocok lagi, sudah lama Mamah dan p


Lapah pisah ranjang , udah ya, Mamah mau mandi.")


Tuut.


"Hik....Hik....Hik.... " Lili pun menangis.lengkap sudah sakit hatinya, mamah dan papahnya akan berpisah, bagaimana nasibnya dan, bayinya.


Ceklek....


"Lili....kenapa menangis." Ternyata Izzam, sudah datang. Wajah Lili cemberut dan sangat terlihat dia sangat marah dan kecewa.


Bruk....


Lili menutup pintu kamarnya kasar.


"Li, kurang ajar sama orang tua, ditanya tak dijawab, malah membanting pintu."


Bruk...


Izzam menendang pintu Lili sampai terbuka lebar.


"Kenapa pulang? Sudah ada istri muda pelacur itu!" Lili berbaring membelakangi papahnya.


"Hey! Apa kau bilang." Izzam mencengkram tangan Lili dan mendudukkan tubuh kecil itu dengan penuh amarah.


"Emang benarkan, kalau Papah mengambilnya dari Club malam?" Lili menantang mata Papahnya.


Plak


Plak


Plak


"Kurang ajar, ibu sama anak sama sama mulut tak terdidik, aku menyesal memiliki anak sepertimu, aku menyesal telah gagal mendidik mu." Vengkraman Izzam makin kuat membuat Lili kesakitan.


"Aduh! sakit Pah! lepasin, emang papah dan mamah pernah mendidik Lili? selama ini yang mendidik cuma uang, Papah dan Mamah sibuk bekerja tiap hari, malam Clubing, sampai beristri juga sama Ladies malam." Muka Lili masih ngeres dan menatap mata Papahnya.


" Dia memang kekerja di club,tapi dia bukan wanita sembarangan ingat itu Li,dia masih perawan!" Izzam, sangat esmossi mengahadapi hinaan Lili pada Mita.


Lili pun diam, dia tidak berani lagi menjawab, cuma matanya terlihat tidak terima papahnya membela wanita itu terus.


Bruk...


Bruk...


Izzam menuup pintu Lili kasar dan menendangnya ulang dari luar.


Tap


Tap


Tap


Izzam terdengar menaiki tangga.

__ADS_1


Cklek


Dia pun masuk ke kamarnya dan langsung menelpon Mita.


Kring....kring....kring....


("Hello....Abang! ada apa? apa abang sudah sampai rumah? Lili gimana ? apa dia sudah makan?")


("Sayang, nanyanya banyak amet? aku kangen nih!")


Deg.


Jantung Mita terasa nyut-nyutan, ini kali pertama Izzam memanggilnya sayang.


("Abang! kan kita baru pisah sore tadi? apa abang sudah di rumah?")


("Iya, aku sudah di rumah, ya udah besok aku ke sana lagi! kalau Lili mau di ajak ke sana liburan,baku akan tinggal di sana juga selama seminggu, uda ya,e emch dah sayang.")


"Wa alaikumussalam." Si Izzam lupa tuh ucap salam kan dia tidak terbiasa


Tut....tut....tut


Izzam senyum senyum sendiri di kamarnya, dia teringat pergulatannya tadi siang.


Ternyata kita tidak bisa menilai pekerjaan luarnya saja, walau dia bekerja nemenin Oom-Oom, namun dia masih menjaga keperawanannya, tidak seperti Tami, saat kami menikah dia sudah tidak perawan lagi, tapi karena aku cinta buta saat itu, aku mau saja menerimanya.


Gumam Izzam.


Tiba-tiba Izzam bangkit dan turun.


Bruk....


"Lili! kemasi barang yang perlu kau pakai selama seminggu, kita akan menyusul Ayana, kita akan menginap di sana selama seminggu." Izzam pergi tanpa menunggu jawaban Lili.


Selang beberapa menit Izzam pun sudah turun dengan membawa Koper.


"Lili! kau sudah bersiap?" Izzam menengok Kekamar Lili, namun Lili masih rebahan di kasurnya.


"Apa kau tidak mau ikut? Baiklah, kau akan sendirian, di rumah, aku tetap akan pergi, aku akan bekerja kekantor dari sana saja, kau jaga diri!"


Bruk


Tap


Tap


Tap


Lili kaget. Ternyata Papahnya benar benar tega meninggalkannya.


Hari sudah mulai larut, Lili merasa Lapar lagi dia pun ke dapur.


Blep....


"Aaaaaaa, gelaaap, mengapa mesti mati lampu sih?" Lili meraba-raba dinding dan, berjalan menuju ruang tamu, karena ruang tamu saja yang ada lampu emergency nya.


"Hik...Hik...Hik...tau begini! ikut papah saja tadi nyusul Ayana." Lili masuk kamar dan mengunci pintunya.


"Mamah...papah...kenapa kalian jahat sama aku? kalian ninggalin aku!" Lili terus menangis


Tok


Tok


Tok


Suara pintu Lili diketuk, Lili jadi takut dan langsung diam.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2