Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Introgasi Lena


__ADS_3

"Aduuuh sakiiit." Tiba-tiba Mita meringis menekan perutnya karena keskitan. mungkin karena terlalu banyak tertawa


"Sayang ada apa?"


"Sakit perut Bang!"


"Ayo kita ke rumah sakit! aku takut ada apa-apa dengan bayinya," Izzam lun menggendong Mita.


"Abang, nggak usah, biar istirahat aja Bang."


"Aku takut terjadi sesuatu sayang."


Tapi kalau di jalan juga terkena guncangan jalanan gimana? tambah parah sakitnya Bang."


"Benarkah, kalau begitu biar aku telpon dokter nya aja."


Izzam pun meletakkan istrinya di sofa, dia mengambil HP dan menelpon dokter Nisa


{Hello, dok, apakah anda bisa ke mari? istri saya ada keluhan sakit di perut}


{Apa ada sebab kenapa dia sakit perut?}


{Tadi kami sedang bercanda, dan aku gelitik, kami tertawa keras, lalu dia mengeluh sakit perut}


{Ooh, itu tidak apa-apa, hanya karena tekanan bekas tertawa saja Pak. Istirahat minum air angat aja ya}


{Benarkah, apa tidak masalah?}


{Tidak apa-apa, nanti dia berhenti sendiri, tapi jangan di ulangi ya, sementara semester awal ini jangan banyak tekanan di perutnya}


{Ooh baiklah dok, terimakasih}


Tuut


"Kok nggak pake salam sih Bang?"


"Hihi, lupa, panik soalnya."


"Apa kata dokter?"


"Tidak masalah sayang." Izzam pun duduk dan memeluk Mita dari samping, sekarang ayo berbaring sini."


Mita pun menurut dan berbaring di paha Izzam, dia tatap suaminya lekat-lekat. karena ruang tamu sedang sepi, semua orang ada yang sholat zuhur dan ada yang beres-beres meja tamu.


"Mulai sekarang, kamu harus hati-hati ya? berjalan atau pun melakukan sesuatu. Oh iya, tadi Lili minta agar kita menarik tuntukan pada Tami, itu terserah padamu sayang."


"Kalau menurut Abang gimana?"


"Yaaa, baiknya siiih biarin aja sampai beberapa bulan lagi, biar dia kapok."


"Tapi, bagaimana kalau kita memaafkan, bukankah hari ini suasana lebaran? biar kita cabut aja tuntutannya."


"Apakah kau tidak masalah? bukankah dulu dia telah mencelakai bayi kita?"


"Sudah lama juga Bang, aku sudah tidak apa-apa kok, biar Allah nanti yang balas."


"Baiklah, nanti sore aku ke Kantor polisi, sekarang kamu tidur dulu ya!"


"Bang, aku pengen ke rumah lama."


"Rumah kita yang di residen evil?"


"Nggak, yang di Jl. Garuda Bang."


"Ngapain?"

__ADS_1


"Mau jenguk Lena aja sama Fasha."


"Ooh, baiklah."


"Ayo!"


"Ke mana?"


"Ke rumah lama lah, ayo!"


Mita pun berdiri dan menuju kamarnya.


"" Ke mana? kok ke kamar?"


"Ngambil Tas dulu, Bang."


Mereka pun berangkat menuju rumah lama.


"Ke mana Kak?" Tiba-tiba Zila menyusul ke teras bersama Ayana.


"Mau ke rumah lama kita Zil, Ayo ikut!"


"Ngapain Mi nanti di apa-apain lagi sama Tante Lena!"


"Ha? emang tante Lena ngapain Ummi?" Izzam jadi lenasaran dan menghentikan langkahnya.


"Nggak kok Bang, salah paham aja, ayo!" Mita pun menengahi pembicaraan, Mita tidak ingin Izzam tau, yang nantinya malah berakhir di penjara juga kayak Tami.


"Nanti kalau dede bayi udah besar pengen di namai apa sayang?" Ucap Izzam lada Mita.


"Papah, aku mau adik perempuan, biar bisa bermain boneka dan jual-jualan." Jawab Ayana


"Sayaaaang, Papah mau anak laki-laki, bjar nanti bisa ganti in Papah mengelola perusahaan kita." Ujar Izzam.


"Tapi ank laki-laki nggak asyik Pah buat jadi in teman." Ujar Ayana lagi terlihat masam.


"Ayo, sudah sampai."


*


*


*


"Hah? mobil Izzam? mau apa mereka ke sini? jangan-jangan, ah tidak." Lena panik dan masuk ke kamarnya.


"Ada apa yank? kok mukanya pucet?" Fasha yang sedang berbaring santai kaget melihat istrinya masuk kamar dan gugup.


"Anu Mas, aku sakit perut, mungkin mau datang bulan Mas, aku mau rebahan." Lena pun berbaring di samping suaminya dan meringkuk memegangi perutnya, seakan-akan dia sangat kesakitan.


"Sudah minum obat?"


"Mau tidur aja Mas."


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum, Fasha, kau di rumah." Tiba-tiba suara Mita terdengar dari depan rumah.


"Kakak Mita, Len ayo minum obat dulu, itu ada Kakak."


"Kau saja Mas, aku sakit perut."

__ADS_1


"Wa alaikum salam, Kak, ada apa kok repot-repot kesini?" Fasha pun keluar dan membukakan pintu.


"Kakak bosan di Kastel Dek, Lena mana?",Mita pun mencari-cari ipar misteriusnya itu.


"Di kamar kak, katanya sakit perut, mungkin mau datang bulan gitu katanya."


"Ooh, sejak kapan?" Mita tampak penasaran.


"Baru aja kok, tiba-tiba sakit perut, kakak mau minum apa?"


"Tak usah repor-repor."


"Kak ini makanan buat Kakak dan Kak Lena." Zila pun membawa wadah bertingkat berisi lauk pauk ke dapur.


"Makasih ya Zila sayang, gadis cantik sekarang udah besar, kapan balik Yaman?" Basa-basi Fasha.


"Seminggu lagi Kak."


"Sayang, aku mau keluar sebentar, ke kantor polisi, nanti aku jemput sebelum magrib ya." Izzam pun cipika cipiki istrinya.


"Baik Bang, hati-hati."


"Zila, ajak Kakakmu makan di dapur, Ayana, kamu juga temenin Oom ya, Ummi mau ke kamar sebentar.


"Baik Kak." Zila dan Ayana pun ke dapur,,Mita sengaja menyuruh mereka karena Mita ingin menemui iparnya.


Tok tok tok


Ceklek


"Aku masuk."


Mita pun masuk Ke kamar, Lena yang terlihat tidur membelakangi pintu.


"Lena, aku ingin bicara."


Ucap Mita, entah mengapa Mita yakin bahwa Lena hanya pura-pura sakit saja. Sepertinya Lena mengetahui perihal kedatangan Mita, Firasat Mita sih gitu.


"Lena, aku merasa ada yang kau sembunyikan, siapa kau sebenarnya? kecelakaan di kolam renang itu bukankah kau sengaja?"


Mita pun duduk di tepi ranjang, dan menatap wajah Lena, terlihat dari mata Lena bahwa dia hanya tidur bo-ongan.


"Aku hanya mengingatkanmu, kalau kau di suruh orang lain melakukan ini, maka berhentilah? kau tidak tau sekuat apa Izzam suamiku bertindak kalau dia sampai tau, kau bisa berakhir di penjara seperti Mbak Tami, apakah Tami yang menyuruhmu?"


Lena terlihat mengucurkan keringat dingin karena gugup. Mita pun tersenyum.


"Ingat! jangan sampai terulang lagi, kalau kau menyakiti aku, mungkin aku bisa saja memaafkanmu, tapi kalau sampai menyakiti adik atau calon bayiku ini, lihat saja nanti."


Tap


Tap


Tal


Mita pun keluar dan menuju kamarnya.


Brak


Dia menghempaskan tubuhnya di kasur yang sangat empuk. Sementara Lena.


Bagaimana ini, apa aku harus berhenti sampai disini? tapi aku tidak akan dapat apa-apa kalau berhenti sekarang. Lili berjanji, kalau aku bisa menggugurkan bayi itu, maka aku akan dapat sebuah perusahaan kecil di pinggiran kota. Aku tidak perduli, aku harus tetap melancarkan aksiku, bagaimana pun caranya.


Lena pun menyimbah selimut yang menutupi tubuhnya, dan turun dari atas ranjang membuka pintu


Ceklek

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2