
Kali ini Hanan benar benar di bikin panik tingkat langit(langit itu tinggi ya, karena dewa tidak ada bagi umat islam, jadi mengambil perumpamaan yang ada aja😁)
Dia kembali ke teras dengan badan basah kuyup.
"Ada Nan?" Tanya Mita yang juga panik.
"Jadi apa ini maksudnya, Lili, apa,benar Hanan ini ayah Qiara?" Tanya Izzam yang juga terlihat Syok.
"Benar pah." Lili menunduk pura pura tak enak, padahal kali ini dia merasa menang banyak. Apakah papahnya akan menikahkannya? itu yang ada di benak Lili.
"Huh, takdir macam apa ini?" Keluh Izzam.
"Bang, nggak baik ngomong gitu. Mungkin ini ujian bagi rumah tangga Zila dan Hanan." ucap Mita, Mita pun masuk ke dalam rumah untuk melihat Ezra, Mita pun masuk ke kamar dan menggendong Ezra yang terbangun.
"Bagaimana ini kak?" Fasha tampak begitu khawatir, dia pun mengambil kunci motornya.
"Kau mau ke mana Sha?" teriak Mita melihat Adiknya sudah mengendarai motor maticnya di tengah derasnya hujan.
"Aku tidak akan berdiam diri kak." Dia pun keluar menyusuri jalanan kota mengarah jalan pulang menuju rumah Hanan.Sementara Hanan oun menaiki mobilnya dan pergi arah berlawanan dengan Fasha.
benar benar malam yang kacau.
'Hello, Mah? kalau Zila pulang, tolong kabari.' Telpon Hanan pada mamahnya.
'Hah, bukankah kalian pergi berdua?' Tanya mamahnya heran.
'Nanti aku ceritain, Zila sedang hamil mah, sekarang dia merajuk.' Tuut
"Hamil? Zila hamil dan merajuk?" Mamah Hanan menggumam sendiri. dia pun tersenyum bahagia, belum tau ceritanya siiih.
Hanan terus menyusuri jalan, namun tidak menemukan Zila. Sementara tampak Zila sedang berbaring anteng di suatu tempat yang terbuka. dia menatap air yang berguguran di depannya. Dia terus terisak.
Apakah Babang akan mempoligami aku? hik hik hik. baru kali ini aku merasa runtuh. Tidak, aku tidak akan mau di poligami. tapi? bagaimana dengan Qiara? bagaimana kalau dia besar nanti dan menanyakan ayahnya. ooooh. isssssssh
Dia menggumam dan berdesis sendiri. sambil mengucek2 kepalanya kasar. Malam semakin larut. akhirnya dia pun tertidur di atas bangku panjang dengan di temani nyamuk nyamuk nakal.
**
**
**
Semalaman Hanan tidak tidur, setelah menyusuri jalanan dia pun kembali ke kastel Izzam dan duduk di teras rumah dengan di temani berpuluh puluh kopi. Sedang Fasha tampak tertidur di depan televisi.
Pagi ini pun heboh kembali meneruskan pencarian Zila yang belum ketemu.
tepat jam 06.30 pagi.
"Tuaaaan, Nyonya, Nona Zila ada di sini." Teriak dari ruang kolam renang.
Hanan yang mendengar itu langsung melompat dan berlari menuju area kolam renang yang ada di samping rumah.
"Zila...sayang (Hap memeluk erat sambil menangis) maafkan aku, sayang."
__ADS_1
"Uaaaah, Babang, ada apa? hoh(memindai sekitar dengan mata aneh) kenapa aku di sini?." Zila belum sadar betul apa yang terjadi tadi malam.
Hap
Hanan menggendong Zila dan membawanya setengah berlari menuju teras.
"Hey, mau kemana kau bawa adikku." Teriak Fasha yang baru bangun mendengar keributan.
"Hanan tunggu!" Mita tak kalah seru dia berlari mengiringi Hanan dan menanyakan kemana dia akan membawa Zila.
"Kami akan pulang, biar semuanya nanti saya selesaikan di rumah." Ucap Hanan.
"Tidak! iarkan Zila di sini, aku takut kau akan mencelakainya." Ucap Fasha sambil berlari ingin menangkal Hanan.
"Jangan! biarkan." Ucap Mita. sambil mencengkram tangan Pasha
"Kakak," Protes Fasha.
Mita hanya menggeleng, menandakan tidak usah ikut campur.
Hanan pun membawa masuk Zila ke mobil dan menghidupkan mesin mobilnya. Meluncur menuju kediaman Hanan.
"Bang, aku belum sholat subuh." Ucap Zila.
"Nanti di rumah," Balasnya
"Tapi ini udah kesiangan Bang." balas Zila lagi.
"Babang ngapain ikut?" katika menyadari Hanan yang mengikutinya di belakang.
"Aku takut kamu lari." Ucapnya.
"Ih, berlebihan, mana bisa aku lari dari suami yang sangat tampan begini." Zila pun tersenyum sambil malu malu mengucap kata tersebut. Namun lain dengan Hanan, kata kata itu bahkan menandakan dia akan di tinggalkan.
Zila pun sholat, selesai Sholah kembali kemobil dengan di iringi Babang ganteng yang bonyok. Zila belum sadar kalau Hanan sudah bonyok, karena dia berusaha menata hati agar tidak marah, jadi dia belum menatap wajah suaminya.
"Mau makan dulu? mungkin perjalanan kita akan lama." ucap Hanan.
"Ah, lama, paling juga 20 menit, makan di rumah aja, aku udah rindu masakan Bibi. Hemmm." Tanpa sadar dia mengelus perutnya dan membayangkan masakan Bini yang rasanya luar biasa di bibir Zila. bawaan Ngidam kale ya.
Hanan yang melihat istrinya seperti kelaparan segera mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di rumah, Hanan langsung menggendong kembali istrinya. saat inilah Zila menyadari bahwa Hanan sedang terluka.
"Babang, kok wajahmu bonyok, apa kak Fasha memukulimu?" Hanan hanya mengangguk. Hanan membawa tubuh Zila memasuki dapur. Dan membuka tudung saji.
"Hanan." Mamah yang mendengar kedatangan Mereka pun segera menyusul ke dapur.
"Ayo makan, aku akan ke atas dulu mau mandi." Hanan pun mengambilkan lauk pauk dan meletakkan di depan Zila, Zila yang memang terlihat lapar pun menyantapnya dengan lahap.
"Sayang, laper? makan yang banyak ya? hati hati, nanti kamarmu pindah ke bawah aja ya?" Ucap mertuanya, sambil menatap Zila dengan penuh kasih sayang dan bahagia.
"Iya mah." Zila terus mengunyah sampai makanannya sudah habis.
__ADS_1
"Mah, aku ke atas dulu ya, mau istirahat sebentar lalu mandi." Ucap Zila seakan tak terjadi apa apa.
Zila pun pergi dengan hati yang sudah tenang. Tangisnya tadi malam mungkin sudah menghilangkan sedikit luka.
Ceklek
Zila membuka pintu.
"Lho? Bang, kenapa mengemas pakaian ke koper? emang mau ke mana?" Zila Heran ketika melihat 2 buah koper sudah berada di depan lemari, dan bahkan baju Zila pun sudah berpindah ke sana.
"Cepat mandi, kita akan berangkat."
Ucap Hanan sambil memasukkan beberapa baju miliknya ke koper satunya.
"Pergi? mau kemana?"
Tanya Zila heran.
"Ayo.." Hanan mendorong sambil memeluk tubuh Zila memasuki kamar mandi.
"Aku baru makan Bang, kok mandi?" ucap Zila lagi.
"Nggak papa, sesekali. ayo!" Zila dan Hanan sudah di kamar mandi yang sama.
Set set set
Kini Zila sudah tidak berpakaian lagi kecuali pakaian dalam.
"Babang, ih, kenapa sih?",Zila jadi jengkel sendiri.
Byur byu byur
Zila oun di mandi i oleh Hanan di sabuni dll, selesai mandi di dandani dengan baju yang paling cantik menurut Hanan.
Tap
Tap
Tap
Mereka menuruni anak tangga dengan pelan.
" Hanan, Zila, mau kemana lagi kalian, kok bawa koper gede?" Mamah Hanan bingung.
"Nanti kalau sudah sampai aku kabari ya mah, kami mau bulan madu," Setelah salim cipika cipiki Hanan yang sudah memakai Topi dan kacamata juga maskernya pun pamit.
"Tapi nggak baik bagi kesehatan Zila klo bepergian jauh Nak?" Ucap mamahnya.
Zila hanya menuruti. walau pun dalam bingungan.
"Insyaa Allah doakan saja aman maaah." Sahut Hanan sambil membawa kedua koper di tangannya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1