Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Awal Mula part 1


__ADS_3

Malam pun tiba, Izzam dan Mita bingung, kalau langsung pulang ke rumah pasti orang rumah akan syok, mereka memutuskan tidur di hotel. Hanan pun tak mau kehilangan, dia juga menyewa kamar Hotel di samling kamar Zila ckck. Hanan dan Hamzah tidur sekamar, sedang Zila sendirian, sedang Izzam tentu saja tidur dengan sang pujaan hati.


"Sayang, kamu jangan pergi lagi ya! kalau sampai kamu menghilang, aku bersumpah akan bunuh diri."


"Hey, nggak boleh ngomong gitu Bang? nanti di dengar syoithon lho." Mita pun mengelus pipi suaminya. Sementara Izam mengelus-elus parut datar istrinya, dia pengen sekali mempunyaj anak.


Kediaman Lili.


"Li, kamu yakin nggak mau balikan lagi sama Ahyar? dia kan baik Li, lagian dia juga bisa di manfaatkan untuk jagain Qiara." Ucap Tami pda Lili, mereka sedang bersantai di teras rumah.


"Nggak ah mah, lagian Qiara juga bisa Kok sama bibi, aku males tinggal sama orang cupu kyak dia." Jawab Lili lagi.


"Bagaimana kalau Papamu datang, dia pasti marah." Tanya Tami lagi.


"Nanti lah ku urus itu mah, sekarang aku fokus pada perusahaan kecil itu aja."


"Tapi kan perusahaan itu, papahmu berikan untuk hadiah pada Ahyar, karena telah mau menikahimu!" Tami pun memperingatkan.


"Ah mamah, jangan pikirkan itu, aku kan anak papah, nggak mungkin kan papah menendangku dari perusahaan itu?"


Tami pun menghela nafas dalam.


Andai kau tau, bahwa kau bukan anak Mas Izzam, mungkin kau akan sedikit berhati-hati, tapi dari dulu kami sudah berjanji untuk tidak mengungkit masalah ini di depanmu. Tapi bagaiman kalau malah Mas Izzam yang tidak bisa menyimpan rahasia ini, dan menendangmu dari perusahaan, ah aku jadi bingung harus berbuat apa.


Gumam Tami


#Flashback#


Mansion Mahendra.


"Izzam, usiamu sudah menginjak 27 tahun, baiknya kau cari pasangan dan memulai belajar memimpin perusahaan Papah." Pak Mahendra Ayah Izzam berbicara lantang pada anaknya, karena di luar sedang hujan.


"Aaah, Papah apaan sih, belum 30 juga Pah, lagian Aku masih ingin menikmati masa lajang, walau pun tidak menikah kan masih banyak tu wanita yang bisa ku ajak kompromi, kalau harus menikah ribet Pah."


Jawab Izzam, dia pun berdiri melangkah pergi.


"Izzam, mau kemana kamu? jangan sampai kamu jajan di luaran, bahaya, nanti kamu bisa terkena virus Zam!"


Papahnya berteriak, dia bingung menghadapi anak satu-satunya itu.


"Tenang Paaah, ada pengaman kok." goda Izzam pada Papahnya, Izzam walau pun lelaki amburadul, dia tidak pernah menyentuh wanita mana pun, apalagi wanita murahan.


Izzam pun sudah hilang di balik pintu.


"Pah, ada apa? kok teriak-teriak."


Istri Pa Mahendra muncul dari dapur dan menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Izzam Mah, aku tambah bingung menghadapi dia, di suruh menikah malah berpoya-poya dengan wanita murahan, aku takut kalau dia terkena penyakit kelamin." Pa Mahendra pun menuju kamarnya. Sang Istri mengikuti.


Sementara Izzam tampak melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di tengah derasnya hujan. Tepat jam 20.00


"Siapa wanita itu? berjalan malam-malam sendirian di tengah derasnya hujan, aneh," Gumam Izzam, dia pun menjalankan mobilnya sangat pelan, dan melewati wanita iti, Izzam melirik wanita itu dan terkejut.


"Hamil? apa dia sedang hamil?" Izzam pun terus berjalan, namun setelah berjarak 50 meter pikirannya tak tenang, mungkin masih ada sisi kemanusiaannya.Dia pun kembali dengan memundurkan jalan mobilnya, dan berhenti di samping wanita itu.


"Hey, kenapa kau hujan-hujanan, nanti kau sakit." Wanita itu terus berjalan sambil membawa tas kecilnya.


"Hey, apa kau mau ku antar ke suatu tempat?" Izzam pun mengiringi wanita itu dengan menjalankan mobilnya sangat pelan. Wanita itu masih diam.


"Baiklah, kalau kau tidak mau ku tolong, aku akan pergi." Izzam pun pergi meninggalkannya dengan sedikit melajukan kecepatannya.


"Tunggu!" Wanita itu melambai, terlihat dari kaca spion Izzam, Izzam pun berhenti.


"Tolong aku, hik hik hik." Wanita itu menangis, Izzam pun menyuruhnya masuk.


"Dimana rumahmu?" Izzam.


"Aku tidak punya rumah, aku tidak punya siapa-siapa." Jawab wanita itu.


"Kau sedang hamil, tentu kau punya suami kan?" Tanya Izzam lagi.


"Hik hik hik, aku di telantarkan, dia memilih wanita kaya raya dari pada aku dan bayinya."


"Tami Anjani,"


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke Apartemenku, mungkin kau bisa diam di sana untuk sementara." Mereka pun melaju di jalan yang terlihat sepi.


"Kita berhenti sebentar di toko baju, untuk membeli keperluan mu"


Mereka pun berhenti di sebuah Toko baju, dan hujam lun sudah reda. setelah membeli beberapa baju yang menurut Izzam cocok untuk Tami, dia pun memborong 1 lusin baju sekaligus.


"Mas, kok bajunya banyak banget,"


"Sekalian buat 3 hari, nanti baju kotornya di londrey aja." Ucapnya.


Mereka pun sampai Apartemen.


"Ayo kamu ganti baju dulu."


Tami pun masuk kamar mandi untuk mengganti baju.


"Mas, bisa minta tolong nggak?" Ucap Tami dari dalam kamar mandi.


"Apaan?" Izzam pun mendekati kamar mandi.

__ADS_1


"Tolong lepasin baju saya, lengket di badan karena basah Mas, saya nggak bisa melepasnya." Ucapnya.


Ceklek


Tanpa ragu Izzam pun masuk, dan mendapati Tami sedang menghadap pintu kamar mandi. dengan baju sudah berada di tengah dada menutupi dada hingga kepalanya. Izzam lun meneguk salivanya, Buah yang masih ranum, Tami saat ini masih berusia 20 tahun. masih padat berisi.


"Mas, tolong." Suara tami membuyarkan perhatiannya.


"Iya." Izzam pun melepaskan baju Tami, namun ketika dia mengangkat baju tinggi ke ujung tangan Tami, malah dadanya bersentuhan dengan d*** Tami yang kenyal. Tak dapat di pungkiri, gairahnya pun muncul tiba-tiba.


Karena ini bulan puasa, maaf ya alur ceritanya nggak di perpanjang. takut pamirsa khilaf.


Pagi menjelang.


"Huaaaah." Tami tampak sudah bangun.


"Kau...kau siapa? Oh apa kau tuan itu!" Tami terbelalak dia sudah tidak menggunakan pakaian lagi.


"Kau? ooh hik hik hik." Tami pun menangis.


Izzam pun bangun.


"Apa yang terjadi.oh apa kita? ah sial!" Izzam menatap wanita yang membelakanginya itu tajam. Dia pun berdiri dan mandi. Setelah selesai dia lun pamit.


"Aku harus pergi, semua keperluanmu akan aku kirim kesini."


Sejak saat itu Izzam sering menjenguk Tami di Apartemennya, dan benih-benih cinta pun timbul begitu saja.


Suatu hari di kediaman Mahendra.


"Assalamualaikum," Tami dan Izzam memasuki Mansion keluarga Mahendra. Tami pun dengan sopan mengucap salam, tidak seperti Izzam dia asal masuk.


"Wa alaikimussalam." Mamah Izzam sedang duduk santai di ruang tamu.


"Papah mana Mah?" Izzam pun mencari Papahnya, karena dia berniat memperkenalkan Tami dengan keluarganya.


"Di kamar." Izzam pun memanggil Papahnya, sementara Mamahnya memperhatikan Tami, wanita yang di bawa Izzam sedang hamil sekitar 5 bulanan. Izzam dan Pa Mahendra pun datang. Mereka duduk bersama di ruang tamu.


BERSAMBUNG....


Jangan lupa Like nya ya,


komen boleh juga, karena bisa saja komenan akhwat ikhwan akan saya jadikan cerita di episode kemudian. Saya Author yang baik juga terkadang jahat supaya ceritanya seru.


Maaf kalau kadang ada salah nama, Authornya pelupa😄


Terkadang Author merindukan kritikan komenan kalian di kolom komentar, walau pun kritikan pedes sekalipun😄 karena kritikan bisa menjadi ide di kepala Author lho, terimakasih buat Mbak Sadrianty Lahari, idemu aku terima, Walau pun harus memutar Otak menjadikan Lili itu bukanlah anak kandung Izzam.

__ADS_1


__ADS_2