Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Candu


__ADS_3

Mereka pun sudah sampai di kampung Mita. Mita mengambil kunci dibawah pot yang lumutan, Ayana menatap sedikit geli pada Mita karena menyentuh tanah berlumut.


"Mi, itu kotor Mi!" Ayana pun akhirnya berkomentar.


"Nanti kan bisa di cuci sayang Tangannya."


Mereka pun masuk kedalam. Sementara Izzam masih menatap sekeliling kontrakan kecil itu dengan tatapan tidak suka. Banyak lumut di sekitar dinding bawah, dan juga cat yang mengelupas.


"Kakak Ipar mana?" Zila pun celingukan kembali ke depan pintu, namun dia tak menemukan kakak iparnya.


"Ayana, kamarnya cuma dua, jadi kita tidur sekamar bertiga ya? kamar sebelah punya kakak Fasha, kakak Fasha nya lagi bekerja." ucap Mita. Mita melihat ada sorot mata Ayana sedikit risih, namun dia coba menyembunyikan nya.


"Iya Mi"


Sementara di ujung jalan.


" Pa, Rumah Pak Rt nya dimana ya?" Izzam bertanya pada bapak tua yang sedang lewat.


"Di ujung jalan sana, belok kanan ada rumah warna biru pak! "


Izzam pun menuju arahan yang bapak bapak tunjukkan tadi,akhirnya dia menemukan nya.


Tok tok tok.


Ceklek


"Ada apa pak?" Seorang laki laki muda 30 tahun keluar dari rumah.


"Apa ini rumah Pak Rt?"


"Benar..."


"Pak ada tamu..!."


"Silahkan masuk Mas... ! "Ujar laki-laki itu.


Izzam pun masuk dan duduk menunggu tuan rumah keluar.


"Ada apa Tuan?" Seorang laki-laki paru baya keluar, tampak berwibawa dan teduh.


"Begini Pak,saya suami Mita yang tinggal di kontrakan sebelah, kami baru menikah, jadi saya ingin mencarikan dia rumah daerah sini, apakah ada rumah yang mau dijual di sini?" Tanya Izzam.


"Oh ya! kebetulan sekali! di sana ad Rumah yang mau dijual, kalau Tuan mau melihat, biar ayar yang menemani......


"Ahyar, tolong temani Tuan ini ke rumah Bu Inah! "


Ahyar pun muncul, laki laki yang tadi menyambut kedatangan Izzzam.Dia pun tersenyum dan mengajak Izzam berangkat pakai motor karena lumayan jauh sekitar 100 meter. Mereka pun sampai di tujuan.



"Ini pak Rumahnya." Ayar memarkirkan motornya.


"Wow, bagus dan asri, dimana aku bisa bertemu pemiliknya?" Izzam sangat bersemangat.


"Mari Pak kita ke rumah Bu Inah! " Mereka pun langsung cus ke rumah bu inah.


Tok Tok Tok.


"Assalamualaikum, Bu Inah?"Ayar pun mengetuk pintu Bu Inah.


Ceklek.


" Eeh nak Ahyar! ada apa, Waalaikum salam?" bu inah.


"Ini Bu mau nanyain soal rumah ibu yang mau di jual" Ahyar


"Apakah ibu masih mau menjual rumah itu?" izzam.


" Iya, apa anda berminat? mari masuk dulu!" bu Inah.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam rumah bu Inah yang terlihat lebih kecil dari yang ingin dijualnya. Tapi masih tertata rapi.


setelah berbicara panjang lebar dan menceritakan maslah keuangan nya akhir akhir ini gara gara suaminya sakit sakitan, jadi dia memutuskan untuk menjual rumah itu yang baru dibangunnya.


"Jadi berapa anda mau menjualnya?" Izzam pun ingin cepat cepat tau harga Rumah itu.


"Aku menawarkan 350 juta, tapi masih nego siiih." ucap Bu Inah.


"Oke, aku akan membeli 350 juta tunai, tapi aku mau melihat surat suratnya!"


Setelah mencek semua surat menyurat.


"Oke! Bisa aku minta no rekening mu?" Izzam senang, dia bisa membeli rumah baru buat Mita, rumah yang bagus rapi tapi murah menurut Izzam.


Ahyar pun membantu ke loket bank terdekat, dan menyelesaikan pembayaran.


"Mas Ahyar! terimakasih banyak hari ini, kau telah membantuku,sebagai ucapan terimakasih, ini terimalah hadiah dariku! " Izzam pun menyerahkan amplop yang berisi segepok uang tanpa ragu, orang kaya mah bebas😃.


"Maaf Pa, tidak usah, saya ikhlas kok!" ucap Ahyar menolak halus.


"Nggak asyik nih anak, saya malah susah nanti kalau minta tolong lagi, dikira mau yang gratisan terua! ayo terima!" Desak Izzam.


"Saya jadi tidak enak ni Pa." Ucap Ahyar sambil menerima amplop.


"Saya minta bantuan lagi boleh? tolong carikan mobil untuk pindahan istri saya dan adik adik saya!" ucap Izzam lagi.


"Baik Pa, dengan senang hati." Ahyar pun mengantar Izzam ke kontrakan Mita. Sesampainya di sana ternyata mereka sedang bersih bersih.


"Mita, tidak usah diteruskan, kita akan segera pindah!" Izzam mengambil sapu di tangan Mita.


"Lho, Abang dari mana? sejak tadi dicari cari nggak nongol nongol!" Mita pun menanyai Izzam karena baru muncul.


"Tunggu sebentar, kalian akan tau!" ucap Izzam.Tak berapa lama, pik up pun datang.


"Lho, untuk apa mobil itu bang? kaya handak pindahan aja." Ucap Mita bingung.


"Ayo semuanya! kita masukan barang barang yang masih layak, selebihnya buang saja." ucap Izzam santai.


" Ada apa Mi?" Ayana.


"Tau tuh papah mu, aneh" Mita


"Kak ipar mau ngapain bawa pik up" zila


"Ayo! masukkan saja barang barang, kita akan pindah rumah 100 meter dari sini! " ucap Izzam lagi.


"Apa rumahnya bagus Pah? " Ayana berkomentar.


"Tentu saja! " Izzam terlihat bangga


"Horeee horee horeee, ayo Mi berangkaaat!" Ayana sangat senang. Mita dan Zila pun mengambil keperluan yang layak pakai dan memasukkannya ke mobil. Semuanya sudah beres dan mereka pun berangkat.


Tak berapa lama, mereka pun sampai ditujuan.


"Wow ! itu Rumahnya ya Pah?" Ayana kagum dengan Rumah yang mereka singgahi begitu juga Mita dan Zila.


"Ini beneran nih bang, ini kan rumah Bi Inah?" ucap Mita heran.


"Aku sudah membelinya barusan, ayo turun ! " Mereka semua turun dan masuk ke rumah tersebut.


"Semuanya ada 4 kamar, kamar utama kamar aku dan Mita, kamar ke dua zila dan Ayana, kamar ke tiga kamar fasha , sedang kamar ke empat adalah kamar tamu atau mungkin pelayan."


"Lho pa, kenapa Ayana sama tante Zila?" Protes Ayana pada Papahnya.


"Kamu mau adik bayi nggak?" Ucap Izzam Asal.


"Ih, apaan sih?" Ucap Mita kesel, dan malu, kan ada Zila tuh.


"Mau mau..."Ayana sangat senang mendengar papanya.

__ADS_1


Mereka pun beres beres dan merapikan semuanya, setelah selesai mereka pun mandi.


"Abang jam berapa pulang?" Ucap Mita saat berada di kamar utama.


"Emang kenapa? apa kau, menyuruhku pulang?" Tanya Izzam terlihat melirik kearah Mita yang sedang memasukkan baju ke lemari.


Sedang Izzam berbaring.


"Bukan begitu bang, Lili kan sedang hamil, kasian, sendirian." ucap Mita merasa tak enak.


"Iya setelah ini aku akan pulang."


Tap tap tap.


kreek kreek.


Izzam tampak mengunci pintu dari dalam, Mita pun heran. Setelah itu Izzam mendekati Mita dan memeluknya dari belakang.


"Apa sudah bersih?" Izzam melingkarkan tangannya di tubuh istri mungilnya.


"Su-sudah bang." Mita tampak gugup, Izzam pun memandu Mita untuk naik ke ranjang.


"Aku sudah tak tahan! " Izzam pun melepas kerudung Mita dan melemparnya jauh, Mita hanya terdiam. Izzam memulai pemanasan dengan sangat mesra.


"Ba-bagaimana kalau ada yang datang?" Mita merasa khawatir kalau mungkin Ayana si gadis mungil itu kembali mengganggu mereka.


"Jangan jawab! cukup diam! " Izzam terus mencumbu istrinya, dan mulai melepas semua pakaian Mita, dan melemparnya ke lantai.


Cup


Cup


Cup


cut


.....


.....


🥀🥀🥀


Setelah beberapa saat mereka pun selesai dengan bermandikan keringat. Terlihat juga bercak darah di sprei itu. Izzam kaget saat pertama tadi, dia begitu kesulitan memasukinya, ternyata dugaannya dan dugaan Tami salah.


"Sayang, maafkan aku, yang meragukan dirimu sebelumnya."


Cup cup cup


Izzam memeluk tubuh istrinya dan terus terusan menciuminya.Mita pun menenggelamkan kepalanya di dada berbulu suaminya, yang 10 tahun lebih tua darinya.


Tring


Hp Izzam berdering.


("Hello sayang,")


("Papah, kau dimana? apa papah tidak pulang?")


("Lili, papah akan pulang sebentar lagi.")


("Baiklah, daaah.")


Izzam pun berdiri dan menuju kamar mandi yang ada dikamar utama. Setelah selesai mandi giliran Mita yang masuk.Tak perlu waktu lama Mita pun selesai.


"Sayang," Tiba-tiba Izzam memeluk tubuh Mita, Mita pun mematung.


"Jangan lama lama ya? 2 Hari saja disini! aku pasti sangat kangen, sebenarnya aku pengen disini, tapi kasian Lili." Ucap Izzam, dia seperti tidak ingin lepas dari Mita.


"Kasian Zila bang." Cuma itu yang bisa Mita katakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2