Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Pingsan


__ADS_3

Yang di nanti pun tiba. Hanan kembali ke apartemen dengan membawa amplop tebal dari kantor tempat dia bekerja.


Ceklek.


"Pearl! kau di dalam?" Hanan mencari kepelosok kamar namun tak menemukan Zila.


Ceklek.


"Zila, sayang...kau kenapa?" Ternyata Zila terduduk di kamar mandi dalam keadaan pingsan. Hanan panik dan langsung mengangkat Zila membawa keluar dan memesan taksi, lalu membawanya ke klinik terdekat.


Tap


Tap


Tap


"Tolong istri saya, tolong sus." Hanan sampai meneteskan air mata.


"Tenang dulu Tuan, kami akan menanganinya." Ucap suster tersebut.


"Tunggu, aku ingin hanya wanita yang melayaninya,." Ucap Hanan.


"Tentu Tuan, di sini kami melayani sesuai jenis kelamin seseorang." Ucap suster itu.


Hanan pun lega.


"Zila sayang, tolong jangan begini, bangun! emch emch." berulang ulang Hanan mengecup punggung tangan Zila yang sedang pingsan.


"Maaf Tuan, kami akan memberinya infus." Suster itu pun meraih tangan Zila dan menusuk jarum ke dalam kulit Zila, membuat Hanan meringis melihatnya.


"Sus, pelan pelan." Ucap Hanan. Suster yang mendengar pun tersenyum geli.


Setelah memasang infus suster itu pun memeriksa tekanan darah Zila.

__ADS_1


"Tuan, kelihatannya dia kelelahan, apa dia sedang hamil?"


Tanya suster itu, karena Hanan belum memberitahukan. tali Suster tentu saja sudah tau dari denyut nadinya.


"Iya Sua, dia sedang hamil 2 bulan kurang lebih." Ucap Hanan.


"Apa dia pekerja?" Tanya suster itu lagi.


"Oh, tidak Sus, dia hanya diam di rumah, kami bru pindah seminggu yang lalu, mungkin dia kelelahan di perjalanan, kami dari indonesia." Ucap Hanan membela diri, dia tidak mau di kira mempekerjakan istrinya.


"Ooh, mungkin kelelahan beres beres, baiklah, dia harus banyak istirahat, tidak boleh lelah tenaga dan lelah pikiran, harus rileks." Ucap Suster itu lagi.


"Baik. Terimakasih Sus." Suster itu pun pergi.


Sayang, apakah kau masih memikirkan masalah Qiara? Oooh Tuhaaaan, mudahan Qiara bukanlah anakku, tapi malam itu ketika pagi, aku melihat darah keperawanannya. berarti memang aku dooong pelakunya.


Lirih hatinya.


🌻


🌻


🌻


"Bagu, aku setuju, bagaimana kabar Zila di Tarim? apakah merwka benar benar akan menetap di sana," Tanya Izzam kembali.


"Zila ingin pulang, namun Hanan menolak, dia benar benar menutup mata untuk Lili dan Qiara, menurut Zila, Kalau Qiara anak Hanan, maka dia harus bertanggung jawab, bahkan Zila rela di madu kalau itu perlu." Ucap Mita terdengar sedih.


"Ck ck ck, sekuat apa emang hati wanita itu? di madu, emang nggak pahit apa?" Izzam mengeratkan pelukannya di tubuh Mita.


"Entah? aku juga tidak mengerti, mungkin karena tauhid tasaufnya atau apalah itu namanya udah sampai, da hanya merasa di pinjamin gitu." Jawab Mita.


"Kalau kamu gimana? kalau aku menikah lagi?" Canda Izzam namun dengan wajah serius.

__ADS_1


"Ho? apaan? mana laku, udah bau tanah gini ah." Mita pun menjauh mendorong tubuh Izzam.


"Hahahaha."


Hap


"Sini, becanda lagi." Izzam tertawa lepas tanpa beban.


"Ogah, aku tak sekuat dan se alim Zila lho Bang, aku hanya mantan wanita malam yang mencoba merubah keadaan." Mita pun berdiri dan mengambil satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai karena tadi sempat ada ****** beliung.


Ceklek


...


...


...


Byur byur byur.


Mita membersihkan diri di kamar mandi.


Ceklek


Dia mengambil mukena dan menghampar sajadahnya. Setiap untaian doa slalu dia mintakan untuk kedamaian keluarga kecilnya.


Jam 04.00


Izzam sudah tertidur ketika Mita selesai Sholat.


Besok, aku akan mengambil rambut Qiara dan meminta Mama Hanan untuk tes


Lirih Mita.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2