Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
TERLUKA


__ADS_3

5 bulan sudah berlalu, sejak Tami berada di rumah itu, Izzam pun terlihat biasa saja dengan keberadaan Tami, bahkan Izzam juga membiayai pengobatan kanker servik Tami hingga saat ini. Tami terlihat mulai sehat dan jarang mengeluh tentang sakitnya.


"Mas, apa aku boleh bekerja di kantor Mas lagi, sekarang aku sudah mulai sehat."


Ucap Tami sambil merapikan meja makan, dan mengambilkan nasi untuk sarapan. Mita sering kalah cepat dengan Tami dalam hal melayani di meja makan, karena Mita sudah hamil besar.


"Nanti akan aku bicarakan lagi dengan Mita." Ucap Izzam.


"Lho, kenapa harus izin dengan Mita, bukankah itu Perusahaan mu, kau membangunnya saat kau hidup denganku, bukan saat dengan dia!" Tami tampak emosi karena cemburu, segala sesuatu pasti harus dengan persetujuan Mita


"Karena aku tidak ingin dia salah paham, apalagi dia sedang hamil anakku, aku tidak mau dia berpikir yang tidak baik tentang hubungan kita, kau hanya ibu dari anak-anakku, bukan lagi istriku, kau harus sadar itu!" Izzam pun terlihat emosi. Tami pun diam.


Baiklah Mas, sampai kapan kau mampu menahan godaan dari ku.


Tami pun tersenyum licik. Akhirnya Tami pun duduk dan makan di samping Izzam.


Tap.


Tap.


Tap.


"Bang, hari ini pulang jam berapa?" Tiba-tiba Mita datang dan duduk di samling Izzam.


"Emangnya kenapa sayang?" Izzam sengaja berkata mesra dan menjulurkan tangannya untuk memeluk istrinya, namun dasar si mita yang suka nggak enakan, dia hanya menyanbut tangan Izzam lalu duduk di sampingnya.


"Aku dan Lili mau periksa kandungan Bang!"


"Baiklah, aku hari ini akan pulang cepat." Izzam pun berdiri dan meraih tangan Mita dan membawanya berjalan menuju teras untung mengantarnya pergi bekerja. Izzam pun mengecup kening istrinya mesra.


Awas kau Izzam, kau pasti akan ku taklukkan.


Batin Mita. Matanya terlihat tersulut emosi menyaksikan pemandangan itu. Dia pun berjalan ke kamar dengan tergesak-gesak, dan segera keluar.


"Mas tunggu! aku ikut, aku mau ke toko." Ucap Tami mencari kesempatan.


"Kamu naik taksi aja!" Izzam tak mau Mita merasa cemburu atau salah paham. Dia pun menyuruh Tami naik Taksi.


"Sekalian aja bang, nggak papa kan?" Dasar Mita, terus saja memberi kesempatan pada Tami.


"Kalau kau yang menyuruh baiklah." Izzam pun mengizinkan.


"Kau di belakang saja!" Izzam melarang Tami duduk di muka. l


"Kenapa mesti di belakang Mas? tidak apa-apa kan Mita, kalau aku duduk di depan?" Tami malah mengharap Mita mengizinkannya juga kali ini.

__ADS_1


"Itu terserah abang aja." Jawab Mita. Sebenarnya dia juga tidak suka melihat Mita terlalu dekat dengan Izzam, namun harus,bagaimana lagi, toh karena dia juga yang mengizinkan wanita itu tinggal bersama mereka. Tami mencoba berbicara terus sepanjang perjalanan, Izzam pun akan menjawabnya singkat.


"Bagaimana dengan penyakit mu, apa akan sembuh toral?" Izzam bertanya tentang kanker Tami.


"Iya, kata dokter asal menjauhi pantangan makanan yang memicunya, dan ini pun sudah tidak sakit lagi.


" Mas, berhenti sebentar di apotik ya, aku kehabisan salah satu obat."Ucap Tami, tapi terlihat ada senyum mengembang di bibir merahnya.


"Baiklah, jangan lama-lama." ucap Izzam.


Tami pun bergegas ke apotik setelah Izzam berhenti.


"Mbak obat tidur yang dosis tinggi dan air mineral." Ucapnya. Sementara Izzam membuka ponselnya dan menatap wajah istrinya yang tidak memakai kerudung, dia sengaja meminta foto itu untuk disimpan oleh dirinya saja. Wanita yang sangat cantik.


"Mas kok senyum-senyum?" Tiba-tiba Tami sudah muncul di sampingnya.


"Kenapa kamu duduk disini?" Izzam protes karena tiba-tiba Tami duduk di damping kemudi.


"Bentar juga sampai kok, ini minum dulu!" Ucap Tami menyodorkan air mineral yang sudah di masukin obat tidur olehnya. air mineral berukuran mini itu dalam sekali teguk pun habis di teguk Izzam tanpa curiga.


"Oh Mas tunggu, aku mau beli cemilan dulu buar Rani dan Mily." alasan Tami, dia hanya mengulur waktu, takutnya Izzam tertidur di jalan kan bisa kecelakaan.


Tanpa menunggu jawaban Izzam wanita itu turun dan menuju gorengan yang ada di sebrang jalan.


Sementara di Toko Tami, Rani tampak melayani beberapa pelanggan.


"Maaf pak, lagi banyak pelanggan, apa ad yang mau bapak beli?" Rani dengan sopan menanyakan ke bapak tersebut.


"Aku tunggu saja." jawab lelaki itu. Sementara mily sibuk memperhatikan lelaki yang ada di teras toko, laki-laki yang sangat tampan bagai arjuna turun dari langit.


"Rani! lihat lelaki di depan toko kita, tampan sekali.." Mily pun berbisik pada Rani, karena dia tidak tahan menyimpan sendiri pemandangan itu.


"Hust, nanti dia liat." ketika Rani menatap laki-laki itu, ternyata laki-laki itu juga menatapnya, Rani pun tidak enak hati.


"Eh Rani, apa laki-laki tua itu masih mengganggumu? ku lihat tadi dia berbicara padamu." Tanya Mily penasaran


"iya." Seperti biasa jawaban singkat yang diberikan Rani, membuat Mily kesel.


Setelah toko tampak sepi karena sudah tidak ada pengunjung, bapak tua tadi pun mendekat.


"Nak Rani, bolehkah kita bicara sebentar?" Tanyanya.


"Iya pak" Rani pun mempersilahkan Bapak duduk di depan meja kasir, karena hanya itu tempat yang bisa di pakai, toko penuh dengan barang.


"Bapak pengen melamar Rani ya pak, aneh, nggak sadar umur, heh." Ucap mily kasar sambil duduk di lantai dan bersandar pada barang-barang yang terlihat berantakan.

__ADS_1


"Fadil, kemarilah!" Bapak tua itu melambaikan tangannya pada pemuda tampan yang ada di teras. Sontak saja Mily pun menatap pria yang di panggil fadil. Sedang Fadil pun mendekat.


"Maaf nak, kamu kan tau, aku sudah sering tanya-tanya tentang keluargamu, itu karena aku ingin menjadikan mu menantu ku, apakah kau bersedia, dia ank ku Fadil lulusan S1 ekonomi." ucap bapak itu.


"Uhuk...uhuk...ma-maaf, apa saya tidak salah dengar pak? kita kan belum kenal dalam arti kata yang sebenarnya, cuma tanya jawab,seadanya saja."


jawab Rani. Miky melotot, dia tampak kesal, ternyata selama ini pria tua itu ingin mencarikan jodoh untuk anaknya.


"Aku yakin, kamu wanita baik, selama ini aku sudah melihat adab mu dengan penjual, walau pun kamu terlihat lelah." jawab Bapak itu, sementara Fadil hanya menunduk dan diam.


Sementara tampak Tami sudah berada di sebuah Hotel, dia menyuruh seseorang untuk membawa Izzam,masuk kesebuah kamar hotel.


"Terimakasih mas." ucapnya pada pelayanan kamar sambil memberi beberapa lembar uang yang di ambilnya dari dompet Izzam.


Izzam sudah di baringkan nya di Ranjang dan dia pun melaksanakan strateginya. Di lucuti nya semua pakaian Izzam hingga tersisa pakaian dalam, dia pin melucuti pakaiannya sendiri dan merebahkan dirinya di atas dada bidang yang berbulu itu. lalu.


CEKREK.


CEKREK.


CEKREK.


Setelah itu, dia pun memakaikan kembali pakaian Izzam, dan pakaian nya sendiri.


Aku ingin tau, seperti apa wajahmu setelah melihat ini.


Batin Tami sambil tersenyum puas.


Tami pun mengirim foto itu lewat HP nya dengan no yang tidak di ketahui Mita.


Klok.


Pesan masuk ke Hp Mita langsung centang biru. Tami pun tersenyum.


Sementara di kamar Mita.


Deg.


Kepala Mita langsung sakit, nafasnya tersengal, dadanya tiba-tiba sesak. Tapi dia tidak mau langsung percaya, Dia pun menelpon.


"Hello, bang."


"Helo Mita, ada apa, maaf Hp mas Izzm tadi ketinggalan di tasku." Tami sengaja bersandiwara, dan seakan-akan dia sangag baik pada Mita. Dia pun tersenyum licik penuh kemenangan.


"Baiklah." Klik.

__ADS_1


Mita pun menutup HPnya, kakinya tak mampu lagi berdiri. Matanya berkunang-kunang.


BERSAMBUNG....


__ADS_2