Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Foto Rahasia


__ADS_3

"Assalamualaikum mah! sudah siap?" Hanan pun masuk ke rumahnya dan duduk di sofa sambil memanggil mamahnya.


"Iya sebentar." Suara mamahnya sedang berada di kamar utama.


Ceklek


"Ayo!" Mamah Hanan dengan pakaian modisnya berjalan dengan anggun bak ratu sejagat.


"Kita mau ke mana Mah?"Tanya Hanan.


"Aku sudah janjian dengan Lili, malam ini kita boleh membawa Qiara jalan jalan, kalau dia mau kita bawa tanpa Lili"


Ucap mamah Hanan. Wanita itu sangat anggun dan cantik, walau pun sudah berumur, namun karena perawatan rutin, kecantikannya masih terlihat.


"Kalau dia tidak mau bagaimana?" Tanya Hanan.


"Terpaksa kita juga bawa Lili." ucap mamah Hanan enteng.


Deg


Hanan pun ingat pesan Zila, mobil ini tidak boleh ada wanita lain yang numpang, selain dirinya dan mamah.


"Tidak Mah! aku tidak mau, aku sudah janji dengan Zila, aku nggak akan bawa wanita manapun dalam mobil ini kecuali mamah dan Zila." Ucapnya.


"Lho, kok pakai janji janjian sih." Ucap Mamahnya.


"Pokoknya begitu. nggak ada pilihan." ucapnya.


"Kenapa kamu janji aneh aneh sih Nan," Mamah Hanan heran, kini Hanan sangat penurut dengan istri seakan tunduk menurut mamahnya siiih.


"Untuk menghindari pelakor maaah, hihi." Hanan cengengesan.


"Ih ada ada aja kamu ini Nan." Tampak Mamah tidak setuju dengan perjanjian Hanan dan Zila.


"Lagian mobil ini punya Zila mah, kado pernikahan kami, tapi karena dia belum bisa nyetir, jadi aku yang bawa." ucapnya.


Mereka menaiki mobil dan berjalan menuju ke diaman lama Izzam .


"Kamu kenapa sih Nan, dulu sempat berurusan dengan wanita seperti Lili itu, dan lihatlah sekarang, kita tidak bisa lepas dari tanggung jawab pada anakmu itu!" Mamah Hanan memang tidak marah, namun dia terlihat kesal.


"Aku sudah bilang Mah, itu kecelakaan, aku mabok dan tidak sadar apa yang telah aku lakukan." Jawabnya.


"Makanya, kakau lagi stres jangan lari ke minuman, jalan jalan ke pantai ke, ke gunung, atau sekalian aja borong isi Mall, kan aman!" Protes mamahnya lagi.


"Mamah apaan sih, udah lama gitu juga, lagian mamah sibuk dengan Teman Sosialita Mamah, hingga mamah lupa ada anak yang kurang perhatian kan?"


Kali ini Hanan pun menyalahkan mamahnya, yang slalu pergi bersama teman temannya untuk arisan bulanan.


"Iya, iya, udah ah, memang Mamah juga salah, tapi kamu juga salah salah, anak krang kok di hamilin."


"Mamah, jangan ungkit itu lagi ah, aku sangat takut kalau Zila sampai tau, dia pasti hancur." ucap Hanan sangat khawatir


"Ya jangan sampai tau, bereskan?"


Tak terasa Mereka pun sudah sampai di halaman Qiara atau rumah lama Izzam.

__ADS_1


"Tante." Lili yang sudah menunggu di teras rumah dengan pakaian yang sangat rapi. Hanan tidak turun daei mobil, dia juga hanya menundukkan pandangannya dan sesekali menatap Qiara yang duduk di samping Lili.


"Qiara sayaaaaang, sini ikut Nimud yuk!" Mamah Hanan pun merentangkan tangannya. Qiara yang sudah sering bertemu Mamah Hanan pun, mau di peluk.


"Li, aku ingin membawa Qiara sebentar untuk belanja." Ucap mamah Hanan.


"Aku boleh ikut?" Harapan Lili sih ikut, biar bisa ngeliat muka ganteng Nicol alias Hanan gitu.


"Maaf Li, istri Nicol menolak wanita lain duduk di mobilnya, karena itu mobil istrinya." Ucap Mamah Hanan.


Pasti istrinya juga sangat kaya, mobilnya saja sangat mahal.


Bathin Lili. Apa jadinya kalau dia tau kalau mobil itu pemberian Hanan, pasti Lili minta belikan mobil juga.


"Ooh, baiklah, Sayang, nanti bawakan mamah oleh oleh ya, ikut sama Nimud ya sayang." Ucap Lili, Qiara yang memang sering di tinggal Lili pun menurut. Mamah Hanan pun menggendong Qiara dan membawanya duduk di depan.


Deg


Saat melihat dari dekat wajah Qiara, Jantung Hanan seakan berhenti.


Benarkah ini putriku? cantik sekaki dia.


Bathinnya.


"Nan, lihatlah! bukankah matanya mirip dengan matamu?" Tanya Mamah sambil menatap Qiara. Dan menciumi rambut harum cucunya itu.


"Mah, aku tidak percaya ini, bagaimana bisa aku sudah mempunyai anak sebesar ini?" Ucap Hanan.


"Bagaimana menurutmu? kapan kau siap mengatakannya pada Zila, aku akan membantumu." Ucap Mamah Hanan.


"Hups...aku bingung Mah, apakah Zila akan menerimanya?" Tampak Hanan sangat khawatir.


"Bagaimana kalau dia minta cerai dan menyuruhku menikahi Lili." Tanya Hanan tampak was was.


"Aaah, jangan berpikiran sejauh itu Nan."


Tak terasa mereka pun sudah sampai di tempat perbelanjaan yang sangat ramai.


Mereka pun telah memasuki pusat perbelanjaan tersebut.


"Lho itu kan Hanan suami Zila mah? sama mamahnya tapi siapa gadis kecil itu?"


Ternyata dari jarak yang lumayan jauh ada sahabat Zila waktu SMP yang melihat Hanan sedang belanja mainan anak anak.


"Ah yang bener? Zila kan baru menikah, nggak mungkin punya anak sebesar itu, foto foto, biar tanyain." Ternyata kepo tuh mamahnya. Cekrek.


Klok


Terkirim.


"Pesan dari sari?" Gumam Zila.


Foto beserta pesan tulisan.


{Loe nggak ikut jalan Zil?}

__ADS_1


{Iya, lagi sibuk}


Hati Zila bertanya tanya, siapa gadis kecil yang di gendong Hanan.


{Hanan sama siapa tuh?}


Zila bingung mau jawab apa, dia berpikir sejenak.


{Cucu mamah}


Spontan saja dia jawab gitu.


{Cucu? Soraya udah nikah?}


Zila tidak membuka pesan itu dan langsung menghapusnya.


Siapa anak kecil itu. Apakah Mamah bicarakan tadi malam tentang gadis itu? mengapa aku tidak boleh tau?


Apakah?? Aku harus bertanya langsung pada Bang Hanan?.


"Aaaaa, aku jadi kepikiran terus nih?" Zila jadi uring uringan terus setelah melihat foto Hanan menggendong gadis kecil itu.


"Mengapa Babang punya rahasia padaku ya? memang aku tidak pernah bertanya tentang masa lalunya, tapi dia harus cerita. Apa mungkin Babang pernah menikah sebelumnya dan mempunyai anak?"


Drettt dretttt


Telpon masuk.


"Sari."


'Hello, Sari assalamualaikum.' Sapa Zila lebih dulu.


'Wa alaikumsalam, Zil, kenapa kamu nggak ikut? tuuuh lihat, Hanan sedang memilih milih mainan buat gadis kecil itu, kenapa WA ku nggak di balas?" Sari yang sengaja VC dengan Zila dan memutar kamera ke arah Hanan penasaran, cucu dari anak siapa kira kira? itu pertanyaan di otak Sari.


"Aku tadi lagi sibuk Sar, aku kurang paham, karena aku baru di keluarga mereka, udah ya, ini masih tapi in kamar, assalamualaikum."


tuuut


Entah mengapa hati Zila terasa panas melihat adegan Hanan yang sedang memilih mainan untuk gadis kecil itu.


"Apa aku harus menelpon dan bertanya langsung ya?"


Zila pun mengambil HP dan memidio Call suaminya.


Drett....


Sekali tidak di angkat.


dua kali


tiga kali masih tak di angkat.


"Babaaaaang, ngaoain aja sih."


Bruk

__ADS_1


Zila pun merebahkan diri dengan hati yang sangat kesal.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2