
"....." Zila pun kaget dan syok melihat lelaki yang sekarang ada di sampingnya, lelaki itu sedang tidur pulas.
"Kak Fikri! apa dia juga pelajar di Tarim ya?"
Masih ingatkan dengan Fikri, waktu SMP nolongin Zila waktu cakar-cakaran sama Angle, yang berteman dengan Kak Fasha😁.
"Uaaaaah, Zila, kau sudah bangun?"
"Kak Fikri pelajar juga?"
"Nggak, cuma pengen ke sana aja, udah lulus kok." jawabnya.
Siapa lelaki itu tampak akrab dengan Zila, awas ya kalau macam-macam.
Ternyata di kursi belakang berjarak 2 baris ada si Babang Hanan😁
"Kak Fikri berapa hari ke Tarimnya?" Zila terlihat akrab dengan Fikri walau dia sambil menatap jendela pesawat, emang kalau Zila lagi ngomong sama Cowok nggak pernah menatap mukanya, takut Khilaff😄
"Paling 1 minggu, kamu sekarang kelas berapa? aku dengar dulu dari Fasha kamu pindah ke Tarim mondok kan?"
"Iya Kak, aku pengen sekali pindah, walau Kak Mita sangat melarangku, tapi berkat Kakak iparku yang baik, bisa membujuk Kak Mita akhirnya aku bisa pindah juga."
"Kaka udah menikah?"
"Hihi, belum Zil, belum jodoh."
"Ooh, Kak Fasha udah nikah, kayaknya Kak Fikri nggak datang, nggak ada liat."
"Iya, aku masih di Tarim saat itu. Aku emang suka ke Tarim, terasa sejuk, terhindar dari Zina mata, semua wanita di sana bagaikan bidadari syurga, aurat mereka terbungkus sempurna, jadi kan kita juga nggak dosa "
Mereka sangat asyik ngobrol hingga tak terasa mereka sudah sampai di bandara Yaman.
Fikri dan Zila pun turun beriringan, tentu saja Zila lebih dulu dan berjarak.
Sementara si Babang Hanan tampak semrawut melihat Kekasih hatinya dekat dengan seseorang. Dia pun mengucel-ucel rambutnya hingga kusut😄
"Nggak bisa di biarin ini."Gumamnya.
Saat Zila dan Fikri sudah selesai mengambil tas dan berjalan keluar, saat ini Zila dan Fikri berjalan bersamaan walau masih berjarak.
Bruk
Hap
Hanan menabrak Tubuh Fikri dan menangkap pergelangan tangan Zila.
"Astagfirullah hey, siapa kau?" Ucap Fikri kaget.
"Harusnya aku yang bertanya, Siapa kau?"
"Hanan!!!!" Zila malah lebih bingung lagi.
"Aku, tunangannya, lihat ini." Hanan mengangkat tangan kanan Zila.
"Apa itu?" Fikri tak melihat apa-apa di tangan Zila.
"Hah?" Hanan pun menatap tangan Zila heran.
"Kemana cincin kita heh?" Hanan pun gusar.
"Lepaskan." Zila pun menghentakkan Tangannya kasar. Hingga tangan Hanan pun terlepas dari pergelangan tangannya.
"Aku simpan, takut klo ngehilangin, ganti rugi, aku nggak punya uang sebanyak itu." Sahut Zila sambil menekuk wajahnya dalam.
__ADS_1
"Ooh, jadi kalian sudah tunangan? selamat ya!" Ucap Fikri.
"Iya Kak, terpaksa." Jawab Zila lagi kesel.
"Kok terpaksa?" Hanan melotot menatap Zila.
"Kalau begitu aku duluan ya," Fikri pun berjalan lebih cepat, karena dia merasa kalau Hanan kurang suka padanya.
"Kak, tunggu, aku mau bareng, Kakak mau kemana?"
"Zila, kamu itu calon aku, Kok bareng dia?"
"Kalau ama dia terjamin selamat, kalau ama Tuan, aku takut."
"Takut kenapa? aku malah disuruh ikut untuk jagain kamu!"
"Di suruh? siapa?"
"Ah itu...itu.." keceplosan deh.
"Siapa ayo? Kak Mita?"
"Ah sudahlah, ayo kita berangkat."
Hanan pun merebut Koper Zila dan membawanya pergi.
"Hey tunggu! mau ke mana kau bawa tasku?"
Sementara Fikri hanya tersenyum simpul melihat tingkat dua calon itu.
Zila berlari-lari kecil mengimbangi jalan Hanan yang panjang-panjang.
Mereka pun akhirnya dapat taksi dan Zila terpaksa ikut.
Zila berbicara tanpa menatap Hanan.
"Kalau ngomong itu lihat wajahnya, ini ngomong ke mana, liat ke mana."
"Nggak, nggak boleh."
"Kenapa nggak boleh."
"Tau ah, udah ah, mau tidur." Zila pun bersandar menghadap kaca dan memejamkan mata.
"Kalau kau tidur lagi akan aku cium."
"Hah???" Spontan Zila pun membuka mata dan menatap wajah Hanan. sambil memegang kedua pipinya.
"Hahaha." Hanan pun tertawa senang.
"Astagfirullah." Zila beristigfar, kenapa ya?.
"Ada apa? kok istigfar, ada apa di wajahku?"
"Eeeh,i..i..itu, tidak apa-apa."
Tampan sekali dia, hidiiih, siapa yang nyuruh dia ikut, bisa khilaf nih natap muka dia yang sempurna.
Gumam Zila lagi.
Akhirnya Zila melek sepanjang jalan namun tidak menjawab,semua pertanyaan Hanan, dia hanya menatap jendela .
Tring tring tring
__ADS_1
{Assalamualaikum, kakak, Zila udah sampai ini udah di taksi}
{Wa alaikumsalam, alhamdulillah, apa tadi di pesawat ketemu salah satu teman sekolahmu, kan liburannya sama udah selesai?}
{Lebih dari teman Kakak, kakak nggak ada nyuruh orang kan untuk temenin Zila ke Tarim?}
{Temenin gimana sih, Kakak malah nanya, kamu balik tanya}
{Zila sama Tuan Hanan Kak}
{Hah, apa? eeeeeeeeh ini pasti ulah Kakak iparmu Zil, udah ya, assalamualaikum}
{Wa alaikimsalam}
Hanan pura-pura tidur tapi bibirnya sedikit menahansenyum. Zila yang melihat itu pun memajukan Bibirnya 2 Cm . kan nggak kelihatan tuh dalam cadsr juga.
*
*
*
"Abaaaag, abaaaaaang...Aunte, Pak Zam mana?" Mita mencari suaminya.
"Tadi ke belakang Nyonya Besar, katanya mau berenang."
Tap
Tap
Tap
"Baaaaang, Abang kan yang nyuruh Hanan ikut ke Tarim?"
"Hanan siapa?"Zam tampak sibuk berenang.
"Hanan tunangan Zila, malah pura-pura lupa."
"Ooh, itu dia yang pinta, dia merengek minta berangkat bareng."
"Abang, sini dulu."
"Mau ngapain? lagi asyik ini." Izzam terus berenang ke sana kemari.
"Sini dulu!"Mita tampak kesal.
" Nggak ah, nanti di apa-apain lagi." Ucap Zam.
"Oke, kalau nggak mau ke sini, aku nggak kasih jatah lagi, sampai lahiran." Mita pun berdiri.😃.
"Hah? apa? tunggu-tunggu, eeeeh wanita ini berani sekali ngancam ya, ini aku ke sana." Mita pun tersenyum dan duduk di sisi kolam renang.
Hap
Byuuuur
Mita pun di tarik Hanan ke dalam kolam yang sedikit dangkal.
"Aunteeee, kunci pintu, jangan ada yang masuk sini." Teriak Izzam.
"Mau ngapain?" Mita panik.
"Minta jatah, hahahaha."
__ADS_1
BERSAMBUNG....