Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Jatuh Cinta Kembali


__ADS_3

Sesampainya di muka gedung, Emre pun terdiam, dia hanya menunggu tanpa membangunkan Mita dan Zila, ternyata Mita pun tertidur entah kapan. Emre menatap Wajah Mita berulang-ulang lewat kaca depan. Kadang hatinya tak karuan. Perasaan yang membuncah ingin rasanya memeluk wanitanya itu, namun di sisi lain dia juga sakit hati atas perlakuan istrinya itu selama ini.


Mita, aku akan memberimu pelajaran, kau harus tau betapa sakitnya aku dulu, aku telah berubah, sikapmu lah yang telah merubahku kembali seperti dulu.


Gumam Izzam


"Huaaaaah, ah? apakah sudah sampai?"


Zila yang lebih dulu bangun merasa malu karena tidak menyadari mobil sudah berhenti, namun Emre tidak menyadari bahwa Zila sudah bangun. Zila bingung dan heran mengapa Pria itu menatap kakaknya begitu dalam lewat kaca spion.


"Kak bangun! kita sudah sampai."


"Benarkah?-


Mita pun bangun, barulah Emre mengalihkan pandangannya.


"Tuan maaf, kenapa Tuan tak membangunkan kami," Ujar Mita.


"Kalian tampak kelelahan, jadi lebih baik aku biarkan saja kalian tidur, lagian kita juga di halaman gedung Apartemen, tidak masalah kalau kalian tidur lebih lama," Ucapnya.


"Baiklah Tuan, terimakasih atas tumpangannya, assalamualaikum."


"Wa alaikumsalam."


Mereka pun turun dan menuju hotel. Begitu juga Izzam mengiringi mereka dari belakang. Mereka pun sudah sampai di depan Apartemen masing-masing.


"Tunggu!, ini." Emre menyodorkan 1 kantong plastik berisi .akanan yang di bungkus tadi.


"Apa ini Tuan?"


"Ini lauk buat kalian makan, kalau tidak habis bisa di taruh di lemari es untuk di panaskan besok, aku beli 2 kok," Ujar Emre.


"Terimakasih Tuan, tidak perlu repot-repot," ucap Mita.


"Tidak papa kok, sebagai hadiah karena kalian sudah mau berkenalan denganku," Ujar Emre lagi. Mereka pun masuk ke Kamar masing-masing. Sesampainya di dalam, Zila pun duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Kak! aku merasa aneh deh dengan Tuan Emre!"


"Kenapa? perasaan rasa biasa aja."


"Tadi waktu Kakak tidur, dia ngeliatin Kakak lho, bahkan ngeliatin tanpa berkedip gitu!"


"Benarkah, masa?"


"Benar Kak! jangan-jangan Tuan Emre suka sama Kakak ya?"


"Ih, apaan sih," Ucap Mita.


"Bener lho Kak, Kakak hati-hati ya! pokoknya aku tidak rela Kakak jatuh cinta dengan Pria lain selain Kak Zam."


"Ih, Zila ada-ada aja deh."


"Zila mau mandi lagi, gerah nih bekas di pasar banyak debu." Zila pun pergi menuju kamar mandi. Sementara Mita tampak mengingat sesuatu.

__ADS_1


Mengapa Pria itu sangat mirip Izzam ya, suaranya pun terkadang hampir mirip.


Gumam Mita.


Sementara Izzam di dalam kamarnya.


("Hello Fasha, tolong kau jaga Ayana ya, Qiara juga, siapa tau Lili sibuk sendiri dengan urusannya.")


Izzam tampak menelpon Fasha.


("Baik Kak, Kakak ada di mana sekarang?")


("Aku lagi menenangkan hati, nanti kalau aku sudah baikan, aku akan kembali, tolong setiap uang yang masuk segera kirim ke rekening ku ya?"


"Baik Kak!"


Tut tut tut.


"Hups, hari yang melelahkan, sangat gerah harus berdandan seperti ini." Izzam pun melepaskan mike up tempelan dan jenggot yang tebal, dan meletakkannya di meja.


"Mita, kau harus jadi milikku kembali," Izzam tampak tersenyum-senyum sendiri. Dia tampak sumringah, walau kadang hatinya terus bergulat antar ingin balas dendam atau harus merelakan dirinya jadi orang lain saja selamanya.


Hari-hari berlalu. Tak terasa sudah 5 bulan Emre berada di Tarim, dan Emre sudah melakukan pendekatan maksimal pada Mita, dan tidak jarang Emre juga membuntuti berhari-hari kegiatan Mita di pasar yang sedang membeli bahan keperluan jualannya, dan ujung-ujungnya berakhir pura-pura kebetulan bertemu dan memberi tumpangan.


"Mita!" Emre mendekati toko Mita yang terlihat ramai.


"Hei, Tuan Emre! Tuan tidak bekerja?"


"Aku hari ini libur, aku akan membantumu di toko, terlihat kau sangat sibuk."


"Jangan sungkan." Emre pun membantu-bantu Mita tanpa di suruh, dan sesekali Emre pun menatap wajah lelah istrinya itu, ada perasaan tidak tega untuk melancarkan aksinya.


"Mita baiknya kau duduk dulu, biar aku yang melayani mereka, kau cukup sebutkan tempatnya saja."


"Tidak apa-apa tuan, memang kalau dekat bulan ramadhan, ya begini nih, suka rame, mereka mencari sajadah dan juga mukena."


"Apa kau berencana pulang ke indonesia?"


"Mungkin dekat lebaran kami akan pulang, mudahan jualan ini mencukupi untuk beli tiket."


"Aamiin." Emre pun kembali melayani pelanggan yang seakan-akan tak ada hentinya.


Zuhur meraka baru istirahat siang dan makan di tempat terpisah. Tepat jam 5 sore Mita lun menutup tokonya .


"Tuan mengapa mau capek-capek begini?"


"Tidak apa-apa, anggap saja aku keluargamu, lagian aku senang hari ini bisa jualan,aku berjiwa bisnis yang kuat lho, walau belum sukses." Ujar Izzam.


"Oh, hihi, mudahan Tuan bisa mencapai cita-cita tuan, Aamiin."


"Nona Mita, bolehkah aku melamar adikmu?"


"Ooh!? Ha ha ha, ada-ada aja Tuan ini, Adik saya masih sekolah Tuan, mana mungkin dia mau menikah."

__ADS_1


"Kalau begitu, bolehkah aku menikahi mu!?"


"Uhukk uhuk, apa? ah, jangan bercanda tuan, saya sudah pernah menikah."


"Benarkah? lalu di mana suamimu?" Izzam pura-pura terkejut.


"Kami sudah bercerai, masa lalu yang kelam." Tampak Mita meneteskan air mata di ujung matanya dan di sapunya pakai ujung cadar.


"Mengapa berpisah?" Mita menatap wajah Emre tajam.


"Cerita yang sangat panjang, bahkan aku sempat beberapa kali hampir terbunuh karena mempertahankan cinta dengannya."


Apa maksud Mita, beberapa kali?


Yang aku tau hanya satu kali.


Gumam Izzam.


"Benarkah? kenapa bisa begitu?"


"Maaf Tuan, itu masa lalu saya, biar saya,yang memendamnya sendiri." Mita pun mengambil Tasnya dan berjalan keluar Toko.


"Ayo Tuan! saya akan tutup toko ini, hari sudah mulai gelap."


"Oh baiklah! kau ikut denganku saja, di belakang juga nggak papa kalau kau tidak mau di depan," Ujar Izzam. Mita pun tak bisa menolak, jadi dia ikut walau hanya di kursi belakang kemudi.


"Terimakasih Tuan."


Mereka pun pulang bersama menuju Apartemen, sementara Zila kalau hari libur baru dia ada di Apartemen itu.


"Mita, aku serius lho, apa kau mau jadi istriku?"


Emre menatap Mita lewat kaca depan, tak sengaja Mita juga melihat kaca itu. Mita pun terasa malu dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Aku masih bersuami Tuan, dan aku belum ingin mencari penggantinya."


"Bukankah kau bilang pernah bersuami, berarti kau sudah cerai dong?"


"Belum, aku melarikan diri."


"Lho, kok bisa?" Emre lagi-lagi berakting.


"Sebelum kami menikah, dia sudah menikah dan mempunyai dua anak, perjalanan yang panjang, sampai akhirnya istri tuanya pernah memberiku racun saat aku mengandung 7 bulan, sampai akhirnya aku keguguran."


Deg.


Izzam terdiam.


Benarkah? apakah ada kisah yang tidak ku ketahui?


Batin Izzam.


Walau berada di Tarim, namun kadang Izzam pun pulang ke indonesia untuk menemui Ayana dan cucunya untuk melepaskan rindu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2