
Izzam pun di baringkan ke ranjang pasien yang ada di ruangan itu. di pasangkan infus dan oksigen.
"Bang...kok jadi gini sih?"
Mita tampak menangis di sisi Izzam. Dia sangat khawatir dengan kondisi Izzam yang di nyatakan kena serangan jantung mendadak.
"Papah."
Lili juga terlihat duduk di sisi ranjang, sementara Tami sudah di bawa ke ruang jenazah.
"Kakak.."
Bruk
Zila dan Hanan pun datang.
"Zila hik hik hik, kakakmu dek."
Mita kembali terisak hebat sampai pundaknya bergetar, menahan suara.
"Kakak, kakak sabar dulu ya."
Zila membelai lembut pundak kakaknya. Menyandarkan kepala kakaknya di bahunya.
Sementara Izzam semakin lama semakin kemah dan sedikit demi sedikit nafasnya mulai menghilang.
🌻
🌻
🌻
Jam menunjukkan jam 16.00 Ketika Merwka masih menatao 2 gundukan yang masih basah.
Entah takdir seperti apa yang Author ciptakan😃. Yang jelas kini Tami dan Muhammad Izzam Adinatha kini mereka berdampingan, meninggal di hari yang sama. walau mereka telaj habis jodoh di hidupnya, namun mereka kembali bersamaan.
"Hik hik hik.Bang...Ezra masih kecil, mengapa semua ini bisa terjadi Bang."
Fasha dan Zila terus sda di sisi Mita untuk menghibur kakak kesayangannya.
"Kakak. ayo kita pulang. Sebentar lagi Senja akan datang, bukankah ibu sering bilang, kalau angin senja itu tidak bagus buat kesehatan."
Ajak Zila. Mita pun menyeka air matanya dan berdiri. Sesaat dia tatap kembali gundukan kecil itu. Kemudian dia pun berpaling dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman keluarga ningrat.
Sementara Ezra juga terlihat rewel dalam gendongan Bibi.
"Fasha...tolong kau urus semua tentang perusahaan keluarga Adinatha. Aku percayakan semuanya kepadamu."
Ucap Mita.
"Baik kak."
Mereka pun kembali ke kastel, setelah berapa saat mereka pun sampai.
Bruk
Mita hanya berkurung diri, makan malam pun dia lewatkan.
__ADS_1
"Kakak. ayo makan! biar Zila suapin."
Zila membawakan makanan ke kamar Mita.
"Mita mencoba membuka mulut dan mengunyah makanan yang di suguhkan Zila.
Hanya beberapa suap, Mita berhenti membuka mulutnya.
Detik, menit, jam, minggu dan bulan sudah di lewati, kini Mita sudah membaik.
"Aduuuh, kakak perut Zila sakit kak!"
Zila yang sedang bertandang ke kastel Mita memegangi perutnya yang mules.
"Ayo kita ke rumah sakit!"
Mita pun memanggil Sopir dan membawa Mita menuju Rumah sakit.
"Kakak...apa sesakit ini? apa ibu juga sesakit ini?"
Tanya Zila saat berada di perjalanan menuju rumah sakit.
"Sabar dek, tidak apa apa, banyakin zikkr aja ya!"
Mita terus membelai belai pundak adiknya, dia juga merasakan sakit yang Zila rasakan.
Mereka pun sampai. Setelah Zila di bawa ke ruang UGD di pasangkan infus, Mita pun menelpon Hanan yang sedang ngantor.
Dretttttt
'Helo kakak, ada apa'
'Oh wa alaikum salam kakak'
'Zila di Rimah sakit, mau lahiran cepat ya, nanti ku kirim alamat.'
'Benarkah, baik kak.'
Klok
Hanan main mati in aja tu Hp, belum juga salam.
"Maaf, meeting hari ini cukup di sini, aku harus pergi. pak Hans tolong tutup ya, istriku akan melahirkan."
Hanan pun pergi dengan tergesak gesak. Wajahnya berseri seri, namun kadang terlihat was was.
Tap tap tap
"Kak Mita...bagaimana?"
Hanan langsung mendatangi Mita yang duduk di kursi depan Ruang bersalin.
"Ayo!"
Mereka masuk...
"uweeek uweeekk uweeek."
__ADS_1
Seorang bayi mungil menangis yang di letakkan di ats ranjang mungil.
"Dia..your girl."
Ucap Mita sambil menunjuk bayi mungil itu.
Hap
"Anakku...ini benar anakku? oooh terimakasih Allah, emch emch."
Hanan berulang kali menciumi wajah merah bayi mungil itu.
"Ayo, di azanin dulu! juga iqomah."
Hanan pun melaksanakan tugas pertamanya sebagai ayah. Setelah itu dia menxekati Zila yang terbujur lemes di ranjangnya.
"Sayang...terimakasih banyak. Emmmmmmch."
"Kita namai siapa dia? Cewek yang cantik. berarti kita harus nambah lagi ya? biar sepasang.",Ucap Hanan
ciiit
" Au."
Hanan dapat cubitan maut dari Zila. Belum juga sembuh udah mau nambah nambahin aja.
...
...
...
3 hari sudah berlalu, saatnya Zila kembali ke rumah mewahnya bersama malaikat kecilnya.
Semua administrasi telah di urus.
"Akhirnya, kita akan pulang sayang..."
Zila sangat senang dan terus berbicara dengan bayi mungil yang terlihat tidur di pangkuan kakaknya.
"Aku mau Sholat zuhur dulu ya."
Hanan pun memarkirkan mobilnya di sebuah Mesjid besar di pinggir jalan.
Mita dan Hanan turun untuk Sholat, jam 14.00.
Tap tap tap
Hanan sudah selesai wudhu dan memasuki Mesjid.
Aku seperti mengenali tukang sapu itu ya?
Hanan yang akan masuk mesjid terkejut, saat melihat lelaki paruh baya berpakaian lusuh sedang menyapu ruangan Mesjid.
BERSAMBUNG....
Ketika sakit saat melahirkan, itu tidak apa apanya di bandingkan saat sudah melihat si buah hati, rasanya bahagia. Plong.
__ADS_1
jangan pernah di sia siakan ibu kita, karena seumur hidup kita berbakti padanya, tak bisa menggantikan setetes air susunya.
Selamat menjadi ibu. Dan yang belum di beri janganlah merasa kecewa, karena semua takdirNya, kita hanya menjalani.