
Entah mengapa pagi ini Izzam ingin pergi ke rumah lama. Dia pun di antar sopir menuju rumah lama, sesampainya di sana dia berjalan menuju kamar atas, dia pun berjalan menuju tangga dan menuju kamar yang pernah dia tinggali dengan Mita dulu.
Ceklek.
"Mita.....hik hik hik" Teriakan Izzam membuat sopir kaget dan berlari menuju tangga.
"Tuan ada apa?" Namun Izzam yang masih menangis melambaikan tangan dan menyuruh Sopir itu pergi. Sopir pun kembali ke bawah. Izzam terlihat berlutut di halaman ranjang, dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia terus menangis, sampai akhirnya dia berdiri dan berjalan menuju tangga.
Bruk, duk, duk, duk.
Izzam jatuh dan menggelinding di tangga sampai ke lantai dasar. Sopir yang sedang duduk di kursi tamu sambil merokok pun kaget. Dia berlari dan menemukan tubuh Tuannya tergeletak tak beraturan, ada darah segar mengalir di kepalanya, darah uang keluar tanpa henti. Sopir pin segera membawa Tuannya ke rumah sakit. Sepanjang jalan Sopir terus memanggil-manggil Tuannya namun tak ada suara.
("Hello, Tuan Fasha, Pa Izzam jatuh di tangga , sekarang menuju rumah sakit X.")
Sopir pun menelpon Fasha.
("Baiklah, saya akan segera ke sana.")
Sesampainya di rumah sakit sopir pun membawa Izzam ke ruangan IGD. setelah mendapat perawatan awal, Izzam pun di pindahkan ke Ruang Vip.
"Pak, di mana Kak Zam?" Fasha sudah datang tepat waktu
"Di sini Tuan." Sopir pun mengantar Fasha ke kamar Izzam.
"Oh ya Pak! jangan kasih kabar ke siapa pun tentang semua ini. Lili atau pun Tami, bilang saja bahwa Bapak sedang jalan-jalan."
"Baik Tuan."
Fasha pun dengan setia menunggu Izzam bangun, setelah jam 10 siang, barulah Izzam sadar.
"Kak Zam, apa yang terjadi?"
"Mita, aku belum percaya kalau Mita sudah tiada, perasaanku, bahkan mimpiku sering muncul Mita yang sedang menungguku di balkon Hotel" Akhirnya Izzm mau bicara dengan Fasha.
Teing tring tring
Hp Fasha berbunyi.
"Hello Zi..." vidio call seseorang di sebrang sana meletakkan telunjuk di bibirnya, ternyata Zila yang telpon.
"Kak sebentar." Fasha pun keluar.
"Ada apa Zil?"
"Aku tidak bisa menyimpan rahasia ini terlalu lama, aku merasa berdosa Kak!"
Zila menelpon dan terlihat di belakang sana punggung Mita tampak bergetar, mungkin menahan tangis.
"Zila! senyapkan suara, biar kita perlihatkan wajah Kak Izzam pada kak Mita, sekarang kak Zam ada di rumah sakit kepalanya luka parah."
"Apa? benarkah, baik."
__ADS_1
Fasha pun masuk ke dalam ruangan dan pura-pura selesai menelpon, padahal dia mengarahkan kamera belakang ke wajah Izzam.
"Siapa? kenapa harus keluar?"
"Aku tidak ingin mengganggu istirahat Kak Zam dengan suara jelek di sebrang sana."
"Ish, Kak Fasha" Gumam Zila dari sebrang.
Zila pun memperlihatkan layar Hpnya pada Mita, Mita pun terbelalak, saat melihat Izzam kepalanya di penuhi perban.
"Zila, ada apa? mengapa kepalanya di perban? apakah dia terluka?"
"Mana aku tau! tanya aja sendiri sama Kak Zam!"
"Zila!" Mita pun kesal, tapi dia juga tidak mau kalau Izzam tau dirinya masih hidup.
💐💐💐
Sedang Lili belum pulang ke rumah sejak party tadi malam, Ahyar beberapa kali menelpon namun tidak di angkat.
Di kantor.
Terlihat Lili sedang tidur di ruangannya dengan di temani 2 karyawannya. Semua karyawan tampak sudah bangun kecuali Lili, mereka tidak berani membangunkan Bosnya itu, hanya menunggu dihalaman ruangan. Karena hari ini hari minggu. Jadi kantor tutup.
"Huaaaah." Jam berapa sekarang?" Lili oun akhirnya bangun.
"Jam 11 Bos"
"Apa? kenapa kalian tidak membangun ku?"
"Huh, baiklah, aku akan pulang."
Lili pun berjalan keluar menuju mobilnya. Dia pun berjalan menyusuri jalanan Kota yang terlihat ramai. dan melihat layar ponselnya
"Ah, sial," Gumamnya.
("Helo, ada apa?")
("Kau dimana? kenapa tidak pulang?")
("Ini mau pulang, aku di jalan.")
("Cepatlah pulang! Qiara mencari mu.")
("Kan ada Bibi, kenapa harus mencari ku?")
("Jangan mengulang kesalahan, cepatlah pulang.")
Tut tut tut.
"Sial, orang ini mulai berani mengajariku." Lili tampak marah. Dia pun mempercepat laju mobilnya. Sesampainya di halaman rumah.
__ADS_1
"Mama...Mama.." Qiara berlari mendatangi mamanya dan memeluk kaki Lili.
"Sayang, Mama mau mandi dulu ya! Ayana tolong jaga Adik dulu, Kakak mau mandi."
"Baik! Qiara, ayo sama Aunty dulu ya?" Ayana oun meraih tangan mungil Qiara.
"Mamma, Mamma." Qiara malah nangis.
"Papanya mana?"
"Lagi ke pasar cari sayur Kak."
"Ha!? kenapa harus ke pasar, kan ada Bibi, ada-ada saja laki-laki itu, kalau bukan Papah yang memaksa menikah dengannya, tentu aku tidak sudi." Lili pun berjalan menuju kamarnya dan bergegas mengambil handuk dan pakaian ganti. Selesai mandi Lili lun keruang tamu menemani Qiara main.
"Dek, Papah mana? kok nggak kelihatan, kursi rodanya juga terlihat nangkring di luar tuh."
"Tadi pergi sama Om Fasha, katanya mau jalan-jalan," Jawab Ayana.
Sementara di rumah sakit, di ruangan Izzam, Izzam sedang di periksa suster.
Bukankah dia pa Izzam suami bu Mita?
Batin suster Clara.
Clara yang saat ini pakai masker tentu Fasha atau pun Izzam tidak mengenali Clara, orang yang dulu membantu Mita dan Fasha untuk menghilangkan jejak Mita. Clara tampak sedikit canggung.
"Bagaimana Suster, keadaan Kak saya?" Fasha pun bertanya, karena melihat Suster bengong.
"Oh,dia akan baik-baik saja, tapi mengapa dia terluka seperti ini?"
"Dia terjatuh di tangga sus."
"Tapi dari keterangan laporan, dia tampak dingin dan syaraf-syarafnya pun kurang merespon."Artinya, karena selama 2 tahun ini Izzam tak lagi bekerja atau berpikir keras, selain mengingat Mita, makanya Otaknya agak sedikit mulai mengurangi kemunduran, baik ingatan atau pun lainnya.
"Maaf suster, sejak istri dan anaknya tiada, Kakak saya ini tidak mau lagi bicara pada siapa pun, kecuali dia ingin pada orang tertentu." Fasha pun sedikit bercerita.
"Tuan harus membantunya kembali seperti dulu, karena kalau begini terus, maka dia akan bisu beneran, dan otaknya bisa saja berhenti berfungsi, alias Gila dadakan."
Deg.
"Apa,bisa begitu suster?" Fasha tampak khawatir.
"Tentu daja Tuan, Otak yang tidak di pakai dengan normal, bisa memicu bermaca-macam penyakit."
Izzam yang saat ini tertidur tidak mendengat pembicaraan Fasha dan suster itu. Sementara Sister sedikit membumbui ketakutan Fasha, mungkin suster pun kasian dengan Pak Izzam yang hidup seakan mati.
"Ini resep obat yang harus kau tebus." Clara pun menyerahkan resep obat dari dokter pada Fasha, dan Fasha pun keluar mengiringi Clara yang juga keluar.
Puk...puk...puk
Seseorang menepuk-nepuk tangan Izzam dan meletakkan secarik kertas. Izzam pun terbangun.
__ADS_1
"Siapa kau?" Orang berjaket Pink dan menggunakan masker serta topi itu pun pergi tanpa menoleh.
BERSAMBUNG....