Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Lengket Kayak Perangko


__ADS_3

Reza. Nama yang tertulis di panggilan masuk itu. Reza adalah Hanan yang sengaja di namai Izzam di HPnya.


"Aku mau minum haus, tolong belikan aku minum." Izzam pun memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Mita pun turun dan berlari kecil menuju kios di pinggir jalan.


("Hello, malam ini temui aku di Jl. Ahmad 77, jam 08.00, jangan menelpon ku lagi.")


Tuuuuut


Asrama 21. 12.00 siang.


"Ish, orang ini apa-apaan,sih, menelpon tidak di angkat, malah nelpon belum di jawab sudah di matikan."


"Ada apa Nan? Kok marah-marah sendiri?"


"Hamzah, nggak papa Kok, malam ini maaf aku nggak jadi kumpul teman-teman, aku ada janji mendadak dengan Kaka ipar, hihi."


"Benarkah, apa dia mengajakmu bertemu?"


"Iya,"


"Apa aku boleh ikut?"


"Ha? tapi aku mau ngomong rahasia sama dia,"


"Aku akan duduk jauh-jauh dari kalian, boleh ya!"


"Oke, baiklah, jam 7 sudah siap ya, aku nggak mau dia menunggu ku."


"Oke!"


Mereka pun menyelesaikan kesibukan mereka masing-masing. Tak terasa jam sudah menunjukkan jam 18.00, terlihat Hanan dan juga Hamzah sudah rapi dan wangi.


"Kita sholat di dekat Jl. Ahmad 77 aja ya, biar kita bisa makan malam di sana." Ucap Hanan pada Hamzah, yang diajak pun mengangguk setuju. Mereka pun berangkat menaiki motor.


Apartemen 18.30


"Sayang, aku mau keluar sebentar, ada urusan yang harus ku selesaikan dengan rekan bisnisku, sebelum kita pulang."


"Baiklah Bang, jangan lama-lama, hati-hati."


"Iya, paling cuma satu jam, aku nggak bisa jauh dari mu sayang, pengennya nempel terus kayak perangko." Izzam pun melingkarkan lengannya di pinggang Mita.


"Yee, bukan gitu juga Bang, sudah ah, kita siap-siap sholat dulu."


Mita pun menghamparkan sajadahnya, dan mengambil mukena." Tak berapa lama maghrib pun terdengar. Mereka pun sholat berjamaah.


"Aku pesankan go-Food aja ya."


"Baiklah Bang." Izzam pun memesan makanan untuk makan malam


Setelah selesai makan Izzam pun siap-siap pergi untuk menemui Hanan.


Izzam pun melaju dengan kecepatan sedang menuju Jl. Ahmad 77.


Sesampainya di tempat tujuan ia pun mengambil HPnya. Namun...


"Bang," Ternyata Hanan sudah lebih dulu datang.


"Oh, kau sudah datang?"


"Tentu saja, mana boleh adik ipar membiarkan kakak iparnya menunggu." Godanya😃.


"Ayo kita duduk!" Mereka pun mencari tempat duduk.


"Apa kau sungguh mencintai adik iparku?"


"Tentu saja Tuan, selam 2 tahun aku mencarinya tanpa tau di mana keberadaanya."


"Kami akan liburan ke indonesia, apa kau juga akan pulang?"

__ADS_1


"Benarkah? tentu saja aku akan pulang, apa aku boleh bareng kalian?"


"Boleh, ayo kita susun siasat!"


"Ho? siasat?" Ih Kakak ipar macam apa itu.


"Apa kau masih kuliah?"


"Tidak hanya menambah ilmu, hihi."


Aku akan membeli tiket untuk kita pulang berempat, agar kita bisa duduk berdampingan."


"Benarkah? oke, sangat bagus, aku akan bayar kemudian." Ucapnya.


"Apa aku boleh bareng juga?" Hamzah lun ikut bicara.


"Tentu saja," Balas Izzam.


"Tapi kira-kira kapan kalian pulang, aku mesti menunggu orang tuaku mengirimi uang untuk tiket."


"Mungkin minggu depan."


"Yaaaah, mungkin aku belum di kirimi uang tanggal segitu."


"Kau jangan khawatir, siapkan saja barang dan dirimu kau cukup duduk manis, aku akan mentraktir kalian pulang." Jawab Izzam lagi.


"Ha? apa benar?" Hamzah merasa tak percaya, mana ada orang sebaik itu.


"Iya, bagaimana? apa kau jadi ikut?"


"Mau..mau." Hamzah sangat senang.


Setelah itu Izzam dan Hanan pun terus mengatur rencana agar Mita dan Zila tidak tau rencana itu. Ish Kakak ipar aneh ya,😄.


Setelah panjang lebar akhirnya mereka pun memutuskan mengakhiri pembicaraan.dan pulang ke tempat masing-masing.


"Nan, apa calon kakak iparmu itu kaya sekali? kau sudah kaya kenapa dia mentraktirmu juga?"


"Apa?" Hamzah terbelalak.


Sementara Izzam sudah sampai di Apartemennya.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


"Bang sudah pulang?"


Hap


"Tentu saja, mana bisa aku pergi lama-lama, aku mau sholat isya dulu, tunggu ya!" Izzam pun pergi ke kamar mandi dan berwudhu.


Setelah sholat isya Izzam pun berbaring di samping istrinya.


"Sayang, aku ingin cepat punya anak." Izzam pun mengelus-elus perut istrinya sambil menghadap dan nafasnya sampai ke telinga sang istri, sedang Mita hanya diam dengan berbaring telentang.


"Seandainya dulu anak kita masih hidup, sudah usia 2 th lho Bang, sudah besar dan berlarian."


"Sayang, jangan ungkit lagi masa lalu, nanti akan menimbulkan luka lagi."


"Oh iya, bagaimana kabar Lili dan anaknya?"


"Lili sudah menikah dengan Ahyar, ank Pa RT dulu, emang buah tak jauh jatuh dari pohonnya, dia seperti mamanya suka keluyuran malam-malam."


"Benarkah? lalu bagaimana dengan Ahyar dan anaknya?"

__ADS_1


"Kasihan Ahyar, dialah yang dengan sabar menemani Qiara."


"Kalau Ahyana? gadis mungilku, hik." Mita terisak, sia sangat merindukan gadis kecil itu.


"Ayo kita telpon gadis kecilmu, dia sudah besar sudah 11 tahun."


"Oh, gadisku pasti sangat cantik."


"Dia tetap pakai hijabnya, dia sering memandangi fotomu di galeri Hpnya, dia juga lasti sangat terluka, kau benar-benar jahat Sayang, emh." Izzam pun memeluk erat tubuh istrinya erat. Membenamkan wajahnya di rambut istrinya di bawah telinga.


Mereka tertidur nyenyak, Izzam memeluk istrinya sampai pagi tanpa merubah posisi.


"Bang bangun!" sudah siang, ayo kita sholat!"


"Jam berapaa." Izzam masih terdengar serak karena masih ngantuk.


"Jam 05.40 Bang, Ayo, aku juga harus packing barang untuk persiapan pulang minggu depan.


" Hemmmm, Izzam pun melerai pelukannya dan telentang. Mita pun segera bangun dan beranjak bangun.


Hap


"Au." Izzam tiba-tiba memeluk tubuh istrinya sambil duduk dan membawanya kembali duduk.


"Bang, ayo sholat!"


"Pengeeeen." Izzam menggoda istrinya.


"Ish apaan sih, ayo!" Mita pun segera beranjak pergi meninggalkan Izzam.


Byur


Byur


Byur


Selesai mandi mereka pun sholat berjamaah. dan siap-siap untuk ke pasar mencari oleh-oleh di bawa pulang.


"Bagaimana dengan tokoku Bang?"


Izzam terlihat menggandeng tangan istrinya di sepanjang jalan.


"Jual saja, kita akan menetap di indonesia." Ucapnya sambil mempererat genggaman tangannya.


"Baiklah kalau itu mau Abang." Mereka pun memilih narang-barang yang ingin di bawa pulang, dari sendal dan topi dan tas yg di olah lokal. Mereka sangat bahagia.


Bruk


"Maaf" Tak sengaja Mita menabrak seorang pria di sampingnya karena sangat asyik memilih barang.


"Kakak Ipar?" Ternyata Hanan, hihi, pede amat dih.


"Kau? H-nan ya?"


"Iya Kak, Kakak sedang apa?"


"Mencari oleh-oleh buat di bawa pulang, kamu ngapain?"


"Cari oleh-oleh juga Kak, eh anu hihi."


Mata Izzam melototi Hanan tajam, hampir saja keceplosan.


"Mari Kak saya permisi." Hanan segera pergi.


"Aneh, ngomong kok putus begitu saja."


"Sudahlah, mungkin dia lagi sibuk.


Sementara Hanan jantungnya berdetak kuat, ada perasaan sedikit takut pada calon Kakak iparnya yang terlihat judes itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2