
"Kakak, Kakak, Ayana Telpon Papahmu... Ayanaaaa cepat!"
Zila Panik saat datang melihat Kakaknya berdarah. Sedang Lena hanya pura-pura sibuk ngelap minyak yang ada di kaki Mita.
"Iya kak." Ayana pun mengambil HP dan langsung nelpon Izzam. Zila pun nelpon taksi online terdekat.
Tap
Tap
Tap
Ruang Pemeriksaan.
"Dokter tolong istri saya, jangan sampai terjadi apa-apa, tolong." Izzam yang datang bersamaan pun sangat panik dan histeris melihat istrinya pendarahan.
"Kami harus memeriksa keadaan rahimnya dulu Pak," Izzam pun di perbolehkan menemani istrinya.
"Syukurlah Pak, bayinya tidak apa-apa, asal istirahat 90% dulu di rumah." Ujar Dokter, yang membuat Izzam tenang. Sementara di luar.
"Kak Zila, aku tadi liat lho kak Lena nyiramin minyak goreng ke kaki Ummi."
"Nyiramin? maksudnya apa Ayana?" Zila jadi penasaran.
"Iya Kak, kayaknya Kak Lena Marah sama Ummi, aku liat sendiri lho Kak, Kak Lena ngambil Minyak goreng sambil senyum, trus kayak di sengaja gitu jatuh depan Ummi, padahal kakinya nggak nyangkut di mana-mana."
"Ah masa? apa kamu nggak salah liat? eh tapi kamu diam dulu ya, jangan ngomong sama Papahmu, nanti kamu di marahin!" tegas Zila, dia akan membicarakannya dengan Mita nanti kalau sudah siuman.
*
*
*
Malam 22.00
"Pusiiiing." Mita mulai siuman dari pingsannya.
"Sayang, apanya yang sakit?" Izzam tampak sangat perhatian pada istri kurusnya itu.
"Pusing Bang, aku di mana?"
"Sayang, kamu harus istirahat dulu ya biar Zila yang nemenin, Lebaran besok mungkin kita di sini dulu sayang,"
"Abang, kita pulang saja, aku tidak apa-apa kok, ayo kita pulang."
"Ini malam sayang. besok pagi aja ya?"
"Malam ini aja bang, aku tidak apa-apa kok ayo! di sini aku malah tambah sakit." Mita memaksa.
"Baiklah, aku urus dulu. Zila, jagain Kakakmu ya, aku mau keluar sebentar.
*
*
*
Setelah berdebat dan berdebut😄 akhirnya Mita pun di izinkan pulang karena alasan esok lebaran. Setelah selesai beres-beres mereka pun pulang.
"Lho mas! kok jalan sini? ini mau ke mana?" Mita menyadari kalau jalan itu bukan mengarah jalan pulang.
"Kita pindah ke Kastel aja mulai hari ini, di sana kamu nggak perlu repot-repot harus masak dan nyuci."
__ADS_1
"Kastel? di mana?"
"Itu lho rumah Mamah yang waktu itu kita kunjungi."
"Rumah besar?"
"Iya sayang," sepanjang jalan Izzam terus memegangi tangan istrinya, kalau pas kena lampu merah dia akan menciumi kepala istrinya, so sweeet gitu...
"Hmmm" Mita pun hanya mampu mengerucutkan bibirnya.
Mereka pun sudah tiba di kastel Mahendra yang besar. Semua pelayanan rumah itu terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Izzam.
"Tuan, mengapa tidak mengabari terlebih dahulu?"
"Mbok, tolong bersihkan kamar bawah, dan juga kamar atas, mulai hari ini kami akan tinggal di sini," ujar Izzam.
"Baik Tuan."
Izzam dan Mita pun memasuki ruang keluarga yang terlihat luas dan ada kursi panjang lebar untuk rebahan.
"Sayang, kamu tiduran di sini dulu ya, para pelayan membersihkan kamar kita dulu."
"Baik Bang," Mita pun di angkat dari kursi Roda. dan di letakkan di atas sofa panjang.
"Zila, temani Kakakmu ya. Kalau butuh sesuatu tinggal panggil Aunte-aunte cantik di sana." Izzam menunjuk 2 wanita yang sedang duduk di kursi dekat pintu masuk ruang keluarga.
"Iya Kak."
Izzam pun keluar dari ruangan itu.
"Kak, mengapa di sini banyak sekali pembantu? apa nggak buang-buang uang?" Tanya Zila heran.
"Mana Kakak tau dek. Kakak juga baru di sini, ayo, kita tidur di sini aja udah jam 1 malam nih." Sedang Ayana sudah dari tadi tidur di atas hambal yang lembut dan bersih. Mereka pun terlelap sampai pagi hari.
"Uaaaaah, iih kok sesak banget," Mita pun membuka matanya.
sudah kebiasaan Izzam kalau tidur pasti sambil ngendus-endus tapak tangan istrinya itu.
Sementara Zila udah bangun dan sholat subuh di kamar Pelayanan, karena dia tidak membawa mukena.
Semua pelayan pagi ini sangat sibuk, karena suasana Idul fitri. Kepala pelayan pun menyiapkan hidangan yang sangat mewah.
"Huak, huak, huak." Mita tiba-tiba bangun dan muntah di atas permadani yang tebal dan indah.
"Sayang." Izzam pun kaget dan merangkul Mita.
"Ada apa sayang?"
"Entah, aku mual banget ni, ada bau-bau menyengat dari dapur bau kuah apa itu ya opor atau apa ya?"
"Aunte tolong panggilkan bibi."
"Baik Tuan." Semua pelayan muda akan di panggil Aunte, karena Izzam malas menghafal nama mereka.
Tap
Tap
Tap
"Ada apa Tuan?"
"Tolong buang semua makanan yang berbau bumbu-bumbu!"
__ADS_1
"Abang, kok di buang?"
"Kan kamu nggak suka baunya sayank."
"Jangan di buang sayang, nggak papa, nanti aku akan tutup hidung kok." Ucap Mita.
Kasian kan klo makanan yang sudah dari dini hari di buat harus berakhir di bak sampah.
"Tapi nanti kamu keluarin isi makanan di perutmu kalau nggak suka dengan baunya,"
"Nggak kok, jangan di buang, siapa tau nanti aku malah mau itu." bujuk Mita.
"Baiklah. Sekarang kamu mau makan apa?"
"Mau nasi kuning Bang."
"Bi apa ada nasi kuning?"
"Tidak ada Tuan,"
"Sekarang bikin!" Titahnya.
"Ih Bang nggak usah, aku mau nasi putih telor rebus aja deh." Mita kasian sama Bibi kalau harus bikin menu dadakan.
"Lho apa enak pakai telor rebus heh?" Izzam malah bertany heran.
"Enak kok Bang, aku sering kok gitu, pakai air di kasih garam." ucap Mita lagi.
"Nggak bergizi sayang, masa sang pewaris di kasih makanan gitu, garam dengan air?" Izzam terlihat tak suka.
"Sekarang aku lagi pengen gitu Bang." Izzam pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Kami mau ke mesjid dulu ya, mau sholat ied dulu, kamu tinggal di sini aja, ada Bibi ko."
"Mau ikut Bang,"
"Kamu sakit sayank, kalau kamu mau ikut maka aku nggak jadi pergi."
Izzam pun berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuan Mita.
"Iiih Abang, nggak asyik." Mita pun akhirnya mengalah.
*
*
*
Izzam dan para Aunte membawa 3 mobil sekaligus, karena pelayannya ada 21 orang dengan paman jaga pagar. Saat mereka datang, semua mata memandang dengan takjub, juga ada yang kurang suka.
"Izzam? Sudah pindahan ke sini lagi?- Seorang Bapak-bapak menyapa Izzam.
"Iya Pa, kami akan menetap di sini."
"Baguslah kalau begitu, kasian para pelayan nggak ada kerjaan hari-hari cuma bengong hihi." Ucap lelaki itu.
"Iya pak, tapi mulai hari ini mereka akan sangat sibuk karena aku membawa rombongan sekaligus."
"Pak Zam?"
"Hey, Pak Lesmana! ap kabar? waaah sudah 10 tahun lebih ya kita tidak pernah bertemu. Sekarang apa bapak tinggal di kota ini juga?"
"Iya, kami baru pindah dan menetap di sini."
__ADS_1
"Ayo mari, kita masuk, sholat akan segera di mulai."
BERSAMBUNG....