Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Ayah Qiara


__ADS_3

Lina sangat senang mendengar uang Papah Hanan ada 7M, dia mencari akal agar uang itu bisa berpindah ke tangannya.


"Kalau begitu? bagaimana kalau kita bikin rumah baru yang besar, dan juga kita bikin usaha seperti resto atau cafe gitu Mas?" Bujuk Lena pada papah Hanan.


"Bagus juga ide mu sayang, dari pada kita habiskan sia sia?" Sahut papa Hanan, kita namai saja dia pa Basit😁


"Biar aku yang urus semuanya sayang." Lena melingkarkan kedua tangannya di leher pa Basit manja, membuat Pa Basit percaya dan kini matanya berbinar menahan gejolak.


"Ayo, kasih aku satu penyemangat sore ini." La Basit pun menggendong Lena memasuki kamar dan mereka pun saling memberikan sentuhan demi sentuhan satu sama lainnya.


Sebentar lagi, aku akan menjadi orang kaya, hihihihi.


Lirih hati Lena di sela sela kegiatan asoy geboynya itu.


Setelah beberapa menit berlalu, kini mereka terdampar berkucuran keringat penuh makna.


"Sayang...besok aku akan mencari Tanah, lalu membeli bahan bangunan untuk pembuatan rumah ya?" Ucap Lena sambil terus memainkan ujung jari jarinya di atas dada bidang suaminya, walau pun sudah tua, namun Pa Basit masih terlihat tampan dan mempesona.


"Iya sayang...kita akan mulai hidup baru dan lunya anam yang banyak." Jawab Pa Basit, samnil mengelus pipi mulus Lena.


Ih Najis.


Lirih hatinya.


Lena pun pura pura tersenyum.


"Ngantuk, mau tidur..." Ucap Lena.


"Mandi dulu, ini hampir maghrib lho!" perintah Pa Basit.


"Enggak ah, bentar aja."


Lena pun coba memejamkan mata, namun di pelupuk matanya uang kertas yang berterbangan di atas kepalanya. Hingga akhirnya dia pun tertidur.


Saat Azan Maghrib, barulah Pa Basit membangunkannya.


"Sayang, belikan nasi goreng ya?"

__ADS_1


Ucap Lena setelah sholat maghrib berjamaah.


"Baik sayang, bentar ya." Pa Basit melioat sajadahnya dan mengambil mobil pemberian Hanan untuk membeli nasi goreng.


"Kamu ikut?" Tanyanya pada Lena.


"Nggak Mas, aku pegel ah, bekas tadi sore, Mas sih minta layanin berbagai macam gaya." ucapnya.


Ini demi uang


Lirih hatinya lagi.


"Hihi, maaf ya, oke, tunggu ya."


Pa Basit atau papah Hanan oun oergi meninggalkan kontrakkan Lena.


Drettt dret drett


Lena sedang menelpon seseorang.


'Yes, berhasil sayang!' teriak Lena saat telpon itu di angkat.


'Sebentar lagi, aku pasti mendapatkannya, kau tunggu saja. Lena pun menutup telpon dan kembali berbaring karena merasa lelah setelah memuaskan Pa Basit dengan cinta palsunya. Bukankah berpura pura itu sangat melelahkan?.


...


...


...


Tok tok tok


Pagi hari. Jam 10.


Terdengar ketukan di pintu Lili di rumah lama Izzam.


Ceklek

__ADS_1


"Kau? siapa kau?" Lili pura pura tidak mengenali lelaki yang berdiri di hadapannya.


"Aku ingin bertemu anakku. Di mana dia?" Tanya Lelaki itu serius.


"Anak? hello... siapa kau? menanyakan anak kok datang ke mari? kau kira ini tempat pembuangan anak apa? pergi!" Usir Lili


"Heh, jangan kau pura pura lupa malam itu, kita... bertiga di atas ranjang yang sama." ucapnya sinis.


Gila ni orang, nggak pikun juga rupanya.


Lirih Lili.


"Aku punya bukti malam itu, saat kau memaksaku masuk ke kamarmu, aku sudah merekamnya kembali. Jadi aku ingin anakku itu kau serahkan padaku. oh iya, Aku sudah membuntutimu selama 2 th terakhir ini, jadi kau tidak bisa berkelit lagi, bahwa anak itu memang anakku, kau tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun 2 th terkhir ini."


Lili merasa dunianya kali ini runtuh, dia merindukan lelaki tampan yang kaya raya, namun malah lelaki bau tanah yang datang, walau ada kemungkinan laki laki itu juga kaya raya, dari penampilannya.


"Besok aku akan kembali lagi, ingat, akau akan menuntutmu kakau kau tidak memberikan hakku!" Ancam lelaki itu.


Lili terdiam, dia tidak bisa berkutik, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Lelaki itu lun pergi.


Bruk


Lili terduduk tak berdaya.


"Mamaaaaah, mengapa nasibku begitu siaaaaal." Lili berteriak.


Mamahnya yang masih terbaring di rumah sakit karena penyakit kanker servicnya terperanjat seakan bermimpi buruk.


"Lili..." Lirihnya.


"Ada apa Nyonya? kau sudah bangun?"


Tami terlihat lemas pasca operasi.


"Tolong telpon Lili, suruh dia kemari besok, aku ingin membicarakan sesuatu."


"Baik Nya.."

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2