Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Di Jemput Terpaksa


__ADS_3

Prang


"Nyonya besar, ada apa?"


Aunte tergesak-gesar mendatangi Kamar Mita, karena terdengar benda jatuh dan pecah.


"Aunte, tolong rapi in beling gelas, tak sengaja tersenggol," Ucap Mita.


Tring tring tring.


{Kakak, aku udah di bandara ni, kok nggak ada yang jemput?}


Zila tampak kecewa terdengar di sebrang telpon.


{Tadi Kak iparmu udah berangkat, sekalian ada urusan kok belum nyampai?}


Sahut Mita lagi.


{Nggak ada Kak? bentar lagi Magrib nih, apa Zila pakai taksi aja?}


{Jangan! tunggu di situ biar paman yang jemput, tunggu ya}


Mita pun menyuruh Aunte memanggil paman, namun pamannya lagi keluar, terpaksa dia menyuruh orang lain.


*


*


*


"Hai sayaaaang, mmmm udah dateng?"


"Ha!???? Tuan? ngapain Tuan ke sini? nggak mungkin kan Kak Mita yang nyuruh?"


"Emang iya! kak Mita yang nyuruh." Hanan dengan angkuhnya merebut koper Zila dengan paksa dan berjalan dengan gaya collnya sambil memasang kacamatanya.

__ADS_1


"Kaka ipar mana?" Zila pun terpaksa mengimbangi langkah tunangannya itu agar tidak ketinggalan, tubuh mungilnya dan jubah panjangnya yang berkibar-kibar karena menerjang angin dengan jalan cepatnya.


"Kak ipar lagi sibuk Kan kak Mita baru lahiran, seorang penguasa keluarga Mahendra kemudian, jadi aku yang jemput calon Ratu dan calon benih bayiku nanti yang ada di rahimmu. kelak juga akan jadi penguasa tunggal keluarga Teguh Anggara orang paling kaya no 15 se Indonesia hihi." Hanan pun tetap berjalan tanpa menoleh, namun sambil cengar cengir.


"Lebay ah Tuan, nggak boleh menyombongkan diri, bukankah iblis di usir dari syurga karena rasa sombongnya." Zila coba menasehati calonnya itu. Dia merasa geli sendiri, calon benih bayi, ih. Zila bergidik sendiri membayangkan, nikah juga belom.


"Baik tuan Putri, silahkan." Hanan pun menunduk dan mempersilahkan Zila memasuki mobil karena pintunya sudah di buka Hanan.


Zila pastilah duduk di belakang, sedang Hanan terpaksa jadi sopir.


"Sayang, ini udah satu tahun kan? kita nikah ya?"


"Aku perlu izin sama Kak Fasha, karena dia wali nikahku Tuan." Jawab Zila.


"Sayang! kok manggilnya Tuan terus, nanti di kira pembantu lagi, hihi, yang manis dong,"


"Nanti Zila pikirkan." Zila pun tersenyum simpul.


"Kamu liburan atau udah tamat nih?"


"Dua-duanya." Jawabnya lagi.


"Nanti aku pikirkan dulu,Tuan, sekarang fokus saja pada kemudi."


"Di depan macet, ada apa ya?"


mereka pun menepi dan Hanan pun turun dari mobil.


"Ada apa Pak, kok rame bener?"


"Ada kecelakaan Anak muda. Sadis, Korbannya sudah di bawa ke rumah sakit, seorang pengusaha kaya, sepertinya begitu, melihat dari keadaan mobil mewahnya.


" Eh Zila...kau mau, ke mana?"


Tiba-tiba Zila berjalan dengan tatapan kosong dan tangan gemetar mendekati mobil yang terbalik itu. Karena belum di beri garis polisi, jadi masih bisa untuk mendekat.

__ADS_1


"Kak Zam, apakah ini mobil Kak jam?"


Air mata Zila mulai menetes di ujung mata.


"Zila, apa maksudmu? ini mobil kakak ipar?"


Zila tak menjawab, dia mempercepat langkahnya dan menengok ke dalam mobil untuk mencari sesuatu.


"Nona, hai siapa kau? kenapa kau seperti mencari sesuatu. Jangan mengambil barang orang!" Teriak bapak-bapak yang melihat Zila menengok ke dalam mobil.


"Kak Zaaaam, hik hik hik, di mana? di mana orang ini? tolong, dia Kakakku." Tiba-tiba Zila, berteriak, semua orang yang tadi saling asyik ngobrol berkelompok pun kaget, melihat wanita bercadar itu berteriak. Zila hanya gadis berusia 19 tahun, jiwanya masih sangat muda, dia belum 100 persen bisa mengendalikan diri untuk rasa sakit dan khawatir yang sekarang dia rasakan.


Akhirnya Hanan pun bertanya pada seorang Bapak menanyakan rumah sakit mana yang di tuju, bapak itu pun memberi tahu. Hanan dan Zila pun meluncur ke tempat tujuan.


"Tuan, apa yang akan aku katakan pada Kak Mita, bagaimana ini? bagaimana dengan Kakak dan juga anaknya?"


"Kita lihat dulu, mungkin saja Kak ipar tidak apa-apa."


"Kau dengarkan kata mereka tadi, bahkan wajah Kak Zam saja tidak bisa di kenali, bagaimana ini?" Zila terus terusan berkata dan bertanya, seakan akan ini adalah ulahnya.


Mereka pun sampai di rumah sakit yang di tuju.


*


*


*


Di tempat lain.


"Bu, kami sudah menyelesaikan tugas kami, sekarang kami minta upah." Dua lelaki yang turun dari mobil Pan itu sedang bercakap-cakap dengan wanita yang memakai kaca mata dan juga masker.


"Oke, sure....ini 50 juta. Ingat! apa pun yang terjadi kalian tidak boleh buka mulut. mengerti?"


"Tentu Bu. Terimakasih banyak." Mereka pun tampak pergi ke arah yang berbeda.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Mohon ibu jarinya di bagi ya, vote atau bunga juga boleh😁


__ADS_2