
"Mamah! Bibi, Nicol? apa kalian di dalam?" Teriak wanita itu berulang ulang, dia pun masuk dan menuju dapur. tak menemukan siapa pun, dia naik ke tangga atas.
Bruk.
Membuka kasar pintu Hanan.
"Sepi. kemana mereka ya?" Gumamnya pelan.
Tap
Tap
Tap
Dia menuruti anak tangga dan berdiri di tengah ruang tamu, matanya tertuju ke kamar tamu.
Tap tap tap
Mendekati kamar tamu.
"Sinta!" Bentak Mamah Hanan yang tiba tiba nyembul dari dapur.
"Mamah," Sinta segera mendekati Mamah Hanan dan mencium tangannya paksa.
"Ih apan sih? ada apa kau ke mari?" Tanya Mamah Hanan sangat tak bersahabat.
"Aku ingin bertemu Nicol." Jawab Sinta santai, seakan tak bersalah apa pin.
"Nicol? dia bukan Nicol tapi Hanan, sekarang dia sudah di luar Negeri lagi bulan madu dan menetap di sana." Ucap Mamah Hanan.
"Kapan? jangan bohong mah," Balas Sinta.
"Kalau kau tak percaya, tanya aja sendiri dengan sahabat busukmu itu!" Mamah Hanan pun duduk di sofa.
"Sahabat busuk? siapa?" Sinta pura pura blagu.
"Alaaah, mau apa kau ke mari?"
"Mah, tolong restui aku dengan Ni eh Hanan, aku sangat menyesal atas apa yang telah ku lakukan 2 tahun lalu mah." Rengek Sinta sambil bersujud di kaki Mamah Hanan.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah merestui kau dengan Hanan, cukup menantuku yang sekarang yang beradab, apalagi sekarang aku akan punya cucu." Ucap Mamah Hanan.
"Apa? karung beras itu hamil?" Sinta kaget saat mengetahui istri Hanan hamil.
"Apa maksudmu karung beras heh? lalu apa pakaian yang kau gunakan sekarang heh, telanjang!." Ucap Mamah Hanan judes.
"Mah, bagaimana dengan Cucu mamah yang lain? heh? apakah kau tidak ingin tau?" Sinta yakin kalau dia membongkar rahasia Lili di depan Zila, Hanan pasti tidak berkutik, itu perkirannya.
"Heh, Lili maksudmu heh?"
"Mamah, dari mana mamah Tau?" Sinta heran.
"Jangan panggil aku mamah, aku tak sudi jadi mamah mu, ayo pergi sana! sebelum ku panggilkan polisi." Mamah Hanan mengusir Sinta keluar, dengan menarik tangan Sinta.
"Mah, tolong beri aku kesempatan." Rengek Sinta berulang ulang.
"Tidak ada kesempatan, bagi orang sepertimu."
Bruk.
Mamah Hanan menutup pintu kasar.
"Mah, buka!"
(buk buk buk, menggedor2 pintu)
"Mamah..."
Sial, harus bagaimana lagi ini, kalau aku tidak bisa mendapatkan Hanan, wanita itu pun tidak boleh.
Lirihnya
cling
"Aku ada ide."
__ADS_1
Sinta pun pergi meninggalkan rumah tersebut. dengan senyuman licik penuh makna.
Tak terasa hari sudah sore.
ting tong
"Paket..."
Ceklek
"Untuk siapa?" Bibi yang membukakan pintu.
"Untuk Pa Hanan bu."
"Oh, iya," Bibi pun menerima pesanan itu.
"Ada apa Bi?" Mamah Hanan keluar memeriksa.
"Punya Tuan Hanan, sepertinya makanan, atau apalah Nuonya."
"Bawa saja masuk, biar letakkan di dapur saja Bi."
"Baik Nyonya."
...
...
...
"Mah, ada lauk nggak laper nih." Jam baru jam 5 sore ketika Hanan memasuki dapur.
"Kotak makanan apa nih?"
Hanan pun membuka paket yang yadi datang.
"Wah enak nih, pasti Zila yang pesen, rujak manis pedes, aku icipin ah."
Hanan pun memakan rujak satu demi satu, namun terasa nikmat, karena rujak itu ada 2 bungkus, ternyata dia sudah menghabiskan 1 bungkusnya.
"Tadi lagi tadarrus mah, habis sholat ashar." jawab Hanan.
"Kok kamu nggak ikutan tadarrus?" Tanya Mamahnya.
"Hanan laper mah, nemu ini, punya Zila ya? enak mah, habis nih satu porsi." sambil cengengesan.
"Lho, itu kan kamu yang mesen?" Mamah malah heran.
"Nggak ada kok mah! mungkin Zila kali ya." Sahut Hanan.
Semenit, dua menit, tiga menit Zila belum keluar juga.
teng 15 menit.
"Aduuh, perutku sakit.mamaaah."
Hanan meringis sambil memegangi perutnya.
Mamahnya yang sudah pergi dari dapur entah ke mana tentu saja tak mendengar.
"Mamah, aduh, ada apa ini, kok perutku tiba tiba sakit ya?" Dia terus meringis menahan sakit.
Hanan pun masuk WC. Namun tak keluar keluar.
"Babang! di mana?" Zila memanggil manggil, namun tak ada sahutan.
"Suka ngilang deeeh." Gerutu Zila sambil manggut manggut.
"Ada apa Zil?" Tiba tiba Ayah mertua datang.
"Lihat Bang Hanan nggak Pah?" Tanya Zila dan duduk di depan rujak.
"Nggak ada! di Wc ada orang nggak? Papah sakit perut nih." Papah juga menepuk nepuk perutnya.
"Nggak tau Pah, Zila baru ke sini." ucap Zila, matanya tertuju ke rujak yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Apaan nih?" Zila penasaran dan membuka wadah yang satunya.
"Hemmm, enak nih, punya siapa ya?" Zila tentu saja tak mau langsung memakan kalau nelum ada izin dari pemiliknya.
Buk buk buk
"Ada orang?" Papah Hanan mengetuk pintu Wc namun tak ada sahutan.
"Coba dorong Pah, mungkin ke tutul aja!" Ucap Zila
Buk
Namun tak bisa di buka.
"Siapa di dalam?" tak ada sahutan.
"Pah, dorong pah, Bang Hanan, apa kau di dalam?" Zila pun mendekat.
"Ada apa kok ribut ribut?" Mamah Hanan yang datang.
"Siapa di dalam Mah?" Tanya Papah.
"Nggak tau, tadi ada Hanan di sini. Makan rujak pesenen Zila." Ucap mamah.
"Ha? Zila nggak ada pesen rujak mah!" Zila bingung dan mulai berpikir.
"Tadi ada rujak datang 2 porsi, Hanan makan satunya, kirain..."
Belum sempat Mamah ngomgong.
"Babang...buka..Bang...Pah, ayo dorong pah."
Papah Hanan pun mendorong, namun tidak bisa. Security pun di panggil untuk membantu.
Bruk
"Babang...hik hik hik..bangun."
"Ayo Pah, bawa ke rumah sakit!" ajak Mamah Hanan.
Sementara Zila hanya bisa menangis melihat suaminya tergeletak di lantai.
"Babang, ada apa? kok begini?"
Sambil terus berjalan mengikuti Papah Hanan yang menggendong suaminya.
"Tadi dia makan rujak, aku tidak tau kalau kalian berdua tidak memesan itu, lalu siapa yang mengirim? atau jangan jangan?" Otak mamah pun berputar dan mencurigai Sinta.
"Ada Mah? jangan jangan apa?" Zila panik dan lenasadan.
"ah, sudahlah, ayo naik."
Mereka pun masuk ke mobil dan melaju dengan cepat.
"Babang, hik hik hik. jangan meninggal Bang, kasian anak kita Bang..." Zila terus menangis sepanjang jalan menuju rumah sakit.
Ini pasti perbuatan Sinta, Zila tidak boleh tau, rumit sekali masa lalu Hanan ini ah, bikin aku frustasi.
Mamah Hanan ikut menangis, melihat Mantunya menangis.
"Sayang, sabar dulu ya, mudahan tidak apa apa."Mamah Hanan mengusap pundak Zila lembut.
"Sebenarnya rujak itu punya siapa Mah? apa jangan jangan Lili yang mengirimnya untukku, namun salah sasaran?" Ucap Zila
"Sayang, jangan memikirkan yang tidak tidak dulu, jaga kesehatanmu, jangan stres."
"Babang..."
Zila memeluk tubuh Hanan.
BERSAMBUNG....
please pleas pleas
like and komen, walau hanya kata kata singkat, sangat berarti bagi popularitas othor😘
__ADS_1