Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Menghilang tanpa jejak


__ADS_3

Setelah di olesi minyak kayu putih akhirnya Mita pun terbangun.


"Bang Zam, Bang Zam, tolong bawa aku menemuinya."


"Kakak, ayo minum dulu." Zila pun membangunkan kepala kakaknya dan bersandar di bahunya.


"Zila, tolong bawa Kakak."


"Iya, Kak, nunggu Kak Fasha, biar dia bisa urus segala keperluan di sana nanti."


Tak berapa lama Fasha pun datang.


"Kak Mita, ayo." Fasha pun memapah tubuh kakaknya yang sangat lemes, sementara Ezra tampak di gendong seorang gadis cantik berhijab,"


"Bibi mana Aunte?" Mita mencari Bibi yang biasa menggendong Ezra kalau Mita lagi kepepet mau mandi atau lain-lain.karena Mita tak ingin anaknya di asuh oleh orang lain kecuali dia sangat terpaksa.


"Ibu sakit Nyonya, dia pusing dan mual, saya anak Bibi itu, di suruh gendongin Ezra hari ini." Ucap Gadis itu.


Zila pun menatap gadis itu dan tersenyum.


"Baru tau kalau Bibi punya anak gadis cantik." Ucap Hanan sengaja, sambil menatap Zila."


Zila pura-pura tidak mendengar.


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana.


"Suster, mana pasien yang ada di dini? kok nggak ada?" Zila yang duluan masuk heran.


"Maaf Mbak, tadi ada orang yang menjemput, katanya keluarganya, dan mereka akan memindahkan pengobatannya ke Rumah sakit yang lebih lengkap alat-alat medisnya."


"Hah? Siapa?" Mita makin tambah lemes, dia pun terduduk di lantai rumah sakit, lututnya seakan tidak bisa lagi menopang tubuh kurusnya.


"Tidak tau Bu, seorang laki-laki paruh baya. dan 2 pemuda seusia Tuan."


"Siapa mereka?" Zila tampak panik.


"Maaf mereka mengaku keluarga, dan menunjukkan berbagai bukti, jadi kami tidak menolak untuk memberi izin keluar."

__ADS_1


"Bang Zaaaaam, hik hik hik, dimana kau Baaaaang?"


Bruk


Sekali lagi Mita pingsan. Mita pun di baringkan di ranjang bekas Izzam di rawat. Setelah beberapa saat, Mita pun sadar. Dia diam bagai patung. Matanya merah, tangannya tampak bergetar. Malam semakin larut.Mereka pun memutuskan untuk pulang ke Kastel.


*


*


*


Mita dan keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga di Kastel Izzam. Seminggu sudah berlalu, Mita sangat sedikit bicara, hanya hal penting yang mau dia jawab.


"Kak, aku mau bicara serius." Hanan yang sering datang dan menemani Fasha ngobrol tampak ingin membicarakan sesuatu dengan Mita.


Mita hanya mengangguk.


"Kak, aku ingin menikahi Zila."


Mita pun menatap sejenak wajah Hanan, lalu menatap wajah Zila yang saat ini sedang bermain dengan Ezra di ayunan di pojokan.


"Benarkah? Kakak mengizinkan?"


Mita hanya mengangguk.


"Baiklah. Terimakasih Kak." Hanan pun keluar menuju teras, Fasha sedang merokok di kursi depan rumah.


"Kak Fasha, kata Kak Mita, nikahkan Kami hari ini juga!"


"Hah? menikah? mengapa dadakan?"


"Bukan dadakan Kak, udah lama sejak setahun dulu."


"Tunggu, aku mau bicara sama Kakak dan Zila. kau diam disini, jangan nguping, kalau nguping,awas kau!" Hanan hanya menuruti dan terus bedo'a dalam hati.


Ya Allah restui kami, mudahan kami berjodoh ya Allah.


dia terus berdo'a hatinya berdebar-debar

__ADS_1


Sementara di dalam.


"Zila, bagaimana? apa kau siap menikah hari ini? tapi kita tidak bisa mengadakan resepsi seperti orang-orang, karena kondisi kita lagi bersedih."


"Terserah Kakak saja, yang mana baiknya." jawab Zila.


"Kalian menikah saja, biar halal, biar kamu dan Hanan nggak lagi berjarak kalau ada urusan keluar." Ucap Mita. walau dengan tatapan kosong Mita sangat berharap adiknya bisa bahagia.


"Baiklah, kalian menikah hari ini juga."


Fasha pun keluar dan menemui Hanan.


"Hanan, ayo telpon orang tuamu, aku akan mencari penghulu dan keperluan lainnya, kalian akan menikah hari ini juga sekarang juga."


"Hah? benarkah, cup cup terimakasih kakak ipar."Hanan tiba-tiba mencium pipi Fasha.


*


*


*


"Mi, apakah ada kabar dari Papah? katanya Papah kecelakaan?"


"Tidak tau Li, aku juga tidak bisa ke sana untuk memastikannya." Tami dan Lili tampak duduk di teras rumah sambil menikmati teh panas dan cemilan ringan.


"Coba Mamah telpon pak Bambang, siapa tau dia tau."


"Males Li, ngapain, biarin aja, aku pengennya dia mati sekalian kan."


"Mah, kok ngomong gitu sih. Walau bagaimana pun dia juga papah aku Mah."


"Bukan, dia bukan Papahmu."


"Mah, apa maksudnya?"


"Oh, baiklah, karena terlanjur, kau harus tau, dia bukan Papahmu."


"........" Lili.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2