Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
DIAM ITU EMAS


__ADS_3

Tok Tok Tok.


"Ummi, buka pintunya." Ayana sedang memanggil di balik pintu Mita.


Ceklek.


"Ada apa nak?" Mita pun membuka pintu dengan mata yang sembab dan merah.


"Ummi nangis? ada apa?" Ayana pun meraih tangan Mita, gadis itu menatap mata Mita tajam.


"Tidak kok Nak, hanya kelilipan saja, kamu kenapa? mau makan? ayo!"


Mita pun menggandeng pundak Ayana menuruni anak tangga menuju dapur.


"Kak Lili mana?" Tanya Mita


"Kak Lili minta bawakan makanan ke kamar Mi, katanya perutnya terasa sakit."


"Benarkah? baik, Ummi siapkan dulu ya." Mita pun dengan cekatan mengambilkan nasi dan juga lauk dan segera menuju kamar Lili.


"Li kamu kenapa? apa perutnya sakit banget?" Mita pun meletakkan piring di meja rias.


"Iya Mi, rasanya mules, mau makan dulu Mi, Lili juga lapar." Lili pun bangun dan duduk di tepi ranjangnya.


"Ini." Mita pun menyerahkan nasi pada Lili, Lili pun makan dengan lahap, namun baru separo jalan, Lili pun meringis.


"Mi sakit banget Mi, apa Lili akan melahirkan ya?" Lili terlihat cemas dan terus kesakitan.


"Ayo kita ke Rumah sakit! Ayana, tolong bawa tas Kakak yang ada baju-baju bayi!"


Mita pun keluar sambil menggandeng Lili, Dua ibu hamil itu saling bergandengan.


"Paman, tolong panggilkan taksi online!" Mita pun minta tolong pada paman satpam untuk menelpon taksi.


"Baik Non." Dengan cepat Paman pun menelpon. Dan selang 15 menit Taksi pun datang.


"Ayo Li!" Lili pun masuk dengan di bantu Mita.


Kandungan Mita sekarang sudah besar berusia 7 bulan. Namun dia berusaha untuk membantu Lili walau sebenarnya dia pun kesusahan. Dia sengaja tidak menelpon Izzam, karena dia tau, pasti suaminya itu sedang berduaan dengan mantan istrinya.


Sesampainya di Rumah sakit, Lili pun di bawa keruang bersalin, setelah di cek sudah pembukaan 4, Mita bingung harus bagaimana, akhirnya dia pun menelpon Bu Inah, pemilik kontrakan dan pemilik rumah Yang dulu di beli oleh Mita. Karena sebenarnya ibu Inah sangat baik, dan pertengkaran dulu karena Mita tidak bisa bayar kos sudah saling bermaafan.


"Assalamualaikum, bu....maaf mengganggu, apa ibu sibuk?"


"Tidak Mita, ada apa?"

__ADS_1


"Apa ibu bisa ke Rumah sakit X, Lili mau melahirkan bu, saya bingung, sedang Papahnya lagi sibuk, belum bisa di hubungi." bohong Mita, padahal dia belum menelpon Izzam.


"Baiklah Mita, tunggu ya."


Mita pun lega, dia pun kembali memeriksa kondisi Lili, sedang Ayana tidak boleh masuk, jadi dia hanya bisa menunggu di depan.


"Bagaimana Li?"


"Sakit Mi, tolong Mi, pinggang Lili rasa mau lepas Mi." Lili terlihat kesakitan. Mita pun sangat panik. Ini adalah pengalaman pertama Mita,


"Bu, bagaimana, apa dia akan melahirkan secepatnya?" Mita berulang-ulang menanyakan itu pada suster, membuat suster sedikit kesal.


"Apa suami Ibu itu ada? kenapa harus Anda yang sedang hamil menemaninya?" Tanya suster itu.


"Suaminya lagi keluar kota untuk urusan bisnis Bu suster, apa sebaiknya operasi saja Bu? kasian dia." Mita terus bertanya dan benar-benar membuat suster kesal.


"Kalau mau operasi sebelum dia kesakitan Bu, kalau sudah begini jadi sakit dua kali Bu, lagian bayinya juga kecil, nanti kalau waktunya dia akan lahir Bu, kita tunggu dulu, ini juga baru pembukaan 6, biasanya ada yang sampai bermalam-malam kok baru lahiran."


"Aduuuh, Ummi tolong." Lili terus berteriak dan merengek, sehingga membuat Mita tambah panik.


"Mita, bagaimana?" bu Inah datang.


"Bu Inah, terimakasih."


Bu Inah pun segera mendekati Lili yang kesakitan dan memijat-mijat punggung dan pinggang Lili, Lili pun sedikit tenang.


Tepat jam 8 malam.


"Ayo mengejan yang benar, seperti kamu mau beol, ayo terus."


"Eeeeeeee.....eeee....." Lili terus berusaha menuruti perintah 3 suster yang menanganinya, sementara Bu Inah terlihat membacakan do'a do'a di ubun-ubun Lili.


Lili terus berusaha sekuat tenaga agar rasa sakitnya itu cepat keluar.


Sementara di tempat lain, Izzam yang baru bangun dari pingsannya gara-gara minum obat tidur pun sadar, dia sangat terkejut melihat di sekitarnya.


"Dimana aku ? mengapa aku ada disni?" Tananya.


"Mas sudah bangun?" Tami tiba-tiba keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk di dada dan pahanya, terlihat sangat seksi.


"Kau! kenapa kau bawa aku kesini, sial." Izzam pun segera mengambil Hpnya dan melihat jam.


"Jam 8, sial." Dia pun berjalan keluar dan menutup pintu.


Bruk.

__ADS_1


"


Tring


Tring


Tring


Beberapa kali menelpon Mita, namun tak ada jawaban, Izzam pun segera mencari mobilnya, namun naas, dia tidak bawa kunci. Pasti ketinggalan dikamar. Dia tidak ingin bertemu Tami lagi, dia pun memesan Taksi, urusan mobil itu urusan nanti. Izzam melaju cepat menuju kediamannya.


"Pa, lebih cepat lagi ya?" Pinta Izzam pada sopir taksi. Sopir pun mempercepat laju mobilnya. Sesampainya di halaman rumah, izzam pun turun dan membayar ongkos taksi.


"Pa Izzam, Non Lili di Rumah Sakit Pa, dari kemaren sore, katanya mules, mungkin sekarang sudah melahirkan."


Ucap Paman satpam pada Izzam saat sampai pintu gerbang.


"Benarkah? mengapa Mita tidak menelpon ku ya?" Dengan langkah seribu dia pun masuk ke rumah dan mengambil kunci motor. Dia pun berangkat ke Rumah sakit dengan menggunakan motor. Setelah berjam-jam Izzam pun sampai Rumah Sakit. Izzam langsung turun dan mencari nama Lili anaknya. Setelah ketemu dia pun berlari-lari kecil menuju ruangan Vip.


"Lili, oh anakku, mana cucuku?" Izzam pun menggenggam tangan Lili dan mengecup keningnya berulang-ulang. Sementara Mita terlihat diam-diam keluar dari ruangan jtu, air matanya tak mampu di bendung saat melihat suaminya itu, bayangan perselingkuhan tadi malam membuat hatinya remuk. Di luar, Mita pun duduk di kursi panjang.


"Ahyar? apa kau sama bu Inah?" Ternyata ada Ahyar ank Pa Rt yang datang bersama Bu Inah.


"Iya mbak, tadi Bu Inah menyuruh pulang, tapi kasian kalau perlu sesuatu aku bisa bantu, apa Mbak sudah makan pagi?"


"Belum, aku tak berselera makan, kalau kau mau pulang, pulang saja."


"Apa Mbak benar-benar tidak perlu sesuatu?"


"Tunggu sebentar, aku ingin menelpon seseorang."


("Hello, Ny.Tami, Lili sekarang sudah melahirkan di Rumah Sakit, apa Mbak bisa kesini? nanti akan aku kirim alamatnya.")


("Baiklah, aku akan ke sana")


Mita pun mengirim alamatnya.


"Ayo kita pulang, tolong antar aku ke rumah yang kami beli dulu."


"Ummi! Ummi mau kemana?" Tiba-tiba Ayana muncul di balik pintu.


"Ummi mau ngambil baju dulu ya, kamu diam sama Papah, Ummi pakai motor jadi nggak muat kalau kamu ikut."


"Baiklah, jangan lama-lama ya Ummi."


Mita pun berangkat meninggalkan rumah sakit. Dia terlihat masih sesekali menyeka air matanya dengan ujung cadarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2