
Setelah lelah menyusuri jalanan malam, mencari cemilan, akhirnya mereka menemukan pedagang kaki Lima yang lagi jualan empe-empe.
"Mas, dua porsi ya, pedes." Ucap Izzam pada Paman itu.
"Emang Abang nggak mau?" Tanya Mita penasaran.
"Kalau aku mau, berarti aku ngidam juga dong!" Jawab Izzam sambil terkekeh.
"Yeee, nggak gitu juga kale." Sahut Lili asal.
"Kalau aku pesan satu porsi, nanti malah disuruh aku yang bayar." Ucap Izzam lagi sambil senyum senyum.
"Masa pengusaha kaya pelit." Lili pun menggoda Papahnya.
"Ini Tuan, sudah masak!" Paman itu pun menyerahkan empe-empe yang sudah masak pada Izzam.
"Ayo!" Ajak Mita pada Lili.
"Kemana Mi?" Mita menoleh Mita yang membawa Empe-emepe berjalan kebelakang nya.
"Ke Mobil lah! biar nggak di lihat orang" Ucap Mita lagi.
Akhirnya mereka pun masuk mobil dan membuka cadar. Sedang Lili tidak menggunakan cadar, kadang kadang saja kalau dia pengen. Pakai kerudung pun sebenarnya dia agak sedikit terpaksa, tapi mau bagaimana lagi, karena kalau dia menolak dia takut ibu sambungnya itu tidak memperdulikannya.
💐💐💐
Waktu berlalu begitu saja. Tak terasa hari yang di nanti pun telah tiba. Zila akan meneruskan untuk menuntut ilmu di Negeri sebrang. Dia pun terlihat pamit pada para guru dan juga sahabat sahabatnya.
"Zil, kenapa harus pindah sih? disni juga bagus kok! hik hik hik." Sahabat dekatnya itu sangat sedih dan menangis sambil memeluk zila.
"Dina, aku ingin belajar lebih banyak lagi, memang disini sudah sangat baik, tapi aku ingin mencari pengalaman lagi, di sana pasti banyak tantangannya, apalagi aku harus menggunakan bahasa Arab setiap saatnya."
Zila pun terlihat tegar, walau sebenarnya juga sedih, tapi rasa bahagianya yang bisa membendung air matanya supaya tidak keluar.
"Jangan lupakan kita ya Zil!" Ucap sahabat nya yang lain.
Mereka pun saling berpelukan, sementara Izzam, Ayana dan Mita menunggu di depan mobil. Tiba-tiba Izzam mendekati mereka dan mengeluarkan segepok uang 😄.
"Jangan menangis lagi, ini buat kalian shoping ke Mall" Mata mereka pun melotot kaget.
"Kaka ipar, apaan sih? mana boleh mereka ke mall, sekarang lagi musim Coved, mana boleh sembarangan ke Mall" Ucap Zila pada kaka iparnya itu. Sementara Teman-temannya bingung antara mau ngambil atau nggak.
"Udah ambil aja, siapa tau mau beli Kitab atau lainnya." Mita pun menyahut dari jarak jauh.
"Terimakasih Pa! Jazakamullah khoiran katsiran." Ucap mereka barengan.
__ADS_1
"Terjemah Zil" Ucap Izzam sambil tersenyum.
"Katanya, semoga Allah membala kebaikan kaka sebanyak banyaknya, aamiin." Translet Zila
Sebelum berangkat ke Tarim, Zila istirahat dulu di rumah selama 15 hari. Dia menghabiskan waktu dengan sibuk belajar bahasa Arab, Ayana pun nggak ketinggalan.
"Kak, emang di sana bahasa apa sih?" Ayana comel yang cerewet pun mengganggu konsentrasi kak Zila yg lagi asyik bolak balik Kamus.
"Bahasa Arab Dek, kan di sana adanya bangsa arab aja, kalau pun ada orang Indonesia paling cuman dikit." Jawab Zila.
"Entar, kalau kakak kelamaan di sana, apa kakak akan lupa bahasa Indonesia?" Tanya nya lagi, bikin Zila nggak konsentrasi.
"Mungkin!,udah ya, kakak mau BAB dulu Ayana ke kamar Ummi aja ya?" Zila pun menuntun Ayana keluar kamar, dan dia pun kebelakang untuk menunaikan hajat. Selesai BAB Zila masuk kamar dan menguncinya, mungkin tidak ingin di ganggu Ayana lagi.
💐💐💐
Tak terasa, hari yang di tunggu pun tiba, semua barang-barang yang akan di bawa Zila pun sudah siap. Zila pun di antar ke bandara saat berada di bandara mereka duduk di kursi depan halaman bandara untuk menunggu waktu yang masih lama. Ayana terlihat selalu duduk di pangkuan Zila, dia sangat sedih di tinggal Tantenya yang cantik dan baik hati itu, sementara Fasha kakaknya hanya bisa mendo'akan dari jauh, karena sedang di luar kota. Lili pun tak ikut karena merasa sering pusing dan mual.
"Zila, nanti kalau sudah sampai sana jangan lupa telpon kakak, pokoknya segera setelah mendarat ya!" Mita sangat sedih dan ingin adiknya itu tetap sekolah di Indonesia, namun adik bersikeras ingin sekolah keluar Negeri.
" Iya kak, Zila pasti sering telpon kakak, kalau kakak lahiran nanti Zila insya Allah pulang kalau ada yang beli-in tiket." Mata Zila melirik ke kakak iparnya.
"Hey, kenapa menatapku? tuh kakakmu masih menyimpan rapi uang 1 M nya, buat apa uang sebanyak itu nggak di pakai?" Izzam terus saja menggoda istrinya.
"Abang, kenapa terus mengungkit uang itu? kemaren kan abang yang ingin bayar semua biaya sekolah Zila, ya syukur aku nggak keluar uang!" Jawab Mita sambil manyun.
Zila pun pamit dengan Ayana kakak iparnya, dan terakhir dengan kakak kandungnya.
" Zila, ingat ya, jaga diri, jangan sampai terjadi sesuatu, aku takut kamu di sana sendirian dan tak bisa membawa diri, kalau perlu sesuatu bilang saja apa pun akan lakukan hik hik hik." Mita terus menangis sambil memeluk adik nya.
"Iya kak, mudahan Kakak slalu sehat sampai lahiran, udah ah, kapan berangkatnya kalau gini!" Zila pun melepas pelukan kakak nya dan melangkah pergi masuk kedalam.
Mereka pun saling lambai, hingga Zila hilang di balik pintu masuk. Mita tampak masih terisak dan di bawa pergi Izzam menuju parkiran mobil.
"Sayang, kok begini amat sih? nanti bayi kita ikut terganggu lho!" Izzam mencoba membujuk istrinya dan merangkul pundaknya.
"Ummi, jangan nangis dong." Ayana pun ikut membujuk.
"Cup cup sayang udah udah, apa kamu mau permen?" Izzam pun mengeluarkan permen dari kantongnya dan menyodorkannya pada Mita.
"Abang ih, bikin tambah jengkel aja" Mita pun melwrai rangkulan suaminya dan berjalan cepat menuju mobil.
Sementara Zila sudah terlihat duduk manis di kursinya dalam pesawat jurusan yaman tersebut. Perjalanan diperkirakan 10 jam itu akan terasa melelahkan, Zila sudah mempersiapkan diri, apalagi ini adalah perjalanan ke duanya. Ternyata di sebelahnya adalah seorang pria muda yang kira-kira tak jauh beda dengan usianya. mungkin beda 2 atau 3 tahun.
"Mbak mau ke Yaman juga?" Basa-basi orang di sampingnya pada Zila.
__ADS_1
"Iya." Sahut Zila singkat
ya iyalah ke yaman, mana ada mau ke hongkong naiknya pesawat Yaman.
Bisik hati Zila sedikit kesel. Zila kan antri Pria Asing.
"Boleh kita kenalan?" Laki-laki itu menjulurkan tangannya pada Zila.
"Maaf." Zila menyatukan telapak tangannya di dada.
Pria itu pun tampak tersipu, dan menarik tangannya kembali.
"Aku Hanan." Memperkenalkan diri.
Namun Zila tidak menjawab.
"Kamu ke yaman mau kuliah atau bekerja?" tanya Hanan lagi.
"Mau lanjutin mondok," Jawabnya singkat.
Hanan banyak bicara membuat Zila bete. 2 jam sudah berlalu Zila pun mulai mengantuk dan tertidur.
Dasar namanya juga nggak sadar, Zila pun tertidur dan kepalanya pun tertunduk ke pundak Hanan, Hanan yang belum tidur pun terkejut, dan membiarkan kepala itu menyandar padanya.
Ya Allah, mudahan dia jodohku.
Doa Hanan dalam hatinya.
entah mengapa, wajah yang ditutupi cadar itu seakan memikat hatinya. Walau yang tampak hanya matanya saja, namun dia merasa sejuk saat menatapnya tadi. Dia penasaran dengan Zila, pelan-pelan dia pun mengambil HP yang sudah di mode pesawat itu dan selfie.
Cekrek.
Hanan lupa mematikan suara kameranya. Hingga Zila pun terbangun, Hanan langsung menyembunyikan Hpnya.
"Oh, Tuan maaf, aku tidak sengaja."
Seandainya wajah Zila tidak tertutup Cadar, mungkin saja wajah Zila bersemu merah kaya udang goreng bergizi tinggi. 😄.
"Tak apa-apa, kalau mau pinjem lagi, nggak papa kok, gratis! hihi." Hanan terkekeh, ada perasaan yang begitu nyaman ketika Hanan berbicara dengan Zila, walau baru kenal sesaat. Namun bagi Zila itu adalah tamparan keras baginya. Dia sama sekali belum pernah sedekat itu dengan laki-laki.
ish, laki-laki ini bikin aku tambah malu aja.
Gumam Zila. Akhirnya Zila pun diam dan mencoba terjaga sepanjang jalan, perjalanan masih 3 sampai 4 jam lagi.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Mohon di like buat author tambah semangat. Terimakasih.