
Zila berusaha untuk tidur, namun rasa sakit di hatinya tidak mudah dia singkirkan begitu saja, rasanya sangat perih dan menusuk nusuk.
"Aku bawakan nasi ke mari ya."
Tap tap tap
Tanpa menunggu jawaban Zila, Hanan pun pergi ke dapur mengambil makanan, tak berapa lama, Hanan kembali ke kamar dengan membawa nasi dan opor ayam kesukaan Zila
"Sayang, ayo bangun!" Hananpun menarik tubuh Zila agar bangun.
"Lho, kok nangis?" Hanan heran saat melihat Mata Zila memerah.
"Nggak Bang, cuma kelilipan aja," Sahutnya, dia pun memaksakan diri bangun dan duduk.
"Sini!" Zila mengambil nasi di tangan Hanan.
"Biar Babang suapin." Hanan pun mendekatkan sendok ke mulut Zila.
Terpaksa sebagai istri yang sholehah Zila pun menurut.
"Bang, Zila boleh nanya nggak?" Zila menatap wajah suaminya penuh makna.
"Boleh, kok izin izin segala, aneh, ada apa sih?" Hanan kembali menyuapi Zila, Zila oun mengunyah nasinya hingga habis.
"Sebenarnya, poligami itu bagaimana di mata Babang?" Tanya Zila, dia ingin tau, apakah suami tampannya itu ada niat mengarah ke sana.
"Ih apaan sih Zil, kamu kok aneh gitu, Babang nggak bisa jawab, karena Babang nggak pernah ngembayanginnya gimana gimana." Sahutan Hanan membuat hati Zila lega.
"Tapi aku ada ketemu wanita, bercadar juga kaya Zila, anaknya udah 3 kecil kecil, 4th, 2th, 5 bulan, malah suaminya nikah lagi." Zila bercerita pengalamannya tadi.
"Kapan? bukankah kau di rumah terus, kapan ketemu orang lain?" Hanan heran, perasaan Zila slalu nempel dengannya.
"Sewaktu ke kantor Babang, aku mampir ke taman dan tak sengaja bertemu dengan wanita itu." Sahut Zila.
"Oooh, nasib dia aja kale, katamu kan semua takdir itu datangnya dari Allah,"
Zila sudah menyeselaikan makannya.
"Aku ke kantor sebentar ya hari ini, kamu pengen di beli in apa?"
__ADS_1
"Nggak ada Bang, ya udah, hati hati."
Zila pun salim dan mengantar Hanan di pintu kamar, tidak seperti biasanya dia akan mengantar ke depan pintu teras. di depan pintu tiba tiba.
"Babang, kalau aku mau di poligami, kira kira Babang milih perempuan seperti apa?" Ucap Zila spontan.
"Ho? aneh ah, ada apa sih,udah ya assalamualaikum?" Hanan mengucek kepala Zila yang di lapisi kerudung.
"Wa alaikumsalam."
Hananpun berangkat kerja dan tiba di ruang tamu.
"Nyonya besar, kok ada bekas makanan gitu ya tumpah di bawah pohon bonsai, ayam opor jaroan hati juga sayuran yang udah kering, siapa yang membuangnya?" Tanya Bibi yang heran saat dia menyapu halaman menemukan sampah2 itu.
Hanan yang mendengar pun tak menanggapinya dia hanya lewat dan mendekati mamahnya yang duduk dantai.
"Mah aku berangkat, assalamualaikum." Hanan salim.
"Wa alaikumussalam." Mamahnya pun menjawab.
"Masa Bik? masa tetangga ngelempar ke dalam? nggak mungkin kan?" Mamah Hanan juga heran.
"Ngeri ah Bi, tolong bersihkan semua, jangan ada sisa ya, langsung buang ke bak sampah depan, aku ngeri ah." Mamah Hanan pun berdiri dan pergi menuju kamar.
"Iya Nyonya."
🌷
🌷
🌷
'Kenapa kamu nangis Zil?' Mita yang menerima telpon Zila heran baru tadi pagi Zila pulang kok nelpon dengan suara serak dan terisak.
"Siapa kak?" Ternyata ada Fasha dan juga airin yang sedang hamil 5 bulan berkunjung ke rumah mita.
"Zila. ssst." Mita pun membesarkan bolume nya dan menyuruh Fasha diam.
'Kak, ternyata....hik hik hik. Hanan punya masa lalu yang sangat buruk, hik hik hik.'
__ADS_1
'Seperti apa sih Zil, kok kamu begitu amat, kita semua kan punya masa lalu.' jawab Mita
'Tapi kak, ini lebih parah dari masa lalu siapa pun hik hik hik.' Zila terus menangis
'Coba ceritakan, biar kakak paham.'
'Kak sebelumnya Zila pengen beritahu kalau Zila sekarang sudah hamil 2 bulan. tolong jangan beritahu Hanan.'
'Alhamdulillah, Dek, masa lalu itu semua orang mempunyai nya, tapi itu hanya masa lalu jangan dipikirkan.'
'Kak ternyata Hanan sudah mempunyai anak dari wanita lain, dan wanita itu adalah hik hik hik'
'Apa maksudmu Zil? Bagaimana mungkin? dengan siapa? jana ngaco ah.'
'Kak, Lili hik hik hik. Qiara adalah anak Hanan kak hikhikhik.'
'Apa? Zil tidak mungkin.' Mita tak percaya
'Benar kak, bukankah Hanan dan Lili tidak pernah bertemu?' Ucap Zila.
'Tapi ah, mustahil, baiklah, kita akan lihat.'
'Apa rencana kakak?'
'Malam ini kita akan pertemukan Lili dan Hanan, kau lihat saja.' Mita sangat menggebu gebu ingin tau kebenarannya.
'Bagaimana caranya?' Zila jadi bingung sendiri.
'Kau lihat saja, nanti aku yang urus.'
Tuut. Telpon di tutup.
"Fasha, kau harus tahan diri dan emosi, jangan sampai kau merusak rencanaku, Bang Zam pun tak boleh tau."
"Baik kak."
Mita sangat pintar membuat strategi, bukankah 2 th lalu strateginya juga berjalan lancar?
BERSAMBUNG...
__ADS_1