Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Kembali Muncul di Permukaan Bumi


__ADS_3

Izzam dan pak Bambang sudah sampai di Apartement.


"Tuan, aku akan pulang, apa tuan tidak apa-apa diam di sini sendirian?"


"Tidak apa-apa kok, aku sudah terbiasa, 2 bulan ini aku sudah kuat dengan kondisi ini, mudahan operasi di jerman minggu depan akan berhasil dengan baik."


"Baiklah Tuan, permisi, assalamualaikum."


"Wa alaikumussalam."


*


*


*


[Assalamualaikum, Hanan,Temui aku sekarang, jangan bilang siapa pun]


[Maaf, ini siapa]


Hanan yang baru saja keluar dari kamarnya pun kaget membaca pesan itu.


"Bang, ada apa? kok bengong?" Zila yang juga keluar dari kamar pun heran melihat suaminya mendadak berhenti.


"Oh tidak ad, oh ya, aku berangkat dulu ya, emcah."


"Wa alaikumussalam"


Hanan pun tersenyum dia lupa ucap salam.


Hanan berencana ke kantor papahnya hari ini, tepat jam 2 siang.


[Aku kakak tersayangmu, yang slalu membantumu melancarkan aksimu memuluskan rencanamu untuk menikahi wanita bercadar itu.ckckckckck]


[Ha? bang Zam?]


[Pinteeer]


[Ku share look ya]


Hanan pun senyum-senyum. Dia pun keluar dan melaju dengan kecepatan sedang, karena teringat, lesan Istri tersayangnya.


Jagalah laju jalan kendaraanmu, agar tidak oleng kalau oleng, hatiku pun juga bisa oleng😄 alias pindah ke lain hati, kalau sampai kecelakaan dan meninggal.


Tap

__ADS_1


Tap


Tap


Hanan sudah sampai di gedung yang di tuju. Dia pun mempercepat langkahnya menuju Apartemen Izzam.


Tingtong.


Ceklek


Hanan terdiam sejenak menatap wajah Iparnya itu.


Hap


"Kakak hik hik hik." Hanan menangis.


"Hey, kau laki-laki, mengapa menangis, cengeng."Ucap Izzam, namun Izzam pun sedang meneteskan ait mata.


"Kemana saja Kakak selama ini?"


"Seperti kau lihat, wajahku saat ini 70% hancur, aku malu bertemu Mita."


"Kakak, kau sangat menyiksa bathin Kakak ipar."


"Benarkah? oh iya, aku ingin bicara 4 mata denganmu."


"Oh, haha, ayo!" Mereka pun duduk di sofa ruang tamu.


"Apakah selama ini Kakak diam disini?"


"Tidak juga, aku kadang ke rumah sakit untuk mengobati luka ini. minggu depan aku akan ke jerman untuk operasi kembali, untuk menyempurnakan kulit yang hancur ini."


"Bagaimana kalau Kakak pulang saja, kasian Kak Mita, badannya sudah kurus kering, bagai ranting kering Kak," Hanan membujuk Izzam pulang ke rumah.


"Aku belum siap Nan, aku takut dia akan jijik melihat wajahku ini. Aku menyuruhmu ke sini agar kau bisa menjaga mereka selama aku belum pulang, dan juga menjaga agar hati Mita tak akan pindah ke lain hati."


"Hampir saja, sebenarnya aku ingin menjodohkan Kak Mita dengan Supervisor di perusahaan Papah." Goda Hanan namun tampak serius.


Plak


Pukulan mendarat spontan di pundak Hanan.


"Keterlaluan kau, bukankah kau sudah berulang kali ku buat bertemu dengan Zila sebelumnya?"


"Hahaha, becanda Kak."

__ADS_1


Mereka pun bersanda gurau bercerita selama mereka tidak bertemu, Izzam sangat bahagia hanya dengan mendengar cerita Anak dan Istrinya.


"Kapan kakak berencana kembali ke rumah?" tanya Hanan.


"Aku akan memulihkan bekas operasi dulu Nan, aku tidak mau terlihat buruk begini." jawab Izzam.


"Tapi Kak Mita sangat merindukan Kakak, bahkan dia sekarang sangat kurus, lagian, kami juga mau pindah Kak, Zila tidak tega meninggalkan Kakaknya dalam kondisi begitu." Hanan berusaha membujuk Izzam agar mau pulang cepat.


"Tunggu sebentar lagi Nan, aku malu, lihat mukaku ini, seperti monster saja kan? aku takut Mita malah takut dan menghindariku."


"Nggak mungkin Kak, apa kakak balas dendam ya, gara-gara dulu kakak juga pernah di tinggal tanpa jejak?"


"Hahah, kau ini, mana mungkin aku setega itu Nan. tapi mungkin alam yang menginginkan begini, pembalasan alam gitu lah."


"Oya juga sih, jadi impas kan?" ucap Hanan lagi.


"Iya, kalau aku dulu 2 tahun Nan, bagai mayat hidup nggak ada yang bisa menghibur, ini kan ada Ezra, Zila, kamu juga, cuma,sebentar kok, tolong temani Mita ya, jangan pindah dulu ya?"


"Iya deh Kak, tapi janji ya?"


"Iya, aku pasti kembali."


"Kak, udah sore, apakah ada yang bisa aku bantu lagi? aku mau pulang nih, belah duren hahaha." Hanan tampak tak sungkan dengan kakak Iparnya itu.


"Apa? belah duren? bukankah kau sudah lama menikah?" Izzam tampak kaget mendengarnya.


"Aku kan berguru sama Kakak! belah durennya pacaran dulu setelah nikah, kata Zila sih gitu hihi."


"Emang loe kuat nggak ngapa ngapain?"


"Ya kuatlah, ini udah hampir 2 bulan kok."


"Kamu normalkan?" tanya Izzam sambil tersenyum.


"Ih Kakak apaan sih, normal lah, bahkan aku pernah bikin sebelumnya."


"Apa? bikin apa?"


"Oh ke ceplosan, hihi, udah ah, mau pulang dulu, kakak mau sesuatu lagi? makan atau minta di mandi in.


"Tidak usah, takut di apa-apain lagi, kalau sampai di mandi in kamu, kan kamu udah nikah tapi belum belah duren hahaha."


"Ih jijik, masa terong makan terong, hahaha, baiklah Kak, aku permisi, insya Allah besok ke sini lagi."


"Terimakasih mau datang, ingat! hanya kamu yang tau, jaga rahasia ini, sampai aku menyempurnakan wajahku, mungkin aku akan lebih tampan darimu, haha."

__ADS_1


"Mana ada dokfer yang nisa bedah melebihi ketampananku ini Kak hahah." Mereka pun tertawa bersama.


BERSAMBUNG....


__ADS_2