Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Tenggelam


__ADS_3

Lena pun di antar ke tempat jamuan makan yang ada di samping rumah. Begitu mewah makanan yang tersaji pun sangat banyak, Izzam sengaja membuat makanan yang sangat banyak, dan menyuruh orang-orang di kampung itu datang. OPEN HOUSE gitu deh.


"Pah, aku mau ngomong."


tiba-tiba Lili datang.


"Ayo!" Izzam pun membawa Lili ke ruang kerjanya, dulu ruang kerja pak Mahendra.


"Duduklah! apa yang ingin kau bicarakan Li?"


"Pah, sebelumnya aku mohon maaf di hri Lebaran ini, aku ingin Mamah di lepaskan, kalau Papah sudah bahagia dengan keluarga Papah, setidaknya aku juga punya ibu di rumah pah."


"Kesalahan Ibumu itu sangat Fatal Li, aku perlu membicarakannya dengan Mita."


"Tolonglah Pah, aku akan menunggu sampai Papah melepaskan Mamah, aku tidak akan pulang dari sini." Lili oun keluar dari ruangan Izzam menuju ruang kekuarga dan berbaring di sana bersama Bibi dan juga Qiara yang di bawanya.


Tap


Tap


Tap


Izzam pun terlihat mendekati Mita di ruang Tamu yang sedang menemani tamu orang kampung itu.


Hap


"Abang, ada apa?"


"Kamu istirahat aja di kamar ya, nggak usah cape-cape, biar ibu-ibu itu Bibi dan Aunte yang lain yang nemenin oke?" Ujar Izzam.


"Tapi rasa nggak pantes bang, masa tuan rumah nggak kelihatan?" Jawab Mita.


"Sayaaaang, kamu dengarkan kata Dokter kemaren, kamu harus banyak istirahat, aku tidak mau pewarisku kenapa-kenapa."


"Kamu slalu membicarakan pewaris, kalau bayi ini tidak ada berarti Abang nggak perhatian gini kan?" Mita tampak berdiri dan berjalan menuju kamar. Dia merajuk.


"Sayang bukan begitu, ini demi kamu juga kok. maafkan aku salah ngomong." Izzam pun meraih tangan istrinya dan merangkulnya menuju kamar.


Ceklek


Bruk


Krek krek di kunci dari dalam.


"Baiklah, kita akan di sini saja, berdua."


Mita pun menghempaskan tubuhnya di ranjang dan membelakangi suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kok gitu sih? ini sudah aku temenin kok, jangan marah dooong." Di peluknya erat tubuh kurus istrinya.


"Kok berasa kaya peluk papan ya? kok nggak gerak, udah tipis kaku pula." canda Izzam sambil terus memeluk erat istrinya, namun istrinya tak bergeming.


"Tapi walau kayak papan gini, servisannya top banget deh, kalah tu putri Indonesia sekali pun."

__ADS_1


"Abaaaaaaang, ish lepas ah,"


Tik kitik kitik


"Auuuuu, abang." Izzam pun menggelitik pinggang istrinya sampai akhirnya istrinya berbalik menghadap ke arahnya.


"Naaaah begini kan sedap di pandang emch." Izzam pin mengecup jidad istrinya mesra.


Sang istri menenggelamkan kepalanya di dada sang suami sampai tertidur.


Tap


Tap


Tap


Izzam pun keluar kamar untuk mengambil minum.


"Kak, di cari in Pak Lesmana tuh, katanya rekan Bisnis kakak, eh tu Kakak tutup dulu dong bajunya." Zila baru saja mau mengetuk pintu.


"Ha?" Izzam menoleh ke kancing kokonya.


"Kapan dia melepas kancingnya ya?" Semenjak hamil mereka berdua punya kebiasaan baru, kalau Izzam ngidamnya suka ngendus-endus tapak tangan istrinya, tapi kalau Mita suka nyium bulu di dadanya hihi.


Izzam lun keluar nemui pak Lesmana dan rekan kerja lainnya. Mereka tampak asyik ngobrol seputaran Bisnis dan juga saham-saham mereka.


"Pah!" Ternyata Lili datang mendekat.


"Ya?" Astaga, Izzam lupa membicarakan masalah Tami.


"Oh, sebentar.... Maaf semuanya, aku ada sedikit urusan." Izzam pun berlari kecil menuju kamar istrinya.


Ceklek


Kosong


"Ke mana dia?"


"Aunte, kemana Istriku?"


"Nyonya besar sedang kebelakang Tuan dan juga dia tampak menangis."


"Menangis, baiklah." Izzam pun ke belakang dan mencari Mita, namun tidak menemukannya.


Sudah lelah mencari mamin tetap nihil.


"Ayana? ke mana Ummimu?"


"Tadi menuju pintu kolam renang."


"Benarkah?"


Izzam pun segera menuju kolam.

__ADS_1


Ceklek


"Di kunci?"


"Mana kunci ruangan belakang?"


Aunte pun segera datang.


"Maaf Tuan besar, tadi ada di sini." Dia menunjuk Nakas dekat pintu.


Izzam coba menengok ke dalam.


"Apakah kau melihat Istriku?"


"Tadi di masuk ke dalam bersama Adik iparnya Tuan."


"Ha? sama siapa?" Ayana kaget mendengar adik ipar.


"Sama Nona Lena Nona muda."


"Oh tidak, duk duk duk Ummi Ummi Buka buka!"


"Ayana tunggu, kita cari kunci dulu."


"Tidak ada waktu Papah, cepat dubrak, dubrak, duk duk Ummi." Ayana ngamuk menggedor-gedor daun pintu yang tertutup rapat. Ayana berlari ke atas, menuju teras Loteng. Sekencang-kencangnya.


Ceklek


masuk kamar


ceklek


ke teras loteng


"Ummi...Papah Mi, ummi tenggelam, cepat Ummi." Ayana Histeris ketika melihat Mita berada di dalam kolam. Mita kan nggak bisa berenang.


"Apa Ayana?" Izzam tidak bisa mendengar teriakan Ayana di atas.


Ayana pun turun kembali.


"Ummi tenggelam Pah, cepaaaaaaat duk duk buka paaaah." Ayana makin ngamuk.


"Apa?" Izzam pun panik dan mengambil ancang-ancang.


Brukkkk


Sekali tendang pintu itu pun jebol.


Byur


Hap


Izzam memeluk istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2