
Ayana pingsan seketika, saat melihat Mita duduk di sofa , mungkin dia mengira Mita adalah hantu. Izzam, Zila, Fasha pun segera berhambur mendekati Ayana.
"Ayana, sayang, bangun Nak, ini Ummimu, ini benar Ummimu Nak." Mita pun menggoncang-goncang tubuh Ayana pelan. Dia jadi khawatir dan merasa bersalah.
"Sudahlah Mita, biarin saja dulu, nanti juga dia bangun, kasih minyak kayu putih aja." Ucap Izzam santai sambil makan cemilan yang ada di atas meja.
"Iya Kaka, ini biar Zila yang olesin." Zila pun mengoles minyak kayu putih ke punggung Ayana dan sedikit di hidungnya. Tak berapa lama.
"Ummi...aku rindu Ummi...hik hik hik." Ucap Ayana masih setengah sadar, dan menangis.
"Ayana, ini Ummi Nak, Ummi masih hidup."
"Apa?" Ayana langsung duduk mendengar suara Mita, dia pun berdiri dan berjalan mendekati papahnya, kemudian duduk di samping papah.
"Iya Ayana, itu Emang Ummimu, apa kamu senang?" Tanya Izzam.
"Emang orang mati bisa hidup lagi ya Pah?" Tanya Ayana bingung.
"Nggak Nak, Ummi masih hidup, kemaren cuma hilang entah kemana." jawab Izzam lagi, karena dia yakin Mita nggak mungkin menjawab pertanyaan itu.
"Benarkah?"
Tap tap tap
Bruk.
"Ummi, hik hik hik." Ayana pun berlari dan memeluk Mita erat, dia menangis sekencang-kencangnya.
"Maafkan Ummi ya!"
Mita pun mengelus kepala gadis kecil itu, gadis yang sudah besar dan cantik.
"Mengapa Ummi tinggalkan Ayana? Ayana sangat sedih, Papah juga, sampai Papah seperti orang Bo**h saja, kaya bayi nggak mau jalan."
Mita pun menatap suaminya, yang di tatap terlihat masam, dengan meneguk mukanya.
"Ummi.....Mmm, ya udah, sekarang Ayana mau makan masakan Ummi nggak?"
"Mau, mau, tapi janji Ummi nggak bakal ngilang lagi ya?"
Mita pun berdiri di iringi Ayana yang masih berpelukan erat sambil berjalan.
Mereka pun makan bersama.
"Ayana, gimana masakan Ummi? masih enak atau sudah berubah?" Tanya mita saat mereka sudah menghabiskan makanannya.
"Tetap enak ko Mi, emang selama 2 thun ini Ummi nggak pernah masak ya, oh ya, emang Ummi kemana 2 tahun ini?" Ayana jadi penasaran.
"Ke gurun ngembala Onta sayang, haha," Izzam tertawa renyah. Selesai makan,Mita dan Zila pun membersihkan meja makan, tak ketinggalan Ayana comel pun ikut membantu.
Sore menjelang, mereka pun kumpul di ruang tamu, karena rumah itu tidak memiliki ruang kelurga.
"Kak, aku mau ngomong sesuatu." Fasha angkat bicara.
"Iya, silahkan." Izzam pun meletakkan Hp nya yang sejak tadi di mainkannya.
"Aku mau melamar seorang gadis yang sudah setahun ini ku kenal Kak." Fasha terlihat sedikit nerves saat memulai bicara.
"Oh ya, ayo! di mana rumahnya." Tiba-tiba Izzam berdiri seakan-akan mau langsung tancap gas ngelamar pujaan hati Fasha.
"Nggak sekarang juga kale Kak, baru juga kompromi." Ucap Fasha sambil sedikit tersenyum.
"Iya tuh, kayak dia aja yang pengen nikah." Balas Mita.
"Aku tau kok, gimana rasanya jatuh cinta, aku takut kamu kehilangan dia, atau sekalian aja sama Zila biar kalian menikah sama-sama," Ucap Izzam santai sambil duduk kembali.
"Ah, Kakak, Kok Zila, Zila masih sekolah Kak." Zila pun terlihat senyum-senyum malu.
"Emang Zila ada calonnya?" Fasha pun penasaran.
"Punya doong, malah candu, lengket kaya prangko." Balas Izzam.
"Kakak ipar ah, Zila masih sekolah." Zila terlihat sangat malu.
__ADS_1
Mereka membahas rencana melamar untuk gadis pujaan Fasha. tak terasa siang beranjak senja, malam pun tiba.
Pagi menjelang.
"Ayo semuanya, sarapan sudah siap." Ucap Ayana.
Penghuni rumah pun segera berjalan ke dapur karena sudah sangat lapar.
"Setelah ini aku akan ke rumah lama memeriksa CCTV, kalian akan ikut?"
CCTV Izzam sering di Back-up kejadian 2 tahun atau 3 tahun sekalipun akan tetap tersimpan.
"CCTV? untuk apa Pah?" Ayana jadi bingung dengan ayahnya.
"Ayana nggak usah tau, jagain ummi aj ya! biar Ummi cepat punya dede bayi lagi." Ucap Izzam.
Tring
Tring
Tring
Suara Hp Izzam berdering.
"Hanan." Lirihnya
("Hello, assalamuaalaikum, Nan, ada apa?")
("Kalian dimana? saya ketuk pintu nggak ada yang jawab") Ucap Hanan di sebrang telpon.
("Kami sudah pulang Nan, maaf tidak mengabari, karena anakku mau cepat ketemu Umminya.") Jawab Izzam menjelaskan.
("Bisakah kirim alamat kalian, saya akan melamar Zila Tuan?") Balas Hanan lagi.
("Maaf Nan, sekarang aku ada urusan jadi belum sempat untuk urusan itu, nanti aku sampaikan pada istriku dulu, udah ya, Wassalamualaikum.")
("Waalaikumussalam.") Jawab Hanan lagi.
"Siapa Bang?" Tiba-tiba Mita masuk ke kamar.
"Untuk apa dia nelpon abang? jadi Abang sudah tukeren no Hp ya? aku jadi yakin, pasti pulang kemaren pun Papah kan yang ngajak, ayo ngaku!?" Mita mun mendekat.
Izzam hanya senyum.
Klitik klitik
Mita pun menggelitik pinggang Izzam.
"Ish, tangan mungilmu itu tak berfungsi di kulitku, hem, hem, hem."
"Au, Abang, au, sakit, bang hahaha, ampun, ampun."
Bruk
"Papah!"
Eng eng eng
Izzam dan Mita pun termangu menatap Ayana yang tiba-tiba muncul di depan Kamar saat Izzam memeluk Mita dan menggelitiknya. Perlahan Izzam pun melepas pelukannya.
"Papah, jangan sakiti Ummi!"
Sret
Ayana menarik tangan Mita dan membawanya pergi ke luar kamar, Mita hanya mampu memandang Izzam, sementara Izzam pun terlihat kecewa, karena kemesraannya di ganggu Auana. Izzam pun berdiri dan kekuar kamar.
"Aku akan berangkat ke rumah Lili."
"Aku ikut Bang,"
Mereka pun berangkat menuju kediaman Lili. Sepanjang perjalanan Ayana terus merangkul Mita. Sementara Zila menikmati suasana kota jakarta yang ramai. Sesampainya di kediaman Lili, mereka pun langsung turun dan memasuki pekarangan rumah.
"Non Mita?apa ini benar Non Mita?"
__ADS_1
Satpam sangat kaget melihat Mita berjalan melewati paga rumah, walau pun bercadar, namun paman satpam sangat ingat wajah Mita dengan baik, karena paman satpam sering melihat Mita membersihkan halaman dan sekitarnya.
"Iya Paman, apa kabar paman?" Mita pun menunduk tanda hormat.
"Bagaimana bisa?"
"Paman aku ingin berbicara denganmu nanti, sekarang aku tergesak-gesak, jadi bicaranya nanti saja." Sergah Izzam dan menggandeng tangan istrinya lembut.
"Iya Tuan," Satpam pun menunduk.
Mereka masuk ke rumah dengan mengucap salam.
"ak-ek." Qiara pun menyambut kedatangan Kakeknya.
"Sayaaaang, eamch eamch eamch." Izzam memeluk gadis kecil itu dan mengangkatnya.
"Sayang ini Nene mudamu ya!" Izzam pun menyerahkan Qiara pada Mita. Qiara tampak menolak dan meronta, karena tidak terbiasa.
"Ini Nenek Qiara yang baru, nanti Qiara pasti suka." Celoteh Ayana lagi. Akhirnya Qiara pun minta di gendong oleh Ayana.
"Kemana mamah mu sama Kakakmu, Ahyar juga kemana Ayana? katanya Mamahmu kan tinggal disini juga to?" Tanya Izzam, sambil berjalan dan memandang Ayana.
Bruk
"Abang."Mita terpekik melihat suaminya menabrak dinding.
"Aduh." Izzam menabrak sisi dinding pintu menuju ruang keluarga.
"Hahaha, papah ngapain, baru beberpa bulan nggak ke sini udah lupa yang mana pintu yang mana dinding." Goda Ayana.
Sementara Mita segera mendekati suaminya dan menatap jidad suaminya lekat.
"Nggak papa, cuma kaget." Izzam pun kembali berjalan menuju tangga atas sambil mengelus-elus jidadnya.
"Zila temani Ayana sama Qiara dulu ya, biar aku susul Bang Zam." Mita pun berjalan menaiki tangga.
"Iya Kak," Begitu juga Zila berjalan menuju,soa untuk menemani Ayana dan Qiara Smentara Bibi yang menjaga Qiara sibuk di dapur membuatkan teh hangat.
Sesampainya di kamar atas.
"Bang sebenarnya mau apa sih ke sini?" Mita benar-benar di buat penasaran oleh lelaki di hadapannya.
"Aku akan mencari bukti kejahatan Tami." Dia pun membuka lemari dan mengambil laptopnya. Mereka pun membuka, dan memutar ulang kejadian 2 thun silam.
Benar saja, ada beberapa kali tami memasukkan bubuk kedalam air galon dan mengduknya.
"Ayo!" Ajak Izzam.
"Mau ke mana lagi Bang?" Tanya Mita jeran.
"Kekantor polisi."
"Untuk apa Bang?" Mita tambah heran.
"Ya untuk melaporkan Tami." Izzam pun meraih tangan Mita dan membawanya turun dari tangga.
"Papah? Mita?" Betapa terkejutnya Tami saat melihat Izzam dan Tami turun dari tangga.
"Jadi loe masih hidup? loe bohongin kita semua, dasar wanita Sia**na dasar jl**ng." Ejek Tami.
"Plak, jaga ucapan mu," Izzam sangat emosi mendengar istri sahnya di hina.
"Abang." Mita pun terkejut saat Izzam menam**r.
"Ooh, jadi Mas membela dia! bukankah selama dua tahun ini mas kayak mayat hidup?" Tami tambah tersulut emosinya.
"Mamah, sudah mah, nanti ummi pergi lagi." Ayana pun datang dan memeluk Mita.
"Jadi kamu juga membela dia, ck ck ck ck, anak macam apa kau ini?"
"Ayo sayang kita pergi." Izzam pun merangkul pundak istrinya dan menatap Tami sambil tersenyum licik. Senyum yang membuat Tami tambah cemburu dan sakit hati, senyum penghinaan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Jangan lupa juga mampir di Pembunuh Bayaran palsu Perenggut Keperawananku.
Insyaa Allah cerita2ku berbau Islami ko.