
"Siapa kau? Hey, apa ini?" Izzam pun melirik secarik kertas, dan mendapati beberapa kata.
Jangan percaya siapa pun, meski dia Adikmu. Saat ini, istri anda Mita masih hidup, percayalah padaku!
Deg.
Mata Izzam melotot melihat bacaan yang dia pegang. Dadanya terasa sesak saat tulisan itu menyebut nama Mita. Hati Izzam berdesir membaca tulisan singkat dan padat itu.
"Kak Zam, ada apa?" Tiba-tiba Fasha datang. untung saja Izzam sudah menggenggam tulisan itu dan memeluknya di atas dadanya.
"Hemm" Izzam pun memalingkan wajahnya arah jendela.
Apa benar tulisan ini? Benarkah Mita masih hidup, lalu dimana dia sekarang? apa aku harus membongkar kuburnya? ah sial, apakah Fasha terlibat. Siapa orang tadi.
Pikiran Izzam berkecamuk, dia bingung harus percaya pada siapa.
"Fasha, tolong ambilkan bajuku di rumah! aku akan istirahat disini untuk beberapa hari, siang ini kau ke kantor saja setelah bajuku kau antar."
"Tapi siapa yang jaga Kak Zam?"
"Kau tenang saja, aku tidak apa-apa kok!"
"Baiklah, kalau begitu aku pamit untuk mengambil baju Kakak, dan akan segera kekantor." Fasha pun pulang tanpa curiga, namun di perjalanan.
Tring
Tring
Tring.
("Hello, Kak Zam, ada apa?)
("Kau langsung kekantor saja, aku akan di temani sopir, aku ingin keluar kota untuk memeriksa perusahaan yang lain.")
("Mengapa mendadak, aku bisa menemani Kakak kalau mau?")
("Tidak usah, aku bersama pak bambang dan sopir saja")
Klik.
Izzam pun mematikan teleponnya dan kembali menelpon seseorang, setelah beberapa saat dia pun tampak duduk dan terdiam. Dia pandangi secarik kertas yang masih di genggamannya. mungkin begitu banyak pertanyaan yang tertumpuk di kepalanya kini.
Tok
Tok
Tok
"Pak Zam!" Suara pak bambang, memecah keheningan kamar.
__ADS_1
"Kemarilah!"
Pak Bambang pun duduk di kursi depan ranjang pasien.
"Aku ingin kita pergi ke suatu tempat, tapi ini rahasia kita bertiga ( ber 3 degan sopir)"
"Baik Tuan,Tuan tenang saja."
Mereka pun keluar setelah menyelesaikan Administrasi. Izzam terus memandu perjalanan mereka.
"Tuan? mengapa kita kesini?"
"Kau akan lihat nanti!"
"Apa kau membawa uang yang ku minta tadi?"
"Iya Tuan, tapi buat apa uang sebanyak ini?"
Izzam hanya tersenyum. Sesampainya di tempat tujuan mereka pun turun, banyak pertanyaan di kepala sopir mau pun pak Bambang, namun mereka tak berani menanyakannya.
"Paman, aku ingin 6 orang penggali kuburan yang tercepat.," Ujar Izzam pada paman penjaga kuburan.
"Baik tuan, apa tuan sudah memesan tempatnya?"
"Tidak, aku tidak ingin menggali kuburan baru, tapi aku ingin menggali kuburan lama."
"Apa maksud Tuan?"
"Aku ingin menggali kuburan Mita, istriku."
"Tuan, jangan begitu, kasian Non Mita, dia sudah tenang di sana, tolong ikhlaskan saja Tuan," Ucap Pak Bambang khawatir, dia takut Izzam sudah tidak waras, terlihat 2 tahun belakangan ini Izzam banyak berubah.
"Aku akan membayar 10 juta untuk menggali satu kuburan ini, segera dalam 2 jam aku sudah melihat isi dalamnya." Ucap Izzam tegas.
"Tuaaaan." Pak Bambang hanya mampu menghela nafas dalam dan menghempaskan nya kasar. Paman penjaga kuburan itu pun mengambil Hpnya dan mulai menelpon. Selang 16 menit sudah bersusun 6 orang laki-laki berkulit hitam karena bekas sengatan matahari, terlihat berotot.
"Dengar! kalau ini sampai bocor, kalau ada salah satu mulut kalian yang membocorkan kejadian hari ini, kalian akan berhadapan Tuan Izzam Mahendra, orang terkaya no 3 di kota ini, mengerti!"
Semua mata terbelalak mendengar nama Mahendra. Orang di kota itu tau, bahwa Mahendra atau ayah Izzam adalah orang terkaya ke 3. Beliau sudah meninggal dan mempunyai anak semata wayang, namun mereka tidak menyangka, orang yang berada di hadapannya itu adalah anak dari Tuan Mahendra.
"Baik Tuan kami akan menjaga rahasia ini sampai mati." Ucap tukang jaga kuburan.
"Ingat, 2 jam dari sekarang semuanya sudah beres!"
"Baik Tuan," Ucap mereka.
Mereka pun menuju kuburan yang di maksud, jam menunjukkan jam 14.00. Mereka pun dengan semangat menggali karena mendapat upah yang Fantastis, kalau biasanya mereka hanya dapat upah satu lobang 700 ribu. kali ini 10 juta untuk menggali 1 lobang. Izzam pun tampak tak karuan rasa, dia mondar mandir dan bahkan mengelilingi kuburan yang di gali untuk melihat hasil galian. Tepat jam 15.20 menit sampai lah galian pada peti yang sudah terlihat usang, karena sudah berumur 2 tahun.
"Tuan, apa kau ingin membukanya sendiri." ucap paman yang ada di bawah.
__ADS_1
"Buka saja! aku akan melihat dari atas."
Terlihat ragu-ragu dan mengikat kain di hidungnya, paman itu pun mencongkel tutup peti mati tersebut.
Eng
Eng
Eng
TIDAK ADA.
Tidak ada mayat di sana, bahkan tulang belulang pun tidak ada, yang ada hanya kain kapan yang sudah lusuh. Mungkin saja ada gedebog pisang yang sudah busuk. Izzam terduduk dan mencengkram kepalanya kuat. Dia terisak, air matanya pun bercucuran, dadanya sesak. Tak ada yang berani bersuara, mereka hanya menunggu Bosnya yang bicara. setelah 15 menit berlalu, Izzam pun berdiri.
"Pak Bambang, tolong bayar upah mereka, sekarang, setelah ini mari kita ke apartemen yang ada di luar kota, aku akan diam di sana untuk beberapa bulan ke depan"
"Baik Tuan."
Izzam pun kembali ke mobil, sementara Bambang kaki tangan Izzam membayar upah.
"Kalian tutup lagi tanah ini, dan letakkan beberapa rumput gajah kembali."
"Baik Tuan, terimakasih."
"Ingat! ini rahasia kita"
Mereka mengangguk tanda mengerti.
Izzam pun menuju mobil. Sepanjang jalan, dia hanya menatap tulisan yang ada di tangan kanannya. Ada perasaan senang, sedih semuanya menjadi satu, berbagai pertanyaan pun muncul di kepalanya, di mana Mita? ada apa ini semua?
"Pak Bambang, aku ingin 2 orang detektif untuk di tempatkan di dua tempat, satu di kantor, dan satu di Yaman tempat Zila menuntut ilmu."
"Apa Tuan mencurigai adik-adik Mita?"
"Aku belum yakin, aku perlu mengetahuinya."
"Bagaimana kalau mereka benar-benar terlibat?"
"Ah, memikirkannya saja aku sangat pusing, apalagi harus terjadi demikian, aku berharap mereka tidak terlibat."
"Baik Tuan, aku akan mencarikan Detektif terhebat, tapi tentu saja aku harus menjadikannya karyawan kantor, kalau harus menyelidiki Fasha."
"Itu gampang, biar nanti aku yang telpon Fasha, tapi kau harus cari orangnya dulu "
"Baik Tuan, besok aku sudah akan membawa orang itu ke hadapan Tuan."
Mereka pun terus melaju menuju Apartemen yang ada di luar kota. Izzam terlihat lelah dan tertidur. Pak Bambang pun tertidur, Kasian pa Sopir di tinggal sendirian. Masih panjang perjalanan yang akan di tempuh Izzam.
BERSAMBUNG....
__ADS_1