Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Surat penangkapan polisi


__ADS_3

Hanan dan Zila sudah sampai rumah, begitu juga papahnya.


"Hanan, kau sudah berjanji untuk tutup mulut, jadi jangan coba coba ingkar janji."


Ucap Papahnya saat mereka berjalan beriringan.


"Asal wanita itu tidak hamil dan melahirkan, tapi kalau semua itu terjadi, maka akan lain ceritanya, papah sudah tidak punya apa apa lagi, jadi papah jangan macam macam."


Gertak Hanan.


"Bang! jangan begitu, tidak baik." Ucap Zila mengingatkan.


"Sayang,..."


Hanan mengelus elus pundah Zila lembut.


Mereka masuk ke rumah beriringan.


"Ooh? kalian sudah datang? kok barengan?"


"Iya Mah."


Mereka masuk kamar masing masing, sementara Soraya yang menatap jijik pada Papahnya sedang merencanakan sesuatu.


aku tidak akan tinggal diam. Aku harus tau di mana wanita itu tinggal, dan hari ini aku sudah tau alamatnya.


Lirihnya.


Ternyata Soraya telah memata matai papahnya beberapa hari ini, dan menemukan alamat pelakor alias Lena.


"Mah, aku ingin ke kampus hari ini, aku ingin minta uang lebih untuk mentraktir teman teman."


Ucap Soraya di depan pintu mamahnya yang tertutup.


Ceklek


"Kau minta berapa?"


Hanan tiba tiba saja membuka pintu dan menawarkan uang.


"2 juta mungkin cukup, aku ingin traktir teman teman, karena sudah menyelesaikan PPL kami minggu kemaren." Ucap Soraya.


"Oke? apa juga akan Shoping?"


Selama ini walau Soraya anak orang kaya, namun dia tidak terlalu suka shoping, dia lebih suka naik gunung atau sungai sungai berkemah bersama teman teman.


"Nggak ah Kak, males. lebih baik beli di Online, nggak makan waktu, cape jalan juga."

__ADS_1


"Dek, baik traktir teman temanmu belanja sesekali? mungkin saja mereka mau, cari temen yang membutuhkan, biar pahalanya lebih banyak. Ibaratnya ni ya. Kamu memberi makan orang yang kelaparan pahalanya 10.000, Sedang kalau kamu memberi makan orang yang berkecukupan pahanya 5000 dan bila kamu memberi makan orang kaya hanya foya foya, pahalanya cuma 1000 dek."


Ustadzah Zila menasehati😃


"Iya ustadzah, hihi."


"Lho kok gitu?"


Protes hanan.


"Iya kakak sayang, emch , emch."


Soraya merampas tangan Zila dan menciuminya.


"Sini, buat belanja baju, aku punya beberapa teman yang Ekonominya memang down, kemaren juga sempat ngutang sama Aya kok."


"Kamu kasih hutangan nggak?"


"Ya nggak lah kaka, Aya kasih cuma cuma, hihi."


"Ya gitu doooong. Ini kartu kakak, kau pakai saja Maks 10 juta ya."


"10? banyak bangeeet, kakak serius?"


"Iya, cepet sana!"


Lirih hati Hanan.


Soraya pun pamit setelah salaman.


...


...


...


Buk buk buk


"Wanita ja**lang, berani sekali kau menggoda papahku heh?"


Ternyata Soraya dan ke 3 temannya sudah berada di kontrakkan Lena.


"Kurang ajar kau, aku akan melaporkanmu ke polisi."


Ancam Lena


"Silahkan! kau akan di campakkan Papahku, mengerti!"

__ADS_1


"Heh, aku ini bukan pacar yang bisa di buang begitu saja, aku istrinya, bukan simpanan biasa tau!"


Teriak Lena sengaja berteriak, agar orang orang tau.


"Terserah, kau jauhi papahku, atau kau akan menyesal."


"Cuih, tidak akan."


Bruk bruk


Soraya kembali menjambak kepala Lena.


"Jangan, Ya, ayo pulang!"


Lerai ke 3 sahabatnya, mereka sedikit takut dengan ancaman Ena yang akan melaporkannya ke polisi.


"Kau...ingat! jangan dekat dekat papahku lagi."


Soraya Dkk pun lergi meninggalkan kontrakn tersebut.


...


...


...


Tok tok tok


Ceklek


"Nona Soraya ada?"


2 orang polisi berseragam datang ke rumah Hanan, dan kebetulan Hanan yang membukakan pintu saat dia santai di ruang tamu.


"Ooh, ada apa ya?"


"Kami membawa surat penangkapan Nona Soraya yang telah memukuli seseorang."


"Hah? apa tidak salah pak? anak ini sedang apa ya? di beri uang 10 juta malah tawuran, dasar!" Gumam Hanan kesal.


"Maaf pak, kami tidak meminta tebusan berpuluh puluh juta, kami hanya ingin mendengar kesaksian Soraya, apa benar dia telah memukuli orang?"


Polisi itu salah paham dengan gumaman Hanan.


BERSAMBUNG...


Hampir Tamat juga ya!

__ADS_1


__ADS_2