
Izzam, Mita dan Ayana juga Zila pun pergi meninggalkan rumah lamanya.
"Mah, ada apa sih,ribut-ribut." Tiba-tiba Lili keluar dari kamarnya dengan muka kusut. tadi malam dia habis Clubing dan baru datang langsung tidur.
"Mita masih hidup Li," Tami pun menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Apa? apa maksud mamah? bukankah kita sendiri melihat saat dia di kuburkan?" Lili tampak heran dengan pernyataan mamah nya.
"Baru saja Mita dan Papahmu datang kemari, Mamah tidak tau mereka mau apa."
"Trus bagaimana Mita bisa hidup, dan kayaknya Papah pun tidak tau, atau Papah hanya bersandiwara selama ini?" Lili jadi bertanya dan jawab sendiri.
"Aku tidak tau Li! apa yang mereka cari di rumah ini?"
KANTOR Polisi 13.30.
"Kami ingin melaporkan kejadian 2 tahun silam Pak."
"Apa yang akan anda laporkan Tuan." Izzam pun menceritakan kisah yang di alami istrinya, setelah panjang lebar, mereka pun terlihat keluar dari kantor Polisi tersebut.
"Tuan, maaf saya terlambat." Bambang, orang kepercayaan Izzam baru datang.
"Kau urus segala sesuatunya, kalau mereka memerlukan kami baru kami akan ke sini lagi."
"Baik Tuan."
Mereka pun berpisah Izzam dan keluarga berniat kembali ke rumah mereka. Namun di perjalanan Izzam membelokkan setir.
"Kita mau ke mana Bang?" Mita menatap wajah suaminya heran.
"Sayang, kita ke kubur orang tuaku dulu ya, setelah itu aku ingin menunjukkan sesuatu.
Izzam tampak menggenggam tangan istrinya dengan tangan kirinya, begitu mesra, sedang tangan kanannya di gunakan untuk memegang setir.
" Ooh, baiklah, tapi....apa yang ingin mas tunjukkan?"
"Rahasia dong."
Mereka pun melaju dengan santai menapaki jalan yang terlihat sepi, karena masih jam kantor.
Mereka pun sampai di pemakaman umum yang bersih dan terawat.
"Ayana, ayo bangun Nak!" Ternyata Ayana tertidur pulas.
Mereka pun turn dan berd'oa.
🌹🌹🌹
Izzam pun sampai di sebuah Rumah bukan seperti rumah namun seperti istana. Mansion yang besar dan indah, halamannya di tumbuhi rumput gajah yang subur. ada beberapa pondokan diahalam yang luas, dan bunga-bunga berwarna-warni menghiasi halaman.
"Rumah siapa Bang?" Mita penasaran. Namun tiba-tiba.
Tap
Tap
Tap
"Selamat datang Tuan, Nyonya." Beberapa wanita berpakaian seragam berbaris berjejer dan menunduk mengarah Izzam dan keluarga.
Izzam pun berjalan penuh wibawa, wajahnya yang biasa murah senyum lada keluarga terlihat dingin ketika menatap pelayan-pelayan itu, Cool.
__ADS_1
"Terimakasih," Ucap Mita sambil sedikit berjongkok dan mengekori suaminya.
"Sayang, Kau tidak perlu membalas sapaan mereka, merek memang sudah di latih seperti itu," Ucap Izzam kemudian.
"Bang, nggak boleh gitu, mereka juga manusia, jangan sombong, di laknat Rasulullah lho, iya kan Zila?" Mita meraih tangan suaminya dan menggandengnya mesra, sambil memberi nasehat.
"Iya Kak!" Zila pun menjawab tanpa sungkan.
"Benarkah? siapa yang bilang?" Izzam mencium tangan istrinya lembut.
"Ya para kyai lah Bang."
Mereka pun sampai di pintu yang terukir cantik. seperti pahatan berbahan papan jati yang sangat menawan.
"Silahkan masuk Tuan,Nyonya." Seorang laki-laki tegap dan lumayan tampan membukakan pintu rumah tersebut. Mereka pun masuk ke dalam, ruangan yang begitu besar, seperti Aula dan dinding-dinding seperti berlapis emas, sangat cantik.
"Ayo kita ke belakang!" Izzam membawa mereka melewati kamar-kamar yang berjejer. menuju belakang rumah.
Krek Krek
Izzam mengunci pintu utama menuju belakang.
"Kolam renang... horeeee." Ayana sangat senang, rupanya Ayana pun belum pernah ke rumah itu. Zila dan Ayana pun berjalan-jalan mengitari kolam renang dan memetik benerpa bunga cantik yang sda di situ. Sementara Izzam membawa Mita duduk di bangku panjang dan merangkul pundak Mita.
"Kita akan pindah,ke sini sayang, Cup." Izzam mengecup kepala istrinya. dan melepaskan ikatan cadarnya.
"Kok diepas nanti ada yang liat Bang." Mita sedikit panik.
"Sudah Abang kunci ko pintunya, nggak ada yang bekal masuk." Ucapnya sambil mengcup pipi istrinya.
"Eh abang, nanti Zila liat."
"Biarin, dia pasti tau, aku sangat merindukanmu, aku sangat tersiksa 2 tahun ini." Izzam mendekatkan wajahnya dan menempelkan hidungnya di hidung Mita.
"Ummi...kayak anak kecil aja ci**m-ci*man" Tiba-tiba Ayana duduk di pangkuan Mita tanpa tau kapan datangnya.
"Ayo kita pulang Bang. sudah sore, aku mau masak, nanti keburu sore." Mita salah tingkah, sampai-sampai dia lupa bertanya rumah siapakah ini.
"Ayana ganggu aja Ah, sana sama Kak Zila dulu, papah mau ngomong sama Ummi." Ayana pun cemberut dan berdiri berjalan menjauh.
"Emang kamu nggak pengen tau ini rumah siapa?" Tanya Izzam pada Mita.
"Ya pasti rumah Abang kan? Atau rumah Bos abang yang di titip ke Papah, Papah nggak pernah ngajak kami ke sini sebelumnya." Izzam tersenyum dan merapatkan pelukannya.
"Kamu ini polos sekali, asal di nikahi, diberi uang, selesai, nggak mau tau emang aku kerja dimana?"
"Nggak Bang, asal Hasil dari yang halal aja, aku ikhlas banget bang, cukup makan dan nggak kontrak itu udah cukup Kok." Mita menatap wajah suaminya dalam.
Cup
Cup
Cup
Izzam mengecup kedua pipi dan kening istrinya mesra. ujar orang Banjarmasin itu BARANDAM😄. Salam kenal Author ya. Bahasa indonesia Author kadang amburadul, maklum kami di sini pakai bahasa melayu.
izzam pun membuka Hpnya dan seperti mencari sesuatu.
"Lihat ini?" Izzam memperlihatkan nama-nama seseorang berurutan.
"Apa ini Bang?" Mita malah bingung.
__ADS_1
"Itu lihatlah! baca di atas."
Daftat orang terkaya di Kota Z
Anggara
Lesmana
Izzam Mahendra
"Ho? Izzam Mahendra? bukankah nama abang no 3 ini?"
Mita terbelalak saat membaca nama suaminya terdaftar sebagai orang terkaya sekota Z. Izzam malah pura-pura tidak mendengar dan bersiul menatap Ayana yang sedang bermain dengan Zila di sisi kolam renang sambil main air.
"Abang!" Mita pun menempelkan wajahnya di wajah Izzam.
"Ha, ada ap sayang?"
"Ih Abang, nggak pernah jujur."
"Ha? apa? jujur? apa kau pernah bertanya, Cup." Kecupan lembut mendarat di bi**r Mita.
"Ayo pulang!" Mita pun berdiri. terlihat mukanya terlihat, bingung, apa brnar dia menikahi lelaki terkaya no 3 di kotanya? dia,terus berjalan menuju pintu keluar. tspi dengan meadaan melamun.
"Ayana ayo pulang!" Izzam pun memanggil Ayana." Yang di panggil pun segera berdiri dan berlari kecil di ikuti Zila.
Hap
Izzam merangkul istrinya dan membawanya kepelukannya, meraih tangan Mita dan memaksa wanita itu juga melingkarkan tangannya di pinggang Izzam. Mereka pun berjalan menuju mobil masih dalam diam.
Ceklek
pintu mobil di buka Mita lun masuk.
Tring
Tring
Tring
Izzam mengambil Hpnya yang berbunyi.
"Sebentar, Lili nelpon." Ucap Izzam.
{Ada apa Li?}
{Mamah di bawa Polisi Pah!}
{Oh ya! syukurlah}
{Katanya atas laporan Papah, apa benar?}
{iya Li, nanti ya, papah lagi sibuk}
Klik
Ayo sayang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG....