Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Lahirnya Tuan Muda


__ADS_3

Mita pun merelakan kelakuan Lena namun dia meminta agar Fasha menceraikannya. Fasha pun tidak keberatan, karena saat memasuki rumah Izzam Mita sengaja menghidupkan kameranya dan sempat merekam adegan Lena yang membelai mencumbu Izzam.


***


***


***


Berbagai rintangan sudah di lalui Izzam dan Mita. Mereka pun berhasil melewatinya, sampai akhirnya Mita pun melahirkan, seorang pewaris yang tampan, wajah blesteran pakistan.


"Cup cup cup sayang.emch." Ayana tampak sangat gembira, dan tak sedikitpun beranjak dari sisi adiknya.


"Sayang, apanya yang sakit heh?"


"Tidak ada Bang, lumrah saja sakit di jalan lahir, syukurlah bisa lahiran Normal."


"Iya sayang, biar kita bisa nambah lagi, maunya sih 3, hihi."


"Ih Abang, cape tau Bang,"


"Apanya yang cape, semua keperluanmu nanti akan di sediakan oleh Aunte dan bibi, mudahan besok kita bisa pulang ya."


"Iya bang."


"Aku sudah menyiapkan surat menyurat untuk Anak kita perusahaan inti dan sebuah Vila."


"Abang, baru juga lahir sehari, kok mikir macam-macam"


"Aku harus mempersiapkan semuanya, aku sudah semakin tua sayang, aku takut usiaku tak sepanjang orang-orang bahari(zaman dulu)."


"Ah Abang, jangan ngomong gitu."


"Assalamualaikum, Kakak ipar, selamat ya."


Tiba-tiba Hanan datang, bersama kedua orang tuanya.


"Oh Pak Teguh, masuk." Mereka pun duduk di sofa ruangan Vip Rumah sakit itu.


"Selamat ya, kalian sudah dapat sang pewaris, aku dengar anak pertama dan ke dua perempuankan?"


"Iya Pak, Alhamdulillah. Bagaimana Kabar kalian, sudah lama kita tidak bertemu, aku juga tidak bisa berkunjung sejak terakhir kalian memutuskan untuk menyusul Hanan jadi seorang muallaf." Ucap Izzam.


"Alhamdulillah, kami merasa nyaman dan damai. Mungkin ini lah nikmat yang baru kami rasakan, kami sangat bersyukur Hanan bisa membawa kami kembali."


"Syukurlah, bagaimana dengan Hanan, dia sering nelpon, bahkan sering datang ke rumah hanya untuk tidur di kamar Zila, hahaha, dia merengek kayak bayi minta di nikahkan."


"Kakak ih,apaan sih, bayi apaan, bayi tuek kalee hahaha." Hanan malah tertawa di iringi galak tawa satu keluarga.


"Sore ini Zila pulang lho!" ucap Mita.


"Hah? benarkah!? aku yang jemput ya Kak? udah satu tahun berarti dia udah lulus kan? bolehkan kami menikah?"


Hanan tampak berseri-seri, selama ini dia sangat tersiksa oleh perpisahan jarak itu, bahkan sama sekali dia tidak boleh bertemu, dia beberapa kali ke Tarim hanya untuk menjenguknya, tapi Zila tidak mau menemuinya, bahkan dia pernah berbohong bahwa Mita yang datang, tapi ketika Zila melihat dari jauh, Zila pun tidak jadi menemuinya. Bagai terkena buluh merindu.


"Iya seperti ini nih, di rumah juga begini, uring uringan," Sahut Mamah Hanan.


Mereka pun lama berbincang dan akhirnya mereka pulang. Mereka pun pamit.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Tiba-tiba Lili datang. Sejak kejadian penjebakkan itu Lili dimarahi habis-habisan oleh Izzam dan tak berani menemui ayahnya, karena ayahnya sangat marah atas persekongkolan mereka.


"Wa alaikumsalam, Lili? mau apa kau ke sini?" Ucap Izzam ketus. Sementara Mita hanya menatap dingin.


"Aku mau minta maaf sama Ummi. Pah, aku mohon maaf." Lili pun berdiri dan menunduk di hadapan ayahnya.


"Itu terserah Istriku, karena tujuanmu untuk memisahkan kami hanya karena ingin mengembalikan ibumu padaku." Jawab Izzam.


"Bang, sudajlah, aku tidak ingin membahas itu di saat hari bahagiaku ini." Ucap Mita biasa saja.


"Ya baiklah, Baiknya kau oulang saja, Istriku harus istirahat." Ucap Izzam lagi.


"Pah, aku baru datang, mengapa papah mengusirku?" Protes Lili kesal dan malu karena di usir di hadapan mama tirinya.


"Istriku mau istirahat, dia harus banyak istirahay agar ASInya lancar, dia tidak mau anaknya minum dari Dot, sampai usia 2 tahun." ucal Izzam lagi.


"Pah aku pengen ngomong sesuatu."


"Baik, mari kita keluar." Mereka pun keluar dan duduk di kursi yang di sediakan oleh penginjung.


"Pah, perusahaan yang aku kepalai mengalami kebangkrutan, apakah Papah bisa menyuntikkan dana untuk itu?"


"Maaf Li, perusahaan itu saat ku berikan padamu dan Ahyar, sangat baik dan jaya, tapi setelah beberapa bulan kau kelola perusahaan itu mwngalami penurunan drastis. Bahkan kau memecat karyawan yang sangat mahir di bidangnya. Ahyar pun tidak bisa menolak semua peraturanmu."


"Pah, itu semua karena mereka mambangkang, masa Ceo harus di injak-injak."


"Itu perasaanmu saja. Coba kau terima saran mereka."


"Sudahlah Pah, aku hanya ingin Papah menyuntikkan dana pada perusahaan ku lagi, aap Papah bisa membantu?"


"Li bukankah waktu aku di Tarim kau juga sudah mengambil banyak uang dari Fasha dengan alasan untuk modal? lalu mana hasilnya, maaf aku tidak bisa lagi."


"Ada satu syarat, kau harus rujuk dengan Ahyar titik." Izzam pun masuk ke kamar RS dan menutup pintu


Krek krek


Menguncinya.


"Hup, Papah, aku tidak mau."


Lili terlihat kesal dan pergi meninggalkan Rumah sakit.


"Mas, kok di kunci?"


"Aku males mendengar ocehannya."


"Walau bagaimana pun, dia adalah anak Mas juga, jangan beda-bedakan dia.-


"Nggak papa kok Mi, kak Lili memang menjengkelkan." Komentar Ayana yang terus asyik menatap dan membelai belai dede bayi.


"Huek, huek, huek." Dede bayi nangis.


"Dede bayi Mi."


"Ezra sayang, mau mimi?" Izzam pun dengan sigap mengangkat sang pewarisnya itu membaringkannya di pangkuan Mita.


Ezra, namanya adalah Ezra, kelak dia akan menjadi CEO Dingin seperti Auntenya Zila😄

__ADS_1


"Ayana, duduk di sana dulu ya, Papah mau ngomong sama Ummi."


"Baik Pah."


Ayana pun menjauh dan main Hp sang ayah.


"Mi, aku ingin bicara penting."


"Serius amat, asal jangan minta jatah ya.hihi."


"Sebenarnya salah satunya itu, hahaha."


Cup


Izzam mencium jidad istrinya mesra.


"Terimakasih sayang, kau telah melahirkan pewarisku, perusahaan utama akan aku berikan pada Ezra."


"Pah, mungkin alangkah baiknya kalau di bagi rata sama Ayana dan Lili." ucap Mita.


"Sayang, aku belum bercerita sama kamu. Sebenarnya Lili bukanlah anakku."


"Hah!???"


"Iya, dia anak Tami dengan suami sebelumnya. Jadi aku tidak akan memberi hak padanya. nanti aku akan menjelaskan padanya, karena dia pun belum tau."


"Jadi selama ini dia juga tidak tau?"


"Iya. Tapi akhir-akhir ini aku merasa dia sangat keterlaluan pada kita."


Mita hanya diam, dia sangat terkejut, karena selama ini Izzam tampak tak pernah membedakan antara Lili dan Ayana.


"Aku akan mengurus surat ahli waris setelah kita keluar dari Rumah Sakit ini."


"Terserah Abang saja."


2 hari kemudian mereka pun diperbolehkan pulang. Izzam sangat senang. Mereka melaju ke kastel tepat jam 10 pagi mereka pun sampai.


"Aunte-aunte dan mbok juga Bibi, urus semua keperluan istri dan anakku."


"Baik Tuan Besar." Serempak.


"Sayang, aku harus pergi untuk mengurus surat-surat ke notaris."


"Kenapa terburu-buru Bang, apa tidak besok saja? nanti kecapean."


"Tidak sayang, ini demi dia."


Cup cup cup


Izzam mencium bayi mungilnya berulang-ulang.


Izzam pun melaju di jalanan yang terlihat sepi, karena jam kantor. di sebuah belokan jalan.


ciiiiiit


"Aaaaaaa." Bruk

__ADS_1


Tampak sebuah mobil Pan dengan sengaja menghalangi mobil Izzam hingga akhirnya Mobil Izzam oleng karena berbelok dadakan, dan terpental beberapa meter.


BERSAMBUNG....


__ADS_2