Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Muram tiada Henti


__ADS_3

2 tahun kemudian. Terlihat Fasha sedang menemani Mantan Kakak iparnya duduk di teras rumah. Fasha mendorong kursi roda Izzam ke halaman untuk berjemur. Sementara Qiara anak gadis Lili tampak berlari-lari kecil di temani tante Ayana yang sudah berusia 2 tahun, Ayana gadis cantik yang tetap istiqomah mengenakan kerudung pink itu sangat bahagia bisa menemani ponakannya yang cantik.


"Kak Zam." Panggi Fasha pada kakak Iparnya.


"Hem." Hanya itu jawabannya.


"Alhamdulillah perusahaan semakin sukses, selama ini mbak Tami juga tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan, dia bekerja sesuai pekerjaan yang dia tangani."


"Hem." Setiap ada pertanyaan hanya satu kata tersebut yang keluar dari mulut Izzam, sudah 2 tahun ini dia tidak mau bicara atau pun berjalan, dia hanya duduk di kursi roda dan berdiri saat mau ke kamar mandi. Lili dan Ayana sudah sering membujuknya untuk melupakan masa lalu, namun luka hatinya sangat dalam, dia kehilangan anak dan juga istri sekaligus.


"Assalamualaikum Pah."


Tiba-tiba Ahyar datang bersama Lili dari dalam rumah, meraka akan pergi bekerja, ternyata Lili sudah menikah dengan Ahyar, laki-laki yang pernah di jodohkan Mita dulu. Setelah salaman, mereka pun pergi.


Sementara Qiara di asuh oleh baby sitter. Ayana pun bersekolah tidak jauh dari rumah. sejak Mita di anggap meninggal, Izzam memutuskan untuk tinggal di rumah Mita yang dulu dia beli. Fasha pun menjadi Kaki tangan Izzam mulai saat itu di perusahaan. Gajih yang di berikan perusahaan untuk Fasha, setengahnya akan dia kirim untuk Mita dan juga Zila, walau Mita sudah berulang kali bilang, bahwa mereka hidup berkecukupan di Tarim, karena Mita berjualan Hijab dan juga tas yang dia desain sendiri. Walau tidak slalu laku banyak, namun cukup menutupi kebutuhan mereka.


"Bibi, tolong jaga Kak Zam! aku akan berangkat kerja sekalian ngantar Ayana sekolah," Ucap Fasha.


"Baik Tuan." Bibi pun membawa masuk Izzam, dan mengantarnya sampai muka pintu kamar.


"Qiara sayang, sini!" Bibi memanggil gadis mungil itu, dia pun mendekat.


"Temani kakek dulu di dalam ya? Bibi mau masak."


Karena Izzam tidak pernah mau bicara, Bibi hanya memberi isyarat agar Qiara bersama kakek. Qiara pun di bawa masuk Izzam, pintu kamar pun di tutup dan di kunci dari dalam.


"Qiara sayang, seandainya Anak kakek lahir, dia juga seumuranmu, kalian pasti bisa akrab layaknya kakak adik." Izzam berbicara pada Qiara seakan-akan Qiara mengerti.


Izzam pun Berbaring, sedang Qiara mainan di lantai seperti biasa, karena hampir semua mainan Qiara ada di kamar Izzam.


Sementara di kantor cabang yang di kepalai oleh Ahyar dan Lili, sedang merayakan kesuksesan mereka karena pencapaian yang luar biasa.


"Malam ini kita akan pesta disini, kalian boleh bawa pasangan kalian, Suami, Istri, pacar kalian, kita akan merayakannya di Aula, aku akan menyiapkan makanan termewah untuk kalian."


"Li, sebentar!" Ahyar pun menarik tangan Lili ke pojokan.


"Papah sedang sakit, alangkah baiknya kalau kita sumbangkan saja uangnya untuk panti asuhan, atau pun pada orang-orang yang kurang beruntung." Ahyar tidak ingin membuang-buang uang hanya untuk pesta, Ahyar memang orang yang sederhana rendah hati dan penyayang pada orang-orang yang kurang beruntung.


"Bang! ini uangku, Perusahaanku, suka-suka aku dong."

__ADS_1


"Tapi disini aku sebagai penanggung jawabnya!"


"Apa kau lupa? bahwa kau hanya numpang disini, itu karena kau mau menikahiku, itukan kata Papah dulu?"


"Astagfirullah Li, aku tidak seperti itu! aku ikhlas mau nerima kamu dan juga Qiara, tanpa diberi perusahaan ini pun aku mau menikahi kamu, asal Qiara tidak di remehkan orang."


"Alaaaaah, alasan aja, sudah-sudah, keputusanku sudah bulat." Lili pun pergi meninggalkan Suaminya, dan kembali bergabung dengan karyawan yang terlihat sangat senang.


Tak terasa hari sudah sore, waktunya pulang kerja. Di perjalanan Ahyar masih terlihat berdebat dengan Lili masalah party nanti malam. Namun Lili tetap pada pendiriannya, dan akhirnya Ahyar pun diam. Sesampainya di halaman.


"Mamah? kapan datang?" Ternyata Tami mampir ke rumah setelah pulang kerja.


"Baru saja Li, oh ya mana Ayana?"


"Mungkin di dalam sama Papah, ayo masuk Mah!"


"Ayana! Mamah datang Nak." Tami sedikit meninggikan suaranya untuk memanggil Ayana.


Ceklek.


"Mamah!" Ayana pun menyalami tangan Mamahnya.


"Di kamar Mah." Tanpa menunggu di suruh masuk, Tami pun masuk.


Cklek


"Mas Izzam, apa kabar?'" Izzam yang berbaring sambil membaca buku pun terkejut. tapi dia hanya menatap tajam tidak bersahabat.


"Mas, mari kita mulai dari awal lagi, kau harus menatap masa depan, lihat Lili, Ayana, juga cucu kita, mereka butuh kita!" Tami pun duduk di tepi ranjang dan memijet-mijet kaki Izzam.


Izzam bangun dan berjalan menuju Pintu. Dia pun melambai, mengisyaratkan agar Tami keluar dari kamar itu.


"Mas! kau mengusirku? sampai kapan kamu begini Mas, Mita sudah mati! kenapa kau tidak bisa menerima kenyataan itu, lihat aku! aku yang slalu setia menunggu, tak sedikit pun kau beri kesempatan, berfikirlah secara normal, jangan seperti orang gila."


Plak.


Tamparan mendarat di pipi Tami, Tami pun terbelalak.


"Mas! hik hik hik."

__ADS_1


Akhirnya Tami pun melangkah keluar dan man menutup pintu kasar.


Bruk.


Sementara di kejauhan tepatnya di kota para Habaib, terlihat duduk seorang wanita bergamis hitam dan juga bercadar hitam duduk di Balkon apartemen.


"Ukhty...Madza ta'maliin?" ( kakak, apa yang kakak lakukan?)


Goda Zila pada wanita itu.


"Oh Zila, Kakak lagi memikirkan Bang Izzam, apakah kakak sangat jahat?"


"Sangat, kakak sangat jahat."


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


Tentu saja! Zila sudah bilang saat Kaka baru sampai disini, saat Kaka bercerita semua yang telah Kaka lakukan, Zila sudah melarang Kaka berbuat demikian, mengapa Kaka harus pura-pura meninggal? Kaka kejam."


"Zila, aku melakukan itu karena aku takut, kalau aku lengah, lalu aku terbunuh oleh kekejaman dan keserakahan Tami, sudah berapa kali dia mencoba membunuhku."


"Kakak, takdir itu dari Allah, kenapa Kakak takut meninggal? disini pun kalau Kakak tutup usia, semuanya bisa terjadi Kak, aku benar-benar tidak mendukung semua kelakuan Kakak ini pada Kakak Ipar."


"Aku takut Zila."


"Berarti Kakak tidak percaya Allah, buat apa Kakak sholat kalau Kakak meragukan Allah? aku berencana akan membongkar semua kelakuan Kakak ini pada Kak ipar."


"Zila, jangan! aku belum siap."


"Apakah Kak Izzam siap saat dia Kakak tinggalkan dan pura-pura meninggal? aku pun tidak yakin, apakah Kak Izzam akan bisa menerima Kakak lagi, setelah semua ini Kakak lakukan."


"Zila, aku takut Izzam akan sangat membenciku, mungkin akan lebih baik kalau kami begini saja."


"Bukankah Kak Mita lihat! bagaimana kondisi Kak Izzam saat ini, Dia hanya duduk di kursi roda tanpa mau berjalan, walau pun dia bisa, dia mengunci mulutnya tanpa mau berbicara dengan siapa pun."


Mita mulai menangis, suara tangisnya semakin nyaring.


"Kak, baiknya kita sudahi saja kisah ini, ayo kita hubungi Kak Izzam, kita bisa hidup disini, biar Kak Fasha yang mengurus perusahaan di sana, Zila juga akan lulus tahun depan, dan akan mengajar di pesantren yang di tunjuk Ustadz, insyaa Allah gajih nya cukup buat kita."


Zila pun mengeluarkan HP nya dan menelpon seseorang.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2