Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Gara Gara Ngidam


__ADS_3

"Hanan!" teriak Hamzah yang juga kebetulan ada di restauran itu.


"Hey, Hamzah? sedang apa kau di sini?"


"Aku bekerja di kota ini, bagaimana kabarmu? dN istrimu?" Hamzah menatap Zila, sementara Zila hanya menunduk.


"Alhamdulillah sehat, oh iya, ayo ke rumah kami! ini kami mau pulang nih." Ajak Hanan.


"Maaf, aku lagi buru buru nih, nanti saja ya? mau makan dulu," Balasnya.


"Oh baiklah, kami pamit, assalamualaikum."


"Wa alaikumsalam.


Mereka pun berpisah.


Hanan dan Zila meluncur menuju kediaman Mamahnya, setelah 1 jam lebih mereka terlihat sampai di halaman yang megah dan luas.


"Hanan! hey, kok dadakan nggak bilang bilang mau pulang?" Papah Hanan yang terlihat lagi santai duduk di teras terkejut melihat anak dan mantunya datang.


"Assalamualaikum pah." Hanan dan Zila pun salaman.


"Wa alaikum salam."


"Mamah mana?" Tanya Zila.


"Ada di dapur."


Zila pun masuk mencari mertuanya.


"Mamaaaah." Zila ini terlihat manja kalau sama mertua, karena mertuanya sangat sayang sama dia.


"Sayaaaang, kok datang tiba tiba? nggak bilang bilang?" Mertuanya terlihat kaget.


"Huak..huak...bau apa ini mah?" Zila terlihat mual ketika mencium makanan asing yang ada di dapur.


"Lodeh nangka kesukaan papahmu nak."


"Huak...huak." Zila berlari ke washtafel dan memuntahkan makanannya.


"Sayang... Bibi, tolong buang sayurannya keluar!" perintah mamah Hanan.


"Kok di buang Nyonya?"

__ADS_1


"Alaaah, cepet ah, ini Zila nggak bisa nyium."


"Baik Nya."


Bibi pun membawa panci berisi Lodeh ke luar lewat dapur.


Zila berhenti muntah.


"Gimana sayang, kamu duduk di ruang tamu dulu ya, biar mamah siapkan kamar bawah." Zila pun menurut.


"Mah, aku mau makan nih, udah masak belum lodeh nangkanya?" Papah masuk dan nyelonong ke dapur.


Zila hanya diam dan merasa tidak enak, lodehnya kan udah dibuang bibi. Sementara mertuanya sudah masuk kamar Tamu dan tidak mendengar Papah yang baru masuk.


"Bibi, mana lodehnya?"


"Anu, tuan itu, di buang Nyonya." Bibi jadi gugup.


"Hah? aku dari tadi nungguin mau makan, kok di buang?"


"Mamaah, mamah, mana Lodeh Nangkaku?" Papah berjalan menuju kamar dan berteriak.


"Ada apa pah? aku di kamar tamu." Sahut Mamahnya.


Ceklek


"Mamah, lodeh nangkaku mana?" Zila hanya diam seribu bahasa.


"Ooh, itu, cucu kita nggak suka baunya pah, jadi mamah buang tuh kebelakang."


"Cucu? apaan sih mah, mana ada cucu, lahiran juga belom, jangan becanda ah, mana lodehnya? main umpet umpetan gitu." Cecer papahnya kali ini terlihat kesel.


Sementara Hanan tidak paham dan terlihat duduk santai sambil memainkan HPnya di samping Zila.


Mamah Hanan terlihat berbisik di telinga papah.


"Oooh, sudahlah, nanti beli lagi, nggak papa, demi Cucu mah, semuanya ku lakuin, pewaris tunggal. Ayo mah, makan yang ada aja." Papah Hanan tampak salah tingkah, karena tadi sempat teriak teriak cari lodehnya.


"Iya sebentar Pah, ini lagi beres beres kamar buat Cucu, takut naik tangga kenapa kenapa."


Set set set set bruk brak hap


"Selesai." Papah Hanan pun membantu menyapu kamar tamu itu, yang selama ini dia tidak pernah megang gagang sapu.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke dapur dan membuka tudung saji.


"Lho, kok cuma ada telor dadar, ikan teri dan ikan tongkolnya mana?"


"Siang ini kita makan ini dulu la ya, semuanya udah pindah keperut empus di belakang, karena Zila mual cium bau baun gini, dia cuma makan roti, sop soto."


"Aduuuh, kok gini amat ya, perasaan dulu Hanan nggak gini? dia yang hamil kok kita juga ikut menderita mah, haha haha haha." Papah Hanan tertawa lepas, merasa lucu.


"Udahlah, makan saja! nanti klo mau makan enak, papah makan diluar saja ya? hihi." Mamah pun ikut tertawa kecil. jadilah siang ini makan telor dadar celup kecap😄


Zila sudah masuk kamar Tamu.


"Bang, aku merasa nggak enak sama papah, kamu carikan sayur lodeh papa ya! di warungan ada kok."


"Emang kenapa?" Hanan jadi bingung, karena dia tidak tau ceritanya.


"Tadi zila mual, tak tidak tahan cium semua makanan di dapur."


"Lalu?"


"Lalu mamah buang tuh semua makanan yang ada di dapur."


"Ha? hahaha." Hanan pun tertawa leaps.


"Kok ketawa."


"Ngegemesin, belum lahiran aja sudah bikin kakeknya nggak makan pakai lauk, apalagi kalau lahir nanti, ya sudah, nggak papa, itu papah udah makan kok."


"Kasian papah Bang."


Hap


"Nggak papa sayang." Hanan memeluk Zila mesra, dan berbaring di ranjang untuk istirahat siang.


"Assalamualaikum...Nicol? mamah?"


Suara seorang perempuan di depan teras menghentikan candaan Hanan dan Zila.


"Siapa?" Tanya Zila.


"Nggak tau. Biar Bibi atau mamah saja, kita istirahat siang saja ya." Hanan pura pura tidak mengenal suara itu, padahal suara itu pernah mengisi hari harinya di masa lalu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2