
Deg.
Jantung mita berdetak kencang saat mendengar bayinya tidak ada, apa maksud Izzam? Ingin sekali rasanya Mita meraba perutnya, namun dia juga tidak ingin ketahuan bahwa dia telah siuman.
"Sayang, bangun! Ayana membutuhkanmu, kalau dia tau kau seperti ini, dia pasti sangat sedih, tolong sayang, bangunlah!"
Izzam terung menangis di samling Mita sambil menciumi tangan Mita, sesekali Mita membuka sedikit matanya untuk melihat tingkah Izzam, yang merengek bagai bayi, tapi Mita tidak perduli, Mita ingin bersandiwara lebih lama.
"Sayang, maaf, aku mau keluar sebentar, aku harus mengambil baju untuk ganti, saat aku datang ku harap kau akan bangun, aku akan menyuruh suster menjagamu."
Izzam pun keluar, tak berapa lama suster pun datang.
"Ibu sudah bangun?" Suster terkejut melihat Mita yang duduk di sisi ranjang, bukankah tadi Izzam bilang Mita masih pingsan?
"Aku butuh bantuan mu, aku ingin bersandiwara untuk tetap pingsan, ada sesuatu yang ingin ku ketahui, tolong bantu aku, tolong!" Awalnya suster itu tampak bingung dan ingin menolak, namun ketika Mita terlihat menangis, dia pun setuju.
"Baiklah Bu, aku akan melakukannya."
"Suster boleh keluar, silahkan liat CCTV saja, kalau terjadi yang berbahaya, maka suster boleh datang, karena aku yakin, ada seseorang yang akan mengincar nyawaku."
"Baik Bu!"
Perawat itu pun pergi, dan memantau lewat CCTV. Mita pun kembali berbaring. Benar saja tak berapa lama Tami pun datang.
"Mita, hey, bangun!"
Dia menggoyangkan tubuh Mita, namun Mita tak merespon.
"Apa kau masih pingsan? aku harus apa ya? apa aku bunuh saja sekalian wanita ini, biar tidak ada yang menghalangi hubunganku dengan Izzam?"
Tami pun mengambil bantal yang ada di ranjang samping Mita. Dengan sekuat tenaga Tami menutup muka Mita, awalnya Mita mencoba menahan nafas, namun ketika persediaan nafasnya habis, dia pun meronta melambai lambaikan tangannya, Tami makin ganas.
"Hey, siapa kau?" Tiba-tiba perawat berdatangan dan memergoki Tami yang ingin membunuh Mita, Tami pun berbalik dan mengambil langkah seribu, perawat itu pun mendekati Mita.
"Lepaskan saja dia, jangan di susul."
Ucap Mita pada perawat itu.
"Tapi kenapa Ibu membiarkannya pergi?"
"Sudahlah, aku tau siapa dia, kalau aku ingin, aku bisa menuntutnya dengan bukti CCTV, aku perlu bantuan kalian, tolong bantu aku untuk mati suri."
"Apa maksud Ibu?"
__ADS_1
"Aku perlu menghilang, agar nyawaku selamat."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Suntik aku dengan obat bius yang sangat kuat, yang akan mematikan semua organ tubuhku, dan menghentikan pernapasanku dan detak jantungku dalam waktu berjam-jam."
"Apa ada hal seperti itu Bu? aku bahkan belum pernah mendengarnya."
"Bukankah dulu di korea pada zaman joseon pernah terjadi seperti itu? semacam ramuan yang mematikan dalam waktu beberapa saat."
"Tapi aku tidak tau Bu, apa hal semacam itu benar atau Hoaks."
"Kau harus men ari cara tau."
"Tapi bagaimana kalau gagal atau bahkan obat seperti itu tidak ada?"
"Kalau gagal, berarti takdirku memang harus mati, kau harus berusaha dulu agar tau, obat seperti itu ada atau tidak, aku akan membiayai kepergianmu ke korea untuk mencari obat itu, kalau kau berhasil, setelah aku bangun, aku akan memberimu uang 300 juta."
"Oh my Good, apa kau serius Bu?!"
"Aku sangat serius, maka berusahalah agar obat itu ada, sekarang pergilah! beri aku suntikan bius kalau kau melihat suamiku datang, jangan bertanya, aku tidak yakin bisa bertahan sampai kapan kalau aku sadar seperti ini untuk berpura-pura, lebih baik aku tidur karena obat bius."
"Tapi.."
"Dan ceritakan juga kejadian baru tadi pada suamiku, agar aku bisa di pindah dari sini."
"Baik Bu."
Perawat itu pun keluar. Seperti perintah Mita, wanita itu pun mulai meng-google obat-obatan dari korea tentang pembiusan total yang bisa menghentikan detak jantung.
"Aaaah, sial!" Gumam perawat itu.
"Ada apa clara? kenapa kau panik?"
"Oh tidak, aku hanya membaca berita fans ku." Jawabnya berbohong. Terlihat di layar monitor bahwa Izzam telah datang, Clara pun segera mengatur rencana, dia pun ke kamar Mita.
"Maaf pa, saya harus memberinya obat antibiotik dulu untuk rahimnya."
Dengan sangat mudahnya Izzam pun percaya. Perawat pun mendekat.
"Maaf nyonya saya akan memberi anda obat penahan rasa sakit." Perawat itu pun mencubit sedikit lengan Mita, Mita pun mengerti dan beristigfar dalam hati.
"Kalau ada keluhan Tuan cari saya saja, karena saya yang menangani Ibu ini, kalau Tuan salah perawat, nanti malah salah obat, oh ya Tuan, tadi ada wanita kemari, dia mencoba membunuh Ibu ini dengan membekap wajahnya dengan bantal."
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa? bukankah kau tadi ku suruh jaga disini? apa yang kau lakukan hingga hal seperti itu terjadi?"
"Maaf Tuan, tadi saya habis ke kamar kecil, mungkin orang itu sudah mengintai, saat saya keluar dia pun masuk, maafkan saya Tuan!"
"Baiklah, sekarang aku ingin pindah kamar, tolong di urus sekarang."
"Baik Tuan."
Sesuai rencana, Mita pun di pindahkan ke ruangan lain.
Trin tring tring
Hp Mita berbunyi, Izzam pun segera mengangkatnya.
("Hello, Fasha! apa itu kau?") Izzam
("Apa ini Kakak ipar?") Fasha
("Ya, kau dimana?") Izzam
("Aku sekarang di rumah, tadi siang kami sedang telponan dengan kak Mita, katanya dia akan menginap disini, tapi dia tidak ada, malah pintu kamar jebol")
("Mita ada di rumah sakit, kau kesini lah, aku akan share lokasi")
("Apa? oh iya baiklah saya akan ke sana")
Klik.
"Mita, sayang, apa yang terjadi? mengapa kau belum siuman?" Izzam terus saja menangisi keadaan Mita, dan akhirnya dia pun lelah dan tertidur sambil telungkup di ranjang mita. Setelah 4 jam, Mita pun bangun, Saat bangun dia terkejut melihat Izzam ada di sisinya, dia pun bingung bagaimana cara untuk melanjutkan rencananya. Namun ketika dia melihat sosok yang dia kenal, dia pun lega, Fasha juga ada di sana, tapi bagaimana caranya dia memberi tahukan rencananya pada adiknya? dia pun ingat pada perawat yang akan membantunya. Dia pun melambai ke CCTV untung saja perawat itu melihat dan segera mendatangi ruangan Mita.
Mita pun berbisik.
"Tolong jelaskan pada adikku itu semua rencanaku, dan buat suamiku pergi saat kejadian itu terjadi." Perawat itu mengerti. Dia pun membangunkan Fasha dan mengajaknya keluar.
"Apa? apa yang kau maksud? jadi kakakku sudah sadar, dan dia merencanakan agar dia menghilang untuk selamanya? bagaimana bjsa?"
"Ibu Mita sedang dalam bahaya, dia bilang mantan istri suaminya yg ingin menyingkirkannya."
Perawat menceritakan semua kejadian kemaren, bahwa dia juga hampir di bunuh.
"Baiklah, aku yang akan pergi ke korea untuk mencari obat itu, tapi bagaimana mungkin aku tidak punya biaya untuk itu," Fasha bingung bagaimana bisa pergi ke sana, sedang gajih nya saja hanya cukup untuk hidup sebulan.
"Kau tenang saja, Kakak anda akan menyiapkan semua biaya selama disana."
__ADS_1
BERSAMBUNG....