Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Banyak Rahasia masa lalu


__ADS_3

1 bulan sudah berlalu.


"Bang, Hari ini aku mau ketemu Kak Mita, apa boleh aku menginap?"


"Aku ikut ya?" Dengan nada manjanya, Hanan merengek minta ikutan.


"Masa ikut sih Bang, aku pengen nemenin Ezra, cuma sehari doang kok." Pinta Zila, sebenarnya Zila pengen curhat pada kakaknya Mita.


"Kita masih bulan madu Pearl, masa di tinggal, kasian si Uyung nih! pasti kehausan." Hanan memberi isyarat tanpa malu.


"Ih apaan sih Bang, malu maluin."


buk


Zila memukul pelan tubuh suaminya.


"Au, sakit sayang....Pearl, jangan pernah kau tinggalkan aku ya! kalau suatu hari aku oleng dan berubah, tolong sadarkan aku." Pinta Hanan sambil menatap wajah istrinya lekat


"Berubah? berubah seperti apa?" Zila pun balas menatap heran eajah Hanan.


"Mungkin saja aku khilaf, atau aku hilang ingatan, haha." Hanan tertawa lepas.


"Ih Babang, udah niat ya? apa maksud Babang, Babang akan ninggalin Zila?" Tanyanya lagi.


"Bukan begitu, nggak ada niat seperti itu, tapi kan kita tidak tau takdir." Sangkal Hanan lagi.


Hanan dan Zila yang saat ini tampak menikmati secangkir teh panas di depan teras rumahnya, terlihat sangat romantis, mereka duduk di satu kursi kayu panjang, Zila sesekali menyandarkan tubuhnya di dada Hanan mesra.


"Babang kerja jam berapa hari ini? kok masih santai?"


"Sebentar lagi, perusahaan juga punyaku, buat apa terlalu pagi, yang ada nanti malah aku kepencot sama karyawan cantik kan?"


"Babang, nggak boleh ngomong gitu, kata kata adalah doa tau!" Zila pun menarik tubuhnya dari tubuh suaminya.


"Hahaha, cemburu ya?" Hanan menggoda dengan senyuman mautnya, dsn kembali menarik tubuh istrinya kepelukannya.


"Ih wajar kan? lagian seorang istri itu emang harus cemburu pada suaminya sendiri, artinya dia cinta, tapi jangan terlalu cemburu juga, mudahan cinta Zila ini karena Allah. kalau suatu hari Babang berubah Zila siap dan ikhlas." Wajah Zila dedikit cemberut.


"Sayang, kok ngomong gitu? ikhlas, kayak Babang mau mati aja." Sahut Hanan menanggali komentar Istrinya.


"Lah iya Bang, emang gitu, semua kan hanya titipanNya, jadi, kalau suatu hari Babang berubah, berarti sudah takdir kan?" Balas Zila.


"Eh Hanan, kok belum berangkat?" Tiba tiba Mamah muncul di depan pintu.


"Sebentar lagi Mah, ini juga lagi membicarakan strategi bikin cucu buat Mamah, haha." Hanan lun tertawa geli dengan ucapannya sendiri.


Ciiit. Zila mencubit.


"Au, sakit." Hanan meringis ketika satu cubitan kembali mendarat di pinggangnya.


"Hahaha." Mamah tertawa

__ADS_1


"Apaan sih sayang, sakit." Hanan pun menggosok gosok pinggangnya yang terasa nyeri.


"Hihi,....Mamah mau ke mana? kok rapi banget." Tanya Zila


"Mamah pengen ngajak kamu jalan jalan, shoping." Jawabnya.


Mamah Hanan saat ini belum memakai Hijab, dan cuma menggunakan baju bluse panjang dan rok panjang di bawah lutut.


"Shoping? Mah, aku tidak pernah Shopong, biasa, kalau mau beli sesuatu, paling Kak Mita yang beli in." Jawab Zila.


"Makanya mulai sekarang, kamu belajar shoping sama Mamah, dia jagonya menghabiskan uang papah, hahaha." Hanan tertawa lepas sambil mengeratkan rangkulannya di pundak Zila.


"Emang Babang tak takut uangnya aku habisin?" Cicit Zila.


"Nggak! malah aku senang, Sekalian beli lingeri" Bisik Hanan.


"Hah, Lingeri?" Zila yang tak paham bahasa tersebut pun mengulanginya kembali.


"...." Mamah yang mendengar pun tersenyum.


"Ya udah, Mamah ke dalam dulu, nanti kalau Hanan berangkat, kita juga berangkat, biar Soraya yang nyetir, kamu juga boleh belajar nyetir." Sahut Mamah sambil masuk ke dalam rumah kembali.


"Nggak Mah, takut." Zila


"Enak kok, matic juga, nanti ajarin istrimu ya?" Terdengar suara mamah,makin menjauh.


"Iya Mah gampang," Sahut Hanan dengan sedikit meninggikan,suaranya, karena Mamahnya sudah jauh di dalam.


"Tentu saja boleh, apa kau mau ikut hari ini?" Hanan menggeser duduknya menghadap istrinya, dan mendekatkan wajahnya, sehingga jidad mereka saling bertaut.


"Hari ini kan Mamah minta temenin belanja Bang." Zila menjawab dengan posisi tak berubah.


"Oh iya, hahaha." Hanan pun tertawa dan kembali ke posisi semula dan menyesep teh manis buatan istrinya.


"Emang karyawan di kantor ada berapa?" Zila penasaean dengan perusahaan suaminya.


"Yaaaa.... kalau perusahaan inti sekitar 300 an."


"Waaah banyak amat. perusahaan inti, emang ada perusahaan lain ya Bang? biasanya kan wanita kantoran itu pakai baju modis gitu, rok di atas lutut kan?" Tanya Zila penasaran


"Iya emang, mereka pakai seragam yang sama."


"Berarti tiap hari Babang liat pemandangan gitu dong?"


"Gitu gimana sih Pearl." Hanan menatap istrinya heran.


"Ya gitu, aurat gitu,, kan kantor itu punya Babang. bisa dong Babang bikin kebijakan baru untuk mengubah cara berpakaian mereka." Ucap Zila.


"Ooh, itu kan kebijakan punya papah, aku cuman nerusin doang kok, tapi kalau suatu hari perusahaan itu jadi milikku, aku pasti akan bikin kebijakan sendiri." ucapnya lagi.


Tak berapa lama. Tiba tiba.

__ADS_1


"Nicol, buka!.....Paman, tolong izinkan aku lewat. tolong paman." Seorang wanita berteriak tiba tiba di muka pagar tinggi menjulang itu.


"Maaf nona, aku harus izin dulu."


Sinta yang berteriak teriak dari depan pagar itu mengagetkan kemesraan Hanan dan Zila.


Nicol? Siapa lagi Nicol?


Apakah Hanan punya banyak kisah masa lalu?


Zila termangu menatap wanita yang di lihatnya itu.


Sinta, wanita malam itu.


trus siapa Nicol?


Bathin Zila


"Sayang, kamu masuk dulu ya, biar aku yang mengurusnya oke!" Pinta Hanan.


"Bang, hati hati." Zila pun berdiri dan masuk menuruti perintah Hanan.


Hanan pun mengangguk.


Zila masuk ke dalam rumah dengan hati yang berkecemuk.


Apakah Hanan punya masa lalu yang rumit?


Bathinnya.


Hanan pun mendekati pagar.


"Sinta, untuk apa kau ke mari heh? hubungan kita sudah selesai 2 tahun silam. Itu pun kau yang telah menyelesaikannya, jadi jangan lagi menggagnggu kehidupanku." Hanan tampak emosi dan menatap Sinta geram.


"Nicol, tolong maafkan aku, setelah berapa lama, aku baru menyadari, bahwa tak ada lelaki yang bisa menggantikan dirimu Nic, tolong kembalilah padaku, maafkan aku Nic." Sinta menghiba dan terduduk di depan pagar, sambil memegangi jeruji jeruji pagar.


"Sin, pergilah, aku sudah menikah, kita tidak akan bisa bersama," entah mengapa hati Hanan seperti terenyuh melihat pemandangan itu, wanita yang bersamanya selama 3 tahun dulu, yang sangat di cintai dan di manjakannya kini hadir di hadapannya.


"Nic, aku tau, kau masih menyimpan rasa padaku kan? tinggalkan saja wanita itu, dia bukan levelmu Nic!" Sinta terus memohon sambil mengeluarkan butiran butiran bening di matanya.


"Sin, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama, bagiku, kau sudah tenggelam ke dasar laut, jadi, pergilah!" Hanan pun berbalik dan menjauh dari pagar, dengan hati yang tak karuan, mungkin ada sisi hatinya yang masih menyimpan rasa.


"Nic."


Sementara Zila menatap Hanan dari balik kaca dengan hati yang juga tak karuan.


Apakah Hanan masih mencintai wanita itu.


Bathinnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2