
"Silahkan mamah turun, aku akan ke rumah Zila."
Mamah Hanan pun turun dan masuk ke dalam rumah. Sementara Hanan dia pergi menuju Kastel Izzam untuk menemui istrinya.
Sepanjang jalan Hanan merasa gundah gulana.
Deg
Ciiiit
Tiba tiba Hanan berhenti dan terkejut melihat seseorang yang sangat di kenalnya.
"Lili?"
Terlihat Lili sedang menaiki sebuah taksi bersama anak kecil.
"Bukankah anak kecil itu yang tadi bersama mamah waktu di butik? apakah dia anak Lili?" Belum terjawab pertanyaan tentang Sinta, kini datang lagi pertanyaan tentang Lili.
"Aaaaah."
Buk buk buk
Hanan memukul mukul setirnya dan berteriak kecil.
Taksi Lili pun berjalan maju, Hanan mengikuti.
Sepanjang jalan Hanan tampak kadang menggumam sendiri dengan wajah kusut. Ketika Lili berhenti di rumah lama Izzam.
Setelah Lili masuk Hanan pun kembali meneruskan perjalanannya menuju rumah Zila.
*
*
*
"Assalamualaikum." Hanan pun masuk dan di sambut oleh beberapa Aunte yang slalu standby di depan teras.
__ADS_1
"Waalaikumussalam." Jawab mereka.
Tap
Tap
Tap
Ceklek
Hanan membuka pintu yang biasa di tiduri Zila bila sedang berada di rumah Izzam.
Dia tertidur
Gumam Hanan, saat dia melihat Zila sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
Hanan pun melepaskan jas, sepatu dan ikut berbaring di samping Zila yang membelakangi pintu.
Hap
Dia memeluk tubuh istrinya erat.
"Pearl, aku." Lirih Hanan.
"Babang?" Ketika Zila menyadari itu suara Hanan dia oun berhenti bergerak, dan memegangi tangan Hanan.
"Mmmm." Hanan hanya menggumam. Dia hirup aroma rambut istrinya yang sangat harum. dia benamkan mukanya di dalam rambut panjang itu, dan merasakan sensasi wangi yang membuat jiwanya tenang.
Allah, bantu aku mempertahankan ini, bukankah kau tau, betapa aku dulu sangat tertekan dan kehilangan arah? Allah, aku sudah bangkit tolong aku untuk tetap bertahan.
"Babang kok pulang cepat? apa sudah makan?" Tanya Zila.
"Belum," Sahutnya.
"Hah? ini udah jam 2 Bang, kok belum makan? yo kita makan? atau pengen Zila bawakan ke mari?" Tanyanya lagi, dia takut kalau Hanan terlambat makan maghnya akan kumat.
"Bentar lagi, aku ingin seperti ini." Sahutnya.
__ADS_1
"Babang harus makan nanti magh lho, ayo lepaskan! biar Zila bawakan?" Zila pun melerai pelukan Hanan, namun Hanan tidak melepaskan dan semakin erat memeluknya.
Zila tak bisa bergerak.
Ada apa lagi kali ini?
Setiap Hanan mempunyai masalah, dia pasti seperti itu.
"Babang, huak, huak, sesak Bang aku mual nih." Tiba tiba Zila merasa sesak dan mual karena terlalu erat di peluk Hanan.
"Oh maaf," Hanan pun melepaskan pelukannya.
Zila bangun dan berdiri ke luar kamar.
"Mau kemana Pearl?" Tanya Hanan.
"Sebentar." Zila pun hilang di balik pintu setelah dia mengambil kerudung dan cadar instannya yang pakai karet gitu.
Ceklek
Zila kembali dengan membawa nasi dan ayam kesukaan Hanan.
"Ayo makan!" Zila pun meletakkan Nasi di lantai dan duduk di depan nasi itu untuk menemani Hanan.Hanan pun turun dari ranjang. dan duduk di seberang Zila.
"Suapin dong sayang." Rengek Hanan.
"Hah?" Zila menatap wajah tampan suaminya.
"Tunggu!" Zila pun melepas kerudungnya, dan melepas baju syar'inya dan hanya memakai tingtop dan celana di atas lututnya.
"Cantik." Gumam Hanan singkat.
"Hemmmm? kau ini, ayo makan!" Zila pun menyuapi Suaminya dengan penuh perasaan. separo nasi sudah habis.
"Huwaaaa huwaaaa." Tiba tiba Zila mual dan benar benar ingin muntah.
"Sayang! ada apa?"
__ADS_1
"Entah, aku merasa sesak dan mual."
BERSAMBUNG....