Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Koma


__ADS_3

Sesampainya di Rumah sakit Zila langsung turun dari mobil dan menuju UGD.


Tring tring tring


Kak Mita


Gumam Zila, ketika dia menatap layar ponselnya.


Bagaimana ini?


Zila tampak gemetar dan gugup.


"Ada apa sayang? kok pucet."


"Kak Mita telpon bagaimana ini?"


"Bilang saja mampir untuk cari makan."


"Kok bohong?"


"Laaah daripada bilang mencari Kak Zam yang kecelakaan,?"


"Udah mati, mungkin Kak akan nelp ke HP Tuan."


Triiiing


Hp Hanan pun berbunyi.


"Nah, aku harus ngomong apa nih?"


"Terserah Tuan?"


Mereka pun terus berjalan menuju resepsionis.


Hanan sedang menerima telpon Mita di depan pintu, sedang Zila langsung bertanya ke loket.


"Mbak, apa ada pasien tabrakan hari ini? yang baru datang Mbak, laki-laki."


"Seperti apa ciri-cirinya?"


"Usia 48 atau 50an gitu, masih gagah, tinggi tegap."


"......"


***


"Kurang tau mbak, tapi ada barusan baru datang."


Perawat pun memberi tahukan kamar pasien kecelakaan.


Mereka pun sampai di tujuan. Zila dan Hanan pun masuk.

__ADS_1


Terlihat seorang lelaki sedang terbaring dengan wajah penuh luka.


"Kak Zaaaam."


Bruk


Zila pun tersungkur dan meringkuk di depan ranjang, dia menangis histeris melihat Kak iparnya yang sedang koma. Separo wajahnya hampir tak terisa.


"Sayang sabar,"


Hanan pun mengalus elus pundak Zila. Badannya bergetar hebat.


"Apa yang harus ku katakan pada Kakak? apa? hik hik hik."


"Nanti kita pikirkan dulu sayang. Sekarang aku harus nelpon seseorang."


Hanan oun keluar dan menelpon.


{Helo Mah, tolong kirim satu orang keeprcayaan papah ke Rumah sakit....}


{Ada apa Nan, kok mendadak ke Rumah sakit, untuk apa?}


{Kak ipar Zam kecelakaan Mah, kak Mita belum tau, aku perlu orang untuk menjaga beliau}


{Baiklah Nak, segera ku kirimkan}


"Sayang, kita tunggu seseorang kiriman Mamah dulu untuk menjaga Kak Zam, baru kita pulang."


"Suster, tolong pondahkan Kak zam keruangan Vip. Aku akan menanggung biayanya."


"Baik Mas, kami akan bicarakan dulu dengan atasan." Selesai memeriksa Suster itu pun keluar dan menghadap atasan.


*


*


*


"Apakah kalian ingin ruang Vip untuk Tuan ini?"


Seorang perawat tampan dan terlihat bijaksana datang.


"Iya pak,"


"Baiklah, kami akan segera memindahkan, karena kebetulan ada rungan yang kosong."


Tak berapa lama, beberapa perawat datang untuk memindahkan Izzam keruangan yang besar dan nyaman.


Sementara, orang suruhan Mamahnya pun sudah datang.


"Zila sayang, sayang, ayo kita pulang! paman ini akan menjaga Kak Zam dan mengambilkan keperluannya."

__ADS_1


"Aku harus ngomong apa sama kakak, hik hik hik, aku tidak bisa mengatakan ini pada kakak, tidak, aku tidak mau, lebih baik aku tidak datang saja ke indonesia hik hik hik."


"Sayang, ini sudah takdir, kok ngomong gitu, kalau kau tidak datang bisa-bisa aku keselek rindu sayang," Hanan bisa-bisanya untuk bercanda.


Akhirnya Zila pun mau lulang, sepanjang jalan dia menyusun rencana untuk memulai bercerita, akan tetapi dia slalu ngucek ngucek mukanya, karena idenya jelek. berulang-ulang begitu, Hanan yang melihat dari kaca depan pun tampak sedih.


"Sayang, kok gitu, nanti mukanya lecet Lho, nanti Maharnya berkurang." Hanan coba bercanda, namun Zila tidak memperhatikan kata-kata Hanan. Tak terasa mereka sampai di pekarangan rumah. Disambut gembira oleh Mita.


"Zilaaa."


Bruk


Mita memeluk adik kesayangannya itu keras, hingga Zila terhuyung. Sementara Zila hanya diam, dan meneteskan air mata.


"Zila kenapa?" Mita pun menatap wajah adiknya.


"Hanan! Kau apaan adikku heh, jawab!"


Mita tampak emosi, karena mengira kalau Hanan bertindak macam-macam, mana tadi Telpon nggak di angkat. Pulangnya lama banget.


"Tidak Kakak, tidak ngapa-ngapain, ayo kita masuk dulu!"


Hanan pun mendahului masuk membawa koper dan bawaan Zila lainnya.


Mita dan Zila pun duduk di ruang tamu.


"Zila jawab!" Mita menatap Zila tajam, begitu juga Zila,"


"Kak, janji tidak akan rapuh?"


"Emang kenapa?"


"Kak Zam...dia."


"Ada apa dengan Dia, beberapa kali ku telpon tidak mengangkat, tidak ada kabar sampai sekarang."


"Kak Zam kecelakaan Kak, hik hik hik, dia sekarang... di Rumah...sakit."


"Hah? dari mana kau tau?"


Zila pun menceritakan kejadian pulang senja tadi.


"Kak zam Koma hik hik hik."


"......" Mita memegangi dadanya, rasanya sesak, dia pun berdiri. dan,berjalan menuju kamar, mungkin ingin mengambil tas.


"Antar..tolong antar." Dia melambai ke Hanan. namun tiba-tiba tubuhnya oleng.


Bruk


Mita jatuh dan pingsan.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2