Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Berhenti Massal


__ADS_3

Lili pun terpaksa pulang karena Orang rumah tidak ada yang membukakan pintu.


Kantor polisi 12.00


"Mah, pagi tadi aku ke rumah papah, meminta agar Mamah bisa di lepaskan dari tuntutan, namun papah marah-marah Mah, bahkan aku tidak di bukain pintu mah, kesel banget nggak sih!" Lili bertamu pas jam kunjungan siang.


"Trus Papah bilang apa?" Tami oun tampak penasaran.


"Tadi pagi ku menabrak tu pela**r jatuh deh terduduk, malah dia pura-pura kesakitan Mah, trus di gendong sama papah di bawa ke kamar, kemudian aku pun di usir dari rumah mereka, aku akan membalas perbuatan mereka Mah."


"Kamu harus hati-hayi Li, lakukan apa maumu, tapi jangan menggunakan tanganmu sendiri," Ujar Tami menasehati.


"Maksud Mamah apa sih? oh iya, papah juga sempat bilang kalau Lili bukan, bukan apa ya maksudnya, Papah nggak melanjutkan kata-katanya Mah."


Deg


Tami menjadi khawatir, apa mungkin Izzam akan mengungkapkan rahasia yang sudah berpuluh-puluh tahun di simpan.


Kantor Nusa Grop


"Bagas, tolong kamu awasi terus Lili, aku ingin tau seperti apa sebenarnya wanita itu? aku harus tau, apakah dia hidup dengan baik."


"Baik pak." Bagas pun meninggalkan pak lesmana. Masih ingat nggak sama pak lesmana yang membawa Lili malam itu.


Tami di mana kau sekarang, aku sudah mencsrimu ke mana-mana namun aku tidak menemukanmu, apa,aku,harus menyuruh Ben untuk mnyelidikinya ya.


Lesmana tampak berpikir keras, akhirnya dia lun mengeluarkan Hp dari sakunya.


{Helo, Ben kau dimana?}


{Lagi di rumah paman, ada apa?}


{Aku ingin minta bantuanmu lagi, tidak gratis kok}


{Baiklah paman, katakan saja, asal tidak terlalu sulit}


{Mudah kok, kau csri tau info ibu Lili dan juga pekerjaannya}


{Gampang pamaaan, }


{Aku ingin secepatnya ya}


{oke siaaaap}


Tuuuuut


Tok tok tok


"Masuk." Ujar pak Lesmana.


"Ini laporan bulan kemaren Pak." Seorang wanita cantik masuk membawa berkas laporan perusahaan Nusa Grop.


"Ada perkembangan apa Rin?" Pak Lesmana nampak membuka satu-persatu laporan itu.


"Perusahaan kita berkembang pesat Pak, bahkan banyak investor yang ingin menanam saham di perusahaan kita."


"Baiklah, sementara kita tolak dulu secara halus, karena aku fokus dengan investor yang terdahulu saja, aku,akan menaikkan laba mereka."


"Baik Pak, permisi."


Sekeretaris Pak Lesmana pun keluar.

__ADS_1


Cv Mh. 15.00


"Bu maaf, bulan tadi pendapatan kita merosot turun, dan terlalu banyak pengeluaran."


"Bagaimana bisa terjadi, apa kerjaanmu sehingga bisa seperti ini heh?" Liki terlihat marah-marah lada sekretarisnya.


"Maaf bu, itu karena pengeluaean kita sangat banyak, bukankah ibu sendiri yang menarik saldo."


Bruk


"Ini Perusahaanku, suka-suka aku dong mau ngambil uang berapa. Kamu aj kerjaannya tidak becus." Lili marah sekali ketika sekretarisnya berani mengatakan macam-macam.


"Baik lah Nona Lili, saya tidak sanggup lagi bekerja di sini, saya mengundurkan diri. Assalamualaikum."


"Hey, awas kau, berani-berani kau mengundurkan diri, kau tidak akan dapat pekerjaan setelah ini, lihat saja." Lili sangat kesal melihat sekretarisnya berani mengundurkan diri.


Tok tok tok


"Siapa lagi sih? masuk!"


"Bu, kami mau bicara." Terlihat ada beberapa karyawan yang masuk.


"Mau apa kalian masuk rombongan gitu?" Lili tampak judes dan gusar melihat karyawannya masuk bersamaan.


"Maaf Bu, kami mau mengundurkan diri." Salah satu karyawan pun angkat bicara.


"Apa? kian mau,berhenti bersamaan, hebat sekali kalian, bukankah kalian sudah bekerja di perusahaan ini sudah 5 tahun lebih?"


"Maaf Bu, waktu pak Izzam yang mengepalai kami sering dapat bonus, dan,gajih kami tak pernah telat."


Bruk


"Jadi maksud kalian, aku tidak membayar gajih tepat waktu?"


Brak


prang


"Silahkan kalian keluar, keluar semua!" Lili pun melempar gelas yang ada di mejanya.


"Kami permisi bu."


"dasar kurang ajar."


Lili tampak mondar mandir di ruangannya.


Tring


Tring


Tring


{Bu Lili, kami minta rapat dadakan sore ini}


{Ada apa pak, kok tiba-tiba?}


{Nanti kita bicarakan, aku dan 10 investor lainnya akan ke sana}


{Hups, baiklah}


tuuuut

__ADS_1


"Aaaaaargh sial! mengapa semua jadi begini sih. Baiknya aku ke toko ibu dulu untuk melihat penjualan di sana," Lili pun pergi mengunjungi Toko ibunya karena ibunya sedang di penjara.


Selama perjalanan Lili tampak kesal dan menggumam jengkel. Sesampainya di toko Ibunya. Dia,pun duduk manis di meja kasir sambil mengambil uang hasil penjualan hari itu.


"Rani, katanya kau akan menikah ya?"


"Insyaa Allah Kak? kalau jodoh."


"Lho, kok kalau jodoh, katanya kalian sudah lamaran?"


"Belum tentu jodoh juga Kak, kan belum ijab kabul,hihi."


"Aaah, kamu, sana-sana." Karena mood Lili,sedang tidak baik, salah jawab aja bikin dia kesal.


"Assalamualaikum. Maaf Mbak saya mau ketemu Rani?"


Siapa dia? apa dia pacar Rani, tampan sekali!


Gumam Lili.


"Belum waktu pulang, kamu tunggu aja, se jam lagi." Ucap Lili ketus.


"Oooh, baiklah," Lelaki iti pun pergi menjauhi Toko.


judes amat ya Bos baru Rani


Gumam pria itu.


Waktu yang di tunggu pun tiba, ternyata Rani sudah menikah dengan lelaki tampan itu,walai masih sirri anaknya si kakek tua dulu.


Author lupa namnaya☹️


Mereka pun pulang, sementara Mely sudah bersiap naik ke atas.


"Hey, tunggu, kau rapikan dulu semua barang yang menumpuk itu, aku tidak suka toko berantakan."


Bentak Lili. Mely bersungut kesal, namun terpaksa melakukan perintah bos.


Setelah selesai menghitung pendapatan hari itu Lili pun kembali ke kantor untuk rapat.


"Menyebalkan banget sih bos Lili, awas aja.",Gumam Mely sambil naik ke atas tangga.


Selesai Rapat Lili melaju menuju kediamannya rumah lama Izzam. sesampainya di pekarangan rumah, Qiara sudah menyambutnya dengan hangat minta di peluk.


" Mamah capek Nak, sama Bibi duku ya, mamah,mau mandi dan istirahat, Bi tolong gendong Qiara."


"Iya Non." Qiara pun menangis di pelukan Bibi.


"Mah, Mah, itut Maaah" Qiara terus menangis.


Sepasang mata telah mengawasi mereka dari balik mobil mewahnya, rupanya orang itu mengikuti Lili daei tadi.


"Ayo pak jalan. Aku,sudah tau temlat tinggalnya, kayaknya dia cukup bahagia dengan kehidupannya, aku jadi tidak mengkhawatirkannya lagi."


"Apakah Tuan,tidak,ingin menemuinya langsung?" Sopir pun bertanya kembali.


"Tidak, cukup di sini dulu, asal aku sudah tau tempat tinggalnya, mungkin Tami dan juga Suaminya tidak suka kalau aku datang."


Mereka pun melaju meninggalkan kediaman Lili menuju ibu kota jakarta.


Lelaki itu terlihat berwibawa dan kira-kira seumuran Izzam. Wajah yang terlihat berkarisma dan Tampan. Terlihat seperti orang kaya yang mapan.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2