Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Tepesona


__ADS_3

Seorang pria berjenggot mendekati mereka, dan duduk berjarak 2 meter dari mereka.


"Apa kalian dari Indonesia juga? maaf aku tadi mendengar kalian bicara"


Mita dan Zila pun saling pandang, mereka saling lempar pandangan berharap ada yang menjawab lebih dulu. Hening.


"I-iya Tuan." Akhirnya Mita pun bersuara.


"Apakah kalian sudah lama disini?" Laki-laki itu berbicara tanpa menatap ke dua wanita itu, matanya lepas memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi


"Iya, adik saya sudah sekolah sejak 2 tahun silam Tuan, kalau saya baru-baru ini saja." Pria itu pun terdiam dan menikmati kembali pemandangan di depannya.


"Kakak, apa Kak Fasha ada telpon?"


"Iya, kemaren, dia bilang Bang Zam sudah sebulan ini tidak pulang ke rumah, dia tinggal di apartemen di luar kota, dia sedang mengawasi perusahaannya yang lain, mudahan saja dia akan berubah, dengan bekerja bisa, saja dia akan lebih baik, atau bahkan dapat wanita yang lebih baik lagi."


"Apa Kakak benar-benar tidak ingin kembali?"


"Ah, pertanyaan yang terus di ulang-ulang kau ini? sudah ah, aku mau jalan-jalan, hari ini aku tidak ke toko, apa kau mau ikut?"


"Ke mana?"


"Kemana kaki membawaku. hihi."


Mita pun berdiri, tapi Pria itu juga berdiri dan terlihat terburu-buru meninggalkan Balkon.


"Sui suit, Kak, Pria tadi terlihat aneh."


"Aneh kenapa?"


Aku beberapa kali meliriknya, sepertinya dia sedang menangis diam-diam."


"Bagaimana kau tau?"


"Beberapa kali aku liat dia menyeka air matanya yang jatuh di ujung matanya, dengan kain di pergelangan bajunya."


"Benarkah? mungkin dia lagi patah hati," Ujar mita.


"Seperti Bang Zam mungkin juga sering begitu Kak."


"Ah, kamu mulai lagi deh, ayo!"


Mita pun mempercepat jalan kakinya menuju kamar.


Ceklek.


Mita dan Zila pun masuk. Tiba-tiba Pria di Balkon tadi nyembul dari balik pintu sebelah Apartemen Mita.Ternyata mereka tinggal bersebelahan.


"Mita...mengapa kau lakukan ini padaku? baiklah, aku akan mendapatkan mu lagi, walau bagaimana pun caranya, Apa kau tau sesakit apa aku? sekejam ini kau perlakukan aku Mita, bahkan aku hampir tidak bisa bernafas saat kau tinggalkan? mengapa kau tega padaku, Baiklah, kau akan lihat, apa yang bisa aku lakukan padamu.

__ADS_1


Oh no... Pria itu adalah Izzam. Apakah Izzam akan balas dendam?


Mita dan Zila pun terlihat meninggalkan Apartemennya menuruni lift. Izzam pun mengikuti dari jarak yang sangat jauh. Izzam, sudah memasang CCTV dari jarak jauh yang mengarah ke kamar Mita, sehingga dia akan tau kalau Mita keluar melakukan aktivitasnya.


"Kita mau kemana Kak?"


"Ke pasar, kita beli bahan makanan, aku ingin membeli buah segar."


Mereka pun menunggu taksi di pinggir jalan depan gedung Apartemennya. Tak berapa lama mereka pun sudah terlihat menaiki taksi.


Sesampainya di pasar, mereka pun membeli beberapa jenis buah dan makanan ringan.


"Ayo kita bungkus lauk dulu buat makan malam, Kakak lagi malas masak."


Mereka pun menuju menuju sebuah warung makan sederhana yang ada di padar itu.


"Mereka pun mengantri dan duduk di salah satu meja makan tersebut.


"Hey, kalian kan yang di Apartemen Z? apa kalian akan makan disini?"


"Tidak tuan, kami hanya membungkus saja." Terlihat pria itu pin memesan makanan dan membungkus. Pria itu mendekat.


"Boleh aku duduk disini?"


Tanpa menunggu jawaban Izzam pun duduk.


"Iya, terimakasih." Jawab Mita singkat.


"Apa kau tidak mau berkenalan denganku?"


"Maaf tuan, aku merasa tidak enak, mungkin saja ada istri atau keluarga Tuan yang liat."


"Ha ha ha, aku tidak punya siapa-siapa, istriku pergi entah kemana, aku sekarang Free." Izzam menatap mata Mita tajam, seakan-akan dia ingin masuk kedalam hati Mita lewat, mata itu.


"Aku Mita, dan ini adikku Zila, oh ya, kami duluan, itu sudah selesai."


"Tunggu! kalian kan naik taksi, biar ikut aku saja, Apartemen kita kan bersebelahan."


"Terimakasih, kami naik taksi saja Tuan." Tolak Zila lembut.


"Mengapa kalian menolak, anggap saja kita keluarga karena sama-sama dari indonesia," ujar Izzam lagi.


"Bagaimana Kak?" Zila pun menatap Kakaknya.


"Baik lah Zila? kita hargai saja Tuan Emre."


Mereka pun menunggu Emre di depan teras Warung makan tersebut. Tak berapa lama.


"Ayo!" Emre pun menuju mobilnya sambil membawa 2 kresek makanan yang di pesannya. Mita dan Zila pun mengiringi di belakang, tampak dari depan Emre tersenyum, walau pun tak ada yang tau, di balik senyum itu ada luka yang menganga.

__ADS_1


"Ka, aku sangat ingin pulang ke indonesia, sebentar lagi Zila liburan lho! apa kita pulang saja ya?"


"Aku takut Zila, kalau tanpa sengaja bertemu Bang Zam"


"Mengapa harus takut?"


"Sudah ku bilang aku tidak berani menghadapi semua resiko yang mungkin saja terjadi, bagaimana kalau Bang Zam ngamuk, atau mungkin jantungan dan lain-lain."


"Kita hadapi saja dulu Kak?"


"Maaf, kalau boleh tau, kalian mahasiswa atau TKW ya?" Emre/Izzam basa-basi.


Mita menyikut adiknya, agar Zila yang menjawab pertanyaan Emre.


"Saya masih sekolah, kalau di indonesia sih masih kelas 2 SMA Tuan, kalau Kakak, dia hanya wira usaha kecil-kecilan, dan hanya menemani saya disini."


"Trus untuk biaya hidup kalian? apakah dari penghasilan butik Kakak mu?" Emre sangat penasaran, karena setelah Mita di nyatakan meninggal, Izzam bahkan lupa untuk kasih biaya hidup pada Zila, seperti yang di ketahui, otak Izzam berhenti berfungsi selama bertahun-tahun.


"Oh, itu, ada Kakak saya dari Indonesia yang bekerja Tuan."


Tak sengaja Mita menatap mata Pria itu lewat, kaca mobil.


Deg. Emre pun menatap Mata Mita, sesaat meraka saling menatap, namun Mita tanpa sadar terpesona oleh mata itu.


"Bang Zam." Lirihnya


"Apa Kak?"


"Oh, tidak, tidak, aku...aku ah, sudahlah."


Mita pun menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Sementata Izzam tersenyum penuh kemenangan.


Mungkin sebentar lagi kau akan bertekuk lutut padaku.


Gumamnya.


Sepanjang lerjalanan pulang, Mita tampak tak karuan, entah mengapa tatapan Tuan Emre begitu terbayang-bayang di matanya.


Mengapa mata itu sama dengan tatapan Bang Zam, hatiku pun berdesir saat menatapnya, bahkan aku tak kuasa memalingkan pandanganku dari nya, Bang Zam, apakah kau masih merindukanku?


Gumamnya lagi. Sedang Zila sudah terlihat tertidur pulas.


Mita, aku akan membalas semua yang pernah kau lakukan padaku, betapa tersiksa nya aku saat kau tinggalkan ku,dulu.


Nah lho, benarkah Izzam mampu melakukan itu pada wanita yang di cintai nya dulu?


Sesampainya di muka gedung, Emre pun terdiam, dia hanya menunggu tanpa membangunkan Mita dan Zila, ternyata Mita lun tertidur entah kapan. Emre menatap Wajah Mita berulang-ulang lewat kaca depan. Kadang hatinya tak karuan.Perasaan yang membuncah ingin rasanya memeluk wanitanya itu, namun di sisi lain dia juga sakit hati atas perlakuan istrinya itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2