
Di kediaman Lili.
"Mi, kalau begitu kita harus mengatur siasat, kita harus merebut perusahaan Papah, sebelum wanita jala** itu menguasai harta Papah."
"Benar Li, kita harus mengambil lerusahaan inti."
"Ayo Mi! kita siap-siap, bagaimana rencana kita.
Sementara Lili dan Tami mengatur siasat, Sementara keluarga Mita sangat bahagia.
KASTEL.
Zila dan Hanan, Fasha dan Raina pun sudah resmi menikah. Mereka tetap tinggal di Kastel Mita, karena ingin slalu membahagiakan Kakaknya yang saat ini masih terus bersedih.
Semakin hari tubuh Mita semakin kurus, sampai-sampai air susunya pun kering. Wajahnya pucat. Tak sedikit pun Zila meninggalkan Kakaknya.
Di sore hari di teras rumah.
"Babang, senin depan aku wisuda santri di Tarim, tapi mungkin aku tidak bisa ikut. Kasian Kak Mita kalau di tinggal." Zila tampak merebahkan kepalanya di bahu Hanan.
"Baik kau tanyakan dulu sayang, sama Kak Mita."
Pasangan ini slalu mesra kalau lagi di belakang Mita, tapi mereka akan menjaga jarak kalau lagi berhadapan dengan Mita. Untuk menjaga perasaan Kakaknya yang masih bersedih. Perusahaan pun kembali Fasha yang handle.
"Babang, maaf, aku belum siap." Ucap Zila sambil menatap wajah Tampan suaminya.
"Belum siap apa?" Hanan pun jadi bingung, masa ngomong izin ke Tarim aja belum siap?.
"Belum siap MP sama Babang, hihi."
"Ooh, kapan siap? udah hampir satu bulan nih," Hanan menatap wajah istrinya intens dan tersenyum sangat manis.
"Katanya Babang setia nunggu?" Zila terkesiap menatap wajah tampan suaminya itu.
"Iya, tapi jangan kelamaan juga kale, hemm." Hanan pun memeluk erat tubuh mungil istrinya gemes.
"Non Zila, Nyonya besar memanggil Non." Aunte tiba-tiba saja nongol di balik pintu. Zila cepat-cepat menggeliat-geliat,maksud ingin melepas pelukan Hanan. namun Hanan malah mengeratkan pelukannya.
"Baik Aunte...." Ucap Hanan
"Babang ngapain sih, kok malah makin erat meluknya."
"Biarin, udah halal juga kok." Hanan dan Zila pun masuk ke dalam ruang keluarga untuk menemui Mita.
"Ada apa Kak?" Zia pun duduk di samping kakaknya yang berbaring.
"Aku kurang sehat, akhir-akhir ini aku merasa sesak dan tidak bisa bernafas. Aku takut terjadi sesuatu." Ucap Mita.
"Apa kita ke Rumah sakit saja?" Ucap Hanan.
"Tidak usah, aku ingin menitipkan Ezra pada kalian, kalau terjadi sesuatu padaku tolong jaga anakku Zil, aku sangat takut, kalau akhirnya aku tidak bisa menemaninya sampai akhir."
Mita terlihat meneteskan air mata.
"Kakak, jangan ngomong gitu dong. Kakak harus kuat, kita juga belum tau apa di mana sebenarnya Kak Zam, Babang Hanan dan mertua Zila sedang menyelidikinya kok Kak, berdasarkan CCTV, Di sana terlihat seperti orang,kantor kok, atau mungkin orang kepercayaan Kak Zam, mudahan saja ini bukan ulah Tante Tami." Ucap Zila.
"Iya itu Zil, aku takut, kalau yang mencelakai Bang Zam adalah Tami."
"Nyonya ada tamu, sepertinya Notaris Nyonya." Aunte yang datang memberi tahukan kedatangan tamu.
"Biar Ayana yang temenin Dede Mi!" Ayana sangat senang, dia bahkan tidak merasa kehilangan ayahnya, dia terlihat slalu ceria.
"Notaris? ada apa ya? Ayo Kak, Zila bantu." Zila pun membangunkan Kakaknya.
Tap
__ADS_1
Tap
Tap
Dengan pelan dan gontai Mereka pun sampai ke ruang tamu.
"Nyonya Mahendra?" Bapak itu menatap Mita.
"Iya Pak, Bapak siapa?"
"Begini, saya hanya menyampaikan pesan, kalau sampai Bapak Izzam meninggal, atau tidak ada kabar selama 2 minggu, maka saya harus memberitahukan masalah harta warisan keluarga Mahendra."
"Ooh, jadi bagaimana?"
"Hari sebelum kecelakaan itu, Beliau sudah membuat surat-surat penting mengenai perusahaan inti, perusahaan cabang, juga Hotel beliau yang ada di luar kota." Ucap Notaris itu.
"Dan semua perusahaan itu jatuh kepada anak Nyonya dan Tuan Izzam, yang bernama Ezra Mahendra." Ucapnya lagi.
"Oooh, hik hik hik." Mita pun kembali menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, badannya bergetar menahan isakan tangis yang sangat dahsyat.
"Kakak," Zila pun ikut menangis.
"Ini semua berkas-berkasnya, tolong Nyonya tanda tangani bahwa semuanya sudah di terima dengan baik."
"......" Mita pun tak mampu berkata apa-apa lagi.
Dia pun membaca semua berkas di bantu Zila. dan Hanan, dan semuanya benar, Mita pun membubuhkan tanda tangan di atasnya.
"Kalau begitu, saya mohon pamit Nyonya."
Hanan pun mengantar Pak Notaris keluar.
Tap
Tap
Tap
"Selamat Kak ipar. Ezra mewarisi semua harta Keluarga Mahendra."
"Bagaimana dengan Ayana dan Lili?" Ucap Zila."
"Oh iya, kenapa Ayana juga Lili tidak ada," Ucap Hanan lagi bingung.
"Itu...kalau Lili Dia bukan anak Bang Zam, itu kata Bang Zam. Kalau Ayana, tidak tau, mungkin Bang Zam yakin kalau Ezra kelak jadi anak yang baik, dan bertanggung jawab, kan ad Onty Zila yang bekal menggedok pengetahuan Ezra kelak tentang hal ahli waris." Ucap Mita.
"Kak, maaf, aku mau pulang ke rumah dulu, ada yang perlu ku urus, Papah mempercayakan perusahaan padaku, dia ingin aku belajar, lagian aku juga pewaris tunggal hihi." Hanan sambil tersenyum dan menatap istrinya genit.
Hanan pun pergi, Zila mengantar sampai pintu depan.
"Sayang, malam ini ya, siap nggak?" Hanan menaikkan kedua alisnya dan tersenyum aneh.
"Malu ah, sudah sana."
"Emch." Babang Hanan pun sedikit menunduk dan mengecup kening istrinya.
Zila masih menatap mobil Hanan sampai manghilang di luar pagar beton.
Zila pun kembali masuk ke dalam.
*
*
*
__ADS_1
"Hei Wanita jal**g, keterlaluan kau, mana dia?" tami dan Lili tampak mengamuk di depan rumah, dan di halangi masuk oleh paman satpam.
"Ada apa Zil? kok ada orang teriak-teriak?"
"Tau Kak, kakak diam,aja,ya, biarZila yang keluar." Zila pun berjalan keluar dan melihat Tami dan Lili yang sedang ngamuk karwena di larang masuk.
"Kemana Mita wanita Jala** itu heh, hei kau juga, dasar wanita mura***n." Tami juga menghina Zila, yang baru datang, Zila hanya terpaku.
"Maaf, Nyonya ada apa marah-marah?"
"Sok baik, sini Kakakmu mana? wanita ra*us. se enaknya pengen menguasai harta yang sudah lama kami bangun bersama."
"Maaf, maksud anda apa?"
"Wasiat warisan, Kakakmu kan sengaja membuat wasiat seperti itu! bahkan Lili dan Ayana tidak dapat apa-apa."
"Ada apa Zil?" Tiba-tiba Mita datang.
"Hey, kau, wanita jal**g, serakah."
"Paman biarkan mereka masuk."
"Kak, tapi, bagaimana kalau mereka ngamuk?"
"Kita liat saja."
"Kau menguras habis harta Mas Izzam, jangan-jangan kau sengaja ya mencelakai Mas Zam."
Plak plak plak
"Kakak." Zila terkesima melihat reaksi kakaknya yang tiba-tiba menampar Tami keras. Biasanya dia hanya mengalah.
"Kau, eeeeeh." Tami pun berusaha menjambak kerudung Mita, namun Zila menghalanginya, Aunte-Aunte pun berdatangan dan menghalangi bersamaan, hingga Tami terpaksa mundur.
"Kurang ajar, Kau rampas semua harta dari Ayana dan Lili, kau serakah."
"Lili bukan anak Bang Zam." Ucap Mita dengan tatapan kosong.
Deg
Tami kaget. Rupanya Mita sudah tau rahasia itu.
"Ayana, bagaimana dengan Ayana?"
"Dia tanggung jawab Ezra, kelak dia akan menjaga Kakaknya dengan baik, karena dia laki-laki." Mita pun masuk ke dalam tanpa memperdulikan Tami yang terus berteriak.
Tami dan Lili pun terpaksa pergi meninggalkan Kastel Izzam dengan memesan taksi
Sepanjang jalan mereka terus ngomel tak karuan. tak di sangka.
"Nicol? Mamah, itu Nicol mamah, paman berhenti!" Lili histeris ketika melihat Nicol kekasihnya lewat berpapasan dengan mobilnya.
"Paman tolong berputar, ikuti mobil itu." Paman taksi pun kembali berputar.
Sementara Hanan tampak melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Mengapa hatiku tidak tenang ya, terasa ada yang mengganjal?
Hanan baru menyadari, kalau ada taksi yang mengikutinya.
"Oh siapa mereka. mengapa mereka mengikutiku?"
BERSAMBUNG....
*SELAMAT HARi RAYA IDUL FITRI 1443, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN*
__ADS_1