Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Zila masih memandangi angka2 di surat tersebut, dan terus membaca walau pun tidak paham.


dan...


"Alhamdulillah....Hap." Zila memeluk Hanan erat.


"Apaan sih?" Hanan pun merebut kertas tersebut dan langsung membaca hasil paling bawah.


"Soraya, berbalik." Teriak Hanan, Soraya bengong


Hap


"Emmmmmch.........." Hanan mencuri bi-bir Zila lama dan membuat Zila tidak bisa bernafas.


Soraya yang bingung pun melihat adegan itu.


"Mas Hanan ah." Soraya pun keluar dari dapur dengan wajah aneh. Sedang Kedua mertuanya hanya bisa diam dan menautkan tangan mereka mesra.Sambil tersenyum.


Dret dret dret.


HP Papah Hanan berbunyi.


"Bentar mah, aku keluar dulu." Papahnya pun pamit dan menerima telpon di halaman teras.


'Iyaaa, tunggu malam ini ya, aku akan ke sana!"


Papah Hanan pun menutup telpon. Soraya yang berbaring di sofa pun mendengar pembicaraan papahnya.


"Papah bicara sama siapa ya? kok terdengar lemah lembut gitu dan berbisik gitu?" Gumam soraya.


Papahnya yang tidak menyadari ada Soraya pun kembali ke dapur.


"Mah, malam ini ada rapat dadakan, aku akan pulang terlambat ya? mau siap siap dulu."


"Iya pah, biar aku siapkan," Mamah Hanan pun ke kamar membuntuti suaminya dan menyiapkan baju yang paling harum.


"Mamah tidur duluan aja ya! Hanan sama Zila juga tidur di sini saja , siapa tau aku tidak pulang malam ini." Ucap Papah Hanan.


"Baik Pah."


Mamah Hanan pun mengantar sampai pintu rumah.


...


"Hanan, kalian tidur di sini saja ya? Papah ada lembur malam ini." Pinta Mamah pada Hanan dan Zila.


"Lembur? kok aku nggak tau ya? padahal semua klien udah aku handle kemaren." Ucap Hanan heran.


"Mungkin ada laporan klien baru Nan, biasa papahmu suka dadakan." Ucap mamah lagi.


"Papah lembur?" Soraya yang baru datang juga bertanya heran.


"Kalian ada apa sih? apa kalian mencurigai papah," Tanya Mamah.


"Nggak Mah. bukan begitu maksudnya, ayo Bang kita ke kamar!" Zila merasa tidak enak mendengar pertanyaan mertuanya pada Hanan dan Soraya.


"Kale aja mah, kita kan nggak tau, jangan terlalu naif maaah." Ucap Soraya lagi.


ciiit


"Auuu, kakak."


Zila yang lewat di samping Soraya pun mencubit adik iparnya, dia tidak ingin mertuanya kepikiran yang nggak nggak.


#1ekin senggol, hihi." Ucap Zila.


"Kesenggol?....Au..kakak apaan sih,"


Kali ini Hanan yang mencubit.


"Pasangan aneh." Soraya pun mengerucutkan kedua bibirnya.


"Sudah ah, mamah mau istirahat."


Mereka pun pergi ke kamar masing masing.


Zila dan Hanan tidur di ruang tamu.


Ceklek.


Hap

__ADS_1


Baru juga buka pintu, Hanan langsung memeluk tubuh istrinya


Bruk


Menutup pintu pakai kaki, dan menggendong Zila membawanya ke kasur.


"Sayang, kamu senang nggak? ternyata Qiara bukan anakku kan?" Hanan sangat bersemangat dan ceria setelah tau dia bukan ayah Qiara.


"Iya Bang, eh tapi kalau bukan Babang, trus siapa yang menghamili Lili?"


"Mana ku tau? besok kita ke rumah kak Mita, biar kita sidang dia. Aku juga curiga, jangan jangan malam itu aku nggak ngapa ngapain, kan aku mabuk berat, mana sempat begituan?" Tambah Hanan.


"Hi? begituan? begituan yang bagaimana Bang?"


Zila malah menggoda Hanan dan pura pura tidak mengerti. Menatap wajah suaminya dengan wajah polosnya.


"Oooh, kamu tidak paham heh? sini biar praktek langsung."


"Au...au ...au... Babang, geli tau ih.Bang!"


Hanan pun menggelitik pinggang Zila dan menarik kerudung Zila, membuka resleting jubah syar'i nya.


"Kamu mulai nakal ya? pura pura tidak paham heh, emang kamu sepolos itu?"


Hanan terus bermain memeluk istrinya. Zila meronta melepaskan diri, mereka sangat asyik bercanda sangat bahagia.


"Babang, udah ah, geli, aduuuh, sakit." Tiba tiba Zila memegangi perutnya.


"Ada apa sayang? yang mana yang sakit? sayang."


Hanan berhenti menggelitik istrinya dan bangun langsung memeriksa Zila.


"Babang sih, gelitik terus, perut Zila sakit ketawa tau." Ucap Zila dengan wajah cemberut.


"Ma'aaaaaf, Kamu sih pura pura nggak ngerti. Emch, ayo kita sholat isya dulu, setelah ini kita praktek yang begituan ya? hihi." Hanan pun membantu istrinya bangun.


"Auuuuu.. Babang, perutku sakiiit, terasa ditusuk gitu." Zila tiba tiba meringis dan memegangi perutnya.


"Ada apa lagi? sakit yang gimana?" Hanan jadi panik sendiri.


"Sakit Bang, aduuuh."


"Kita ke dokter." Hanan pun mengambil kerudung dan cadar Zila lalu memasangkannya. Dia menggendong Zila ke luar.


"Ada Apa Nan?"


Ceklek


Mamah membuka pintu.


"Zila mah, ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Hanan terus berjalan keluar rumah.


"Lho, ada apa dengan Zila? tunggu!" Mamah pun jadi panik dan segera kembali ke kamar mengambil tas.


"Soraya....Bibi...."


Ceklek


"Ada apa Nya?"


"Kami akan ke Rumah sakit, tolong jaga rumah dan Soraya ya?" pinta mamah Hanan.


"Iya Nya."


Mereka pun meluncur menuju Rumah sakit.


Dret dret dret


HP Papah Hanan bergetar.


"Mas, ada telpon." Seorang wanita muda berusia sekitar 25 tahun sedang nempel di atas dada bidang Papah Hanan.


"Biarin sayang, paling klien atau rekan Bisnis." Jawabnya, dan mengeratkan pelukannya.


"Mas...sampai kapan kita sembunyi sembunyi kayak gini? Aku juga pengen punya kehidupan masa depan Mas." Ucap wanita itu.


"Sayang, tidak mungkin aku mengenalkanmu pada keluarga, yang penting kita sudah nikah sirri, dan halal." Ucap papah Hanan.


...


...

__ADS_1


...


"Bang, kayak ada yang keluar ini, bagaimana Bang?" Hanan merasa ad cairan keluar dalam bawahnya.


"Kenapa tiba tiba gini Nak, tadi baik baik saja." Ucap mamah Hanan terlihat sangat khawatir.


"Tadi kami bercanda Mah, dan aku sedang gelitikin Zila, tiba tiba dia kesakitan."


"Dasar kau Nan, kau tidak hati hati, mungkin karena tertawa lalu perut Zila tertekan, makanya sakit."


"Mah, sakit, ada apa ini mah?" Zils terus memegangi perutnya.


"Sayang, tahan dulu ya?" Mamah Hanan bingung harus ngapain.


"Mah, bagaimana mah, aku takut." Ucap Hanan juga.


"Mau siiih, sembrono. kita,periksa duku baru tau."


Tak berapa lama, mereka sampai di UGD Rumah sakit.


Hap


Hanan menggendong Zila.


"Lho sayang, basah, apa ini?"


"Mamah Hanan pun segera mengikuti di belakang.


"Sus tolong istri saya!"


"Letakkin di sini!" Seorang perawat langsung menyambut mereka.


Ketika Hanan sudah meletakkan Zila, dan menatap tangannya, dia terkejut, ada darah.


"Darah?" ucap Hanan replek.


"Ha? darah?" ulang Zila juga terkejut.


"Astagfirullah, Sayang, masih sakit?" Hanan benar benar panik kali ini.


"Iya Bang."


Zila pun di pasangi infus dan di beri obat penahan rasa sakit. tentu saja Hanan sudah bilang kalau Zila sedang Hamil.


"Maafin Babang," Hanan pun duduk di bawah dan mensejajari kepala Zila. Dia Ciumi kepala istrinya merasa sangat bersalah.


"Bang, bagaimana kalau aku ke guguran?" Tanya Zila sedih.


"Jangan ngomong gitu ah," kali ini Hanan mulai mengeluarkan air matanya. Zila apa lagi, udah mulai terisak.Mamah Hanan pun akhirnya menangis dan keluar.


"Papah ke mana sih, kok nggak di angkat?." Mamah Hanan menggumam terus menelpon suaminya.Namun tak kunjung di angkat. akhirnya dia menelpon Mita.


Dret dret dret.


"Sayang, ada telpon tuh?" Ucap Izzam kemudian melerai pelukan dari istrinya.


"Siapa malam malam begini iseng banget deh?" Ucap Mita lagi.


Tap tap tap


"Mamah Hanan?" Gumamnya.


'Hello, Tante? Assalamualaikum.'


'Wa alaikum salam. Mita, Zila masuk rumah sakit, sekarang kami ada di Rumah sakit...."


"Ada apa? kok mendadak, kemaren baik baik saja," Mita pun panik, sambil berbicara dia pun menggoyang tubuh Izzam.


"Ayo ke rumah sakit." Ucap Mita pada Izzam di sela telponannya.


"Ada apa?"


"Ayo!"


'Baik Tante, kami ke sana!'


Telpon pun di tutup


"Zila pendarahan Bang, ayo!"


Mita bergegas memasang baju dan perlengkapan lainnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Like like komen.🥰


__ADS_2