
Hanan pun dengan berani memeluk istrinya erat dan membawanya berbaring ke ranjang king size, yang sudah di taburi bunga-bungaan oleh mamahnya Hanan. Tentu atas permintaan Hanan.
"Bang, masih siang." Ucap Zila malu malu.
"Biarin. aku kebelet, nggak mau lagi gagal."
Hanan pun melepas semua pakaiannya, dan menarik cadar juga kerudung istrinya. Dan melemparnya ke sembarang arah.
Perlahan namun pasti, Hanan pun memulai aksinya berlayar bersama Zila sang pujaan hati. Zila yangmasih malu malu karena baru oertama kaki tampak sibuk menutupi bagian bagian tertentu.
"Sayang, kapan selesainya." Bisik Hanan di telinga Zila.
Hap
"Au, Babang." Hanan menggigit telinga Zila hingga Zila meringis kesakitan. Hanan sangat greget sama Zila yang sibuk mengelak ngelak.
"Kamu yang diem ah." Ucap Hanan lagi kesal.
"Takut Bang," Rengek Zila kayak anak kecil.
"Nggak kok, asal kamu diem, kalau begini malah nanti terkoyak." Ancam Hanan lagi.
"Hah? kok bisa? emang Babang udah sering ya?" Tanya Zila spontan.
"Ah kamu ini, malah nanya macam macam, ayo diem." Hanan membelai pipi istri cantiknya lembut, membiarkan Zila rileks dan santai.
π₯
π₯
π₯
π±
Nampak Zila memeluk tubuh Babang Hanan erat di bawah selimut tebal, mereka baru saja berlayar mengharungi bahtera ke liling dunia, sampai mengeluarkan keringat karena kehausan.π.
"Mau lagi?" Tanya Babang Hanan sambil membelai pipi istri mungilnya itu.
"Sakit Baaang," Jawabnya pelan dan memanja di pelukan suami gantengnya itu.
"Tapi suka kaaaan heh heh?" Hanan menaik turunkan alisnya genit.
"Ih malu ah." Zila pun memasukkan kepalanya ke dalam selimut.
"Aaaaaa." Zila malah berguling menjauh dari tubuh Hanan.
"Hah, ada apa?" Hanan malah bingung dengan tindakan istrinya.
"Nggak, nggak papa." Zila pun kembali masuk ke dalam selimut suaminya dengan hanya mengeluarkan kepalanya saja.
Kira-kira Zila ngeliat apa ya? kok teriak?π.
Mereka kan sama-sama tidak berpakaian karena baru olah raga siang.
Ternyata melakukan dalam keadaan sadar itu sungguh mengenakkan
Bathin Hanan.
Auuu, apa Hanan pernah melakukannya sebelumnya?
"Sayang pengen punya anak berapa?" Tanya Hanan sambil membelai rambut Zila.
"Sembarang aja Bang, kalau di beri berapa juga Zila senang." Sahut Zila
"Berarti nggak KB doong." ucap Hanan.
"Pengennya sih gitu, pakai KB alami aja." Jawabnya.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
"Kakak! di panggil Mamah, ayo makan siang."
"Hah? Bang," Zila pun panik dan kembali menenggelamkan kepalnya ke dalam selimut.
"Aaaaaa." Zila malah berteriak sekali lagi.
"Ih apaan sih, hobby banget berteriak."
"Kakak, ada apa? Kak Hanan apain Kak ipar? buka dooong." Teriak Soraya adik Hanan.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi kami akan turun, kami lagi ganti baju, tunggu saja di bawah." Teriak Hanan.
"Baiklah," Suara adik Hanan pun tidak terdengar lagi.
"Ayo mandi!" Hanan mengajak Zila mandi bersama.
"Babang duluan saja, Zila nanti nyusul." Ucap Zila sambil mengeratkan selimut di tubuhnya.
Hanan pun menuju kamar mandi berjalan dantai tanpa memakai pakaiannya.
Ih jorok, mengapa dia nggak ngerasa malu ya?
Bathinnya.
"Kenapa memandangiku begitu? mau lagi?" Tiba tiba Hanan berbalik dan membuat Zila memalingkan mukanya karena malu sendiri.
"Babang ih, cepeten sana. Nanti Mama nungguin lama lho." Ucap Zila.
Hanan pun tersenyum dan berjalan kembali menuju kamar mandi.
Byur
Byur
Byur
x x x
Waaaah, ganteng sekali dia.
Bathin Zila yang menatap tajam ke arah Hanan. Dia sangat terpesona dengan suaminya itu, maklum Zila tidak pernah menatap wajah lelaki mana pun sebelumnya se intens itu.
"Ayo bangun!" Suara merdu Hanan membuyarkan lamunannya.
"I...iya bang, Babang duluan saja, aku akan menyusul." ucapnya gugup.
"Nggak, aku mau nunggu kamu, kita bareng oke?" Sahut Hanan sambil duduk di sisi ranjang, menatap wajah Zila yang nongol di balik selimut.
"Aku malu Bang, aku kan nggak pakai apa-apa nih, mana bajuku Bang?." Tanya Zila, dia sangat gugup.
"Mana aku tau? tadi asal lempar, mungkin udah ada di balkon tuh." Hanan pun tersenyum nakal.
"Bang, cepet duluan saja, sana, biar Aku cepet mandi." Ucap Zila lagi.
Hap
"Au, Babang." Zila kaget.
Saat Hanan pun menangkap tubuh mungil Zila beserta selimut dan membawanya ke kamar mandi, lalu meletakkannya di dalam. Zila tak mampu melawan karena kedua tangannya ada di dalam selimut.
"Cepet ya, aku tunggu." Hanan pun keluar.
Ceklek
Krek krek
Zila menutup pintu dan menguncinya. Zila melepaskan selimut yang ada di tubuhnya.
"Darah?" Hanan kaget ketika
Byur.....
Setelah beberapa saat
__ADS_1
Ceklek
"Bang, tolong handuk Zila dooong."
"Bentar."
Hanan pun membuka lemari, namun tak menemukan apa-apa.
"Dimana?"
"Di tas bongkar saja."
set set set
"Eh tunggu!"
"Ada apa?"
"Abang keluar kamar saja, biar aku cari sendiri." teriak Zila. Dia baru ingat kalau dalam tas paling atas itu peralatan segi tiga biru dan juga pelindung bukit meletusπ.
"Kenapa? aku mau kita bareng."
"Aku malu Bang." Zila berharap suaminya mau duluan.
Hanan tak perduli dia pun membuka tas Zila dan
aaaaa........ Dia terpana harus ngapain, ada banyak pakaian dalam Zila yang numpuk di lapisan pertama.
"Ah sudah halal, kalau aku pengen tinggal bilang saja," Dia pun mengambil 1 B-H 1Cd dan handuk Zila.
"Ini!" Hanan pun menyodorkan perlengkapan itu ke dalam.
"Aaaaaaa Babang." Teriak Zila yang merasa malu.
Bruk
Zila kembali berteriak sambil mengambil barangnya karena terkejut.
"Apaan sih? punya hobby baru ya, sebelumnya tak pernah seperti ini." Ucap Hanan heran, karena istrinya malah teriak nggak jelas.
"Babang siiiiiih, tu kan ketahuan semua perlengkapan Zila." Ucap Zila manjaaaah.
"Halal juga kali Zil, ngapain malu malu, kita itu ibarat sudah menyatu, nggak ada yang di tutup tutupin lagi tau." Ucap Hanan samnil senyum senyum sendiri.
Byur byur byur
Zila mengguyurkan Air ke tubuhnya dengan tergesak gesak.
"Sayang, itu mandi apa tsunami, kok bergoncang?" Goda Hanan
Tak ada sahutan.
"Sayang kamu tidur ya?" Tanya Hanan yang tidak mendengar suara Zila lagi.
Byur byur byur
Mungkin tadi Zila lagi sabunan.
Ceklek.
"Waaaah, wangiii." Hanan pun menutup matanya dan menghirup udara di depannya.
"Apaan sih Bang, ayo!" Zila hanya menggunakan gamis polos dan kerudung instan. tidak memakai cadar. karena di rumah itu tidak ada lelaki lain.
"Bang, aku malu, masak aku nggak bantuin mamah masak." Ucap Zila.
"Nggak papa lagi, kan masih baru, lagian ada Bibi yang masak, ngapain kamu ikut masak." Ucap Hanan.
"Tapi kan sebagai mantu yang baik itu harus bantu bantu Bang." ucapnya lagi
"Iya nanti nanti ah," Hanan pun menggandeng istrinya menuruni anak tangga.
BERSAMBUNG....
__ADS_1