
"Mah, tapi kalau Zila tau dari orang lain, dia pasti akan marah mah?" Hanan sangat khawatir akan hal itu.
"Mamah akan memberi tahunya, kalau sudah waktunya, tapi tidak sekarang Nan, sekarang kau pulanglah!" Mamah pun pergi menuju kamarnya. Sedang Hanan berdiri dan pergi meninggalkan rumah besar tersebut.
***
"Assalamualaikum." Hanan tiba di kastel.
"Wa alaikimsalam."Jawab Aunte.
"Tuan kemana saja? kok lama banget, non Zila dsri gadi muntah muntah terus sampai lemes." ucap salah satu Aunte.
"Hah? benarkah!?" Hanan pun nerlari menuju kamar Zila.
Ceklek
"Babang!" Panggil Zila saat pintu terbuka.
"Sayang, ada apa? kamu sakit?" Tanya Hanan khawatir.
"Nggak tau Bang, mual dan pusing, oh iya, testpaknya mana?" Tanya Zila yang melihat Suaminya hanya melenggabg kangkung tanpa membawa apa pun.
"Hah? astagaaaa." Ucap Hanan spontan.
"Bang, kok astaga, nggak baik, astagfirullah dong." Sahut Zila yabg mendengar suaminya keceplosan.
"Astagfirullah, ketinggalan di rumah mamah." Bohong Hanan, sekali berbohong slalu akan ada rentetan kebohongan lainnya.
"Lho kok di rumah mamah?" Zila jadi heran.
"Iya, tadi pas di jalan mamah telpon, minta di belikan sesuatu, jadi pulang dulu, bentar ya, aku beli lagi."
Padahal Hanan lupa, di mana dia melepas alat itu saat bertemu Sinta tadi, atau mungkin tercecer di jalan ya?
"Nggak usah Bang, besok aja, lagian jauh, kasian Babang ke capean, istirahat aja dulu " Ucap Zila.
Hanan pun mengangguk dan merebahkan tubuhnya di ranjang samping Zila. Hanan pun membenamkan kepalanya di pinggang Zila, karena posisi Zila setengah duduk dengan bantal yang di tinggikan.Tangan Hanan melingkar di pinggang Zila.
"Bang, bau, aku belum mandi lho!" Ucap Zila.
"Nggak ko Pearl, rasanya seperti bau bayi gitu aku suka, uuuuup huuuuuuuh." dia hirup dalam dalam lalu melepaskannya.
"Ih Banbang jorok ah." Namun Hanan tidak mau menjauh.
"Sayang, kita bulan madu yuk!?" Ucap Hanan mengajak Zila.
__ADS_1
"Ke mana? kamu kan lagi sibuk di perusahaan, sedang papah lagi ada masalah dengan perusahaan cabang." Zila tidak mau terlalu egois walau sebenarnya pengen.
"Bagaimana kalau ke Bali?" ucap Hanan.
"Bang, masa ke bali, nanti mata Babang malah jelalatan lagi liat banyak wanita seksi." Cicit Zila protes.
"Hihi, kamu lasti lebih seksi, apalagi pakai baju itu yang di berikan mamah, hahaha." Hanan tertawa menggoda Zila.
"Babang ih, jangan ungkit ungkit malu tau." Wajah Zila pun bersemu merah.
Tok tok tok
Tap tap tap
Ceklek
Hanan membuka pintu.
"Kak Mita." Sapa Hanan.
"Hanan? kapan datang? oh iya, gimana hasil tesnya?" Tanya Mita, karena Zila tadi bilang dia sedang membeli alat tes kehamilan.
"Belum di tes kak." Ucap Hanan.
"Kakak Ezra mana?" Zila basa basi untuk mengalihkan perhatian.
"Iya kaka."
"Kalau mau makan tuh ajak Hanan makan juga ya."
"Iya kaka."
Mita pun meninggalkan kamar Zila.
Krek krek krek
Hanan kembali mengunci pintu dan mendekati Zila. Dia kembali memeluk tubuh Istri mungilnya itu. Candu dengan aroma tubuh istrinya sendiri.
*
*
*
'Hello Nan, bukankah kau ingin bertemu Qiara? mamah akan menemanimu menemuinya ayo jemput mamah di rumah.' Suara telpon di ujung sana.
__ADS_1
'Mamah, ini Zila, Babang sedang mandi.'
'Oh, baiklah, kalau dia selesai, tolong hubungi mamah ya?' Ucal mamahnya lagi.
'Baik mah'
tuut
Qiara? siapa dia?
Ceklek
"Bababg, tadi mamah telpon, katanya tolong hubungi balik." Zila menyampaikan pesan dari mamah Hanan.
"Oh baiklah."
Hap
'Helo Mah, ada apa?'
'Bukankah kau ingin bertemu Qiara? ayo aku akan menemanimu.'
'Tunggu mah, kurang jelas sebentar.'
Ceklek
Hanan pun keluar dan menuju teras rumah.
Kurang jelas apanya? tadi kok baik baik saja? siapa Qiara?
Zila bertanya tanya dalam hati
Zila pun sangat penasaran sedang membicarakan apa mereka.
Tap
Tap
Tap
Zila pun keluar untuk mendengar pembicaraan suaminya, maksudnya mau mendengar berhadapan bukan mengintip. Namun...
'Mah, aku takut Zila mengetahui ini!"
Deg
__ADS_1
BERSAMBUNG....