Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Awal Mula Part 2


__ADS_3

Terimakasih yang sudah like komen dan juga yang cuma baca, tanpa kalian apalah diri nan dhoif ini, aku sangat terharu, terimakasih yg udah kritik juga. Untuk perbaikan ke kedepannya, Hubbukum katsiran syukron, jazakumullahu khoiran. aamiin.


🌷🌷🌷


"Mah, Pah, aku ingin memperistri Tami."


"Tami?" Ibunya angkat suara.


"Ini Tami mah, kami sudah kenal sejak sebulan lalu."


"Sebulan? lalu siapa ayah dari bayinya?" Ayahnya pun terlihat kaget. Izzam pun menceritakan kisah Tami yang sejujurnya.


"Izzam, kau itu perjaka, mana boleh menikahi wanita sudah bersuami, mau di taruh dimana muka Mamah, apa lagi dia sedang hamil Zaaaaam." Mamahnya tampak tidak terima.


"Mah, aku mencintainya, tolong lah Mah." Ayahnya memalingkan muka dan berdiri meninggalkan mereka. Mamahnya pun mengikuti dari belakang.


"Ayo kita ke Apartemen saja, kita harus sabar." Izzam dan Tami pun pergi. Sejak saat itu mereka tak pernah pulang lagi, sampai Tami melahirkan anak perempuannya yang di namai Lili. Izzam memiliki perusahaan kecil yang di berikan ayahnya, sedang ayahnya mengelola perusahaan besar.


Tami pun belajar untuk bekerja di kantor suaminya, hingga perusahaan suaminya bertambah maju pesat, dia bertekat dalam hati harus sukses dan berubah, hingga dia kadang lupa waktu.


Tepat pernikahannya yang ke 8 Tahun Tami pun hamil, anak yang tidak di inginkan nya, karena sekarang dia menjadi wanita Sosialita, bahkan dia tidak perduli dengan pergaulan suaminya yang bebas meneguk alkohol. walau tidak pergaulan Bebas.


Mansion Mahendra,


Sepulang dari kantor Izzam pun mampir ke rumah orang tuanya.


"Izzam, aku dengar perusahaanmu maju pesat berkat istrimu yang bisa melobi para investor, apa benar?" Ibu Izzam bertanya seriis.


"Iya Mah, Dia bekerja keras untuk membantu saya."


"Sekarang bukankah dia lagi hamil? apa tidak sebaiknya kalian tinggal di sini saja?" Tanya ibunya lagi.


"Apakah kalian mengizinkan?" Ujar Izzam.


"Kami tidak punya pilihan Zam, kau tetap pada pendirian mu, dan sekarang sudah 8 tahun, waktu yang cukup lama, kau juga adalah pewaris satu-satunya, anak yang di kandungnya juga adalah pewaris keluarga kita Zam."


Ucap ibunya membujuk.


"Baiklah Mah, aku akan bicarakan dulu dengan Tami."


Izzam pun terlihat meninggalkan kediaman Mahendra. Sesampainya di rumah besar yang telah di bangunnya dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia pun langsung ke kamar Tami.


"Tami, Mamah menyuruh kita untuk diam di rumahmu, bagaimana menurutmu."

__ADS_1


"Mas aku tidak mau, aku tidak mau di kekang, kita di sini saja."


Tami sudah berubah, bahkan dia mulai membangkang, sering tidak sejalan dengan pemikiran Izzam.


"Baiklah kalau begitu, terserah kau saja."


Mereka pun memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri sampai Tami pun melahirkan.


Sampai suatu hari ketika Ayana anak lertama Izzam nerusia 2 tahun.


"Mas, apa kita titipkan saja anak ini di penitipan, aku repot mas,"


"Apa maksudmu? kan ada Bibi yang mengurus,"


Ucap Izzam.


"Kalau aku pulang, dia slalu nempel kayak prangko denganku, aku mau istirahat Mas."


"Gila loe ya, kalau Mamah tau pasti loe bekal di tendang dari perusahaanku." Jawab Izzam kesal.


"Asal Mas tau, perusahaan itu juga berkat usahaku, semua investor itu semua atas usahaku." Jawab Tami lagi.


"Terserah kau, tapi aku,tak akan membiarkan Ayana di titipkan di penitipan, aku mau dia di rumah ini titik, aku akan mencari Baby sitter terbaik untuk mengasuh Ayana.


Sejak saat itu Ayana dan Izzam pun 100 % pindah ke kamar atas, saat dia pulang bekerja dia akan langsung membawa Ayana ke atas, saat dia keluyuran malam-malam, maka Bibi pengasuh yang mengurusnya, sampai Ayana berusia 6 tahun Bibi kesayangannya meninggal dunia. Ayana sangat sedih, dia juga jarang bertemu Neneknya sampai Nenek dan kakeknya juga meninggal. Keseharian Izzam hanya mabuk-mabukkan. Suatu hari.


" Pah aku pergi dulu ya, aku harus mengerjakan banyak tugas, aku akan kerumah anggle, aku akan di antar Nichol." Lili pun pergi dengan membawa berapa lembar baju dan juga tugas sekolah.


"Hati-hati," Izzam pun sambil menatap lelaki yang ada di mobil, walau tidak begitu kelas, mungkin dia adalah pacar Lili.


Gumam hati Izzam.


Itulah kali pertama Izzam bertemu dengan Nichol.


Dan suatu hari nanti dia akan bertemu lagi dengan Nichol, di saat waktu yang berbeda, waktu yang sungguh tidak berpihak pada mereka.😁.


#Falshback End#


"Mah, Mamah, Maaaaah" Lili memanggil Mamahnya berulang-ulang, namun Mamahnya tak merespon.


"Aneh banget deh, udah ah mau beres2 dulu." Lili pun masuk ke dalam dan siap-siap melakukam rutinitasnya, Clubing, karsna kebetulan jari ini malam minggu.


"Li, kamu harus dengarkan Pa...pah....? Hey, Lili, Mamah lagi ngomong kamu kemana sih?"

__ADS_1


Ternyata Tami tak menyadari kalau Lili sudah tidak ada di sampingnya.


"Ish, anak ini," Tami pun masuk ke dalam kamarnya.


"Mah, aku pergi dulu!" Lili berteriak ketika melewati kamar Mamahnya. Sekarang Lili Mamah, Ayana dan juga Qiara beserta Bibi kembali tinggal di rumah lama Izzam. Setelah Lili bercerai dari Ahyar.


"Mau kemana sih Li?" Mamahnya terdengar berteriak dari dalam. Namun Suara Lili tidak terdengar, hanya suara mobil di hidupkan.


Club Z 22.00


"Helo sayang, kau sudah datang?" Tampak sosok lelaki Tampan dan mempesona mendekati Lili.


"Mas Ben! Ayo minum!" Mereka pun memesan minum dan menikmati suasana malam minggu yang padat. Lili dan Ben pun terlihat sudah mulai sempoyongan, mereka menari tak beraturan.


"Sayaaaang, ayo minum lagi." Lili mengalungkan tangannya di leher Ben, Ben yang juga mabuk namun tidak terlalu parah mengajak Lili pergi dari Club itu.Mereka di antar Sopir menuju sebuah Hotel. Mungkinkah Ben bermaksud jahat pada Lili?


Mereka pun sampai di Hotel Sam Grop atau Hotel Ayah Ben.


Lili di bantu Ben menaiki lantai 7.


Sesampainya di kamar, Lili pun di tidurkan di ranjang.


"Terimakasih,"


"Iya Om," Ben pun pergi meninggalkan Lili dan seorang lelaki Tua di dalam kamar hotel.


"Lili, kau persis seperti ibumu, cantik." Gumam lelaki tua itu. Malam semakin larut. Pagi lun menjelang. Lili masih terlihat terlelap, sementara di meja sudah tersedia sarapan untuk Lili yang di sediakan pegawai Hotel.


"Om, apa Lili sudah bangun?" Ben lin datang kembali untuk menjenguk Lili.


"Belum, biarkan saja dia tidur, sampai dia terbangun sendiri." Ucap lelaki Tua itu.


"Baik Om Indra." Indra yang di panggil Ben pun pergi meninggalkan hotel dengan menaiki mobil mewah, sementara Ben menaiki lift untuk menemui Lili.


Ceklek


Ben memasuki kamar Lili dan duduk di depan sofa di kamar itu.


"Huaaaah, Beeeen." Lili tampaknya sudah terbangun dan menyadari kalau tadi malam dia bersama Ben. Lili menggeliat dan duduk di ranjang king Size.


"Kau sudah bangun?" Ben pun mendekati Lili.


"Di mana kita? aduh, kepalaku pusing." Lili pun bangun dengan sempoyongan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Ben tersenyum melihat wanita kurus mungil itu berjalan kayak wayang. Melayang-layang.


BERSAMBUNG....


__ADS_2