
Izzam sangat penasaran melihat senyum dr. cantik itu.
"Bagaimana Dok? apakah dia hamil?" Izzam pun memicingkan matanya menatap layar monitor.
"Selamat, jadi calon Ibu dan Bapak sudah berusia 8 minggu." Ucap Dokter itu.
"Ha, Benarkah, alhamdulillah." puji syukur Izzam pada sang Penguasa. Sementara Mita hanya diam dan merasa sangat senang, tak hentinya dia panjatkan syukur dan tahmid dalam hatinya.
dr. Boleh aku tau pengunjung yang hamil ada berapa?" Tanya Izzam, membuat Dokter cantik itu bingung.
"Maksudnya hari ini?"
"Iya Dok, yang masih antri ada berapa?" Tanya Izzam lagi
"Emang mau ngapain sih bang, jangan aneh-aneh deeeeh." Mita di buatnya lebih bingung lagi.
"Ada deh. Boleh tau nggak?"
"Bentar, sinta, ada berapa orang yang belum?"
...
...
...
"17 Bu."
Set set set
Izzam membuka dompetnya.
"Mbak Sinta, tolong ini kasih setiap 1 orang 200 ya, sesuai antrian masuk nanti, masih ada sisa nanti buat kamu."
Ooooh Bang Izzam berbagi ya.๐.
"aku nggak di kasih niiih?" Goda dr. cantik itu
"Hahahaha." Izzam hanya tertawa lepas.
"Waaah, mudahan sehat dan berkah ya debay nya" Ucap Dokter cantik.
"Aamiin." Serentak.
Ayo ituuung ada berapa uang yang di beri Izzam๐. Jadi doble tuh bumil yang tadi di luar sudah di kasih Izzam.
Setelah selesai mereka pun pamit pulang. namun dasar Izzam dia pun kembali berulah di depan para pasien.
"Helo, semuanya, sehat-sehat ya, jaga istrinya baik-baik," sambil mengelus-elus perut istrinya yang masih rata.
"Ih, Abang ngapain, malu-maluin coba!" Mita jadi malu di buaynya.
Mereka yang melihat ekspresi Izzam pun ada yang mencibir ada yang lucu ada juga yang biasa saja.
"Bu ida." Perawat pun memanggil pasien untuk di periksa.
Tap tap tap
Bu ida pin di periksa.
set set set.
...
...
...
Selesai.
"Ini." perawat meyodorkan uang pemberian Izzam.
"Apa ini Mbak?" Bu Ida bingung.
"Pasutri yang baru keluar tadi sangat bahagia, istrinya hamil, jadi dia memberi pada semua pengunjung setelahnya uang." Perawat itu menjelaskan.
"Subhanallah, bisa buat beli beras, alhamdulillah, kebetulan sekali Mbak, terimakasih banyak." Wanita itu pun meneteskan Air mata karena bahagia. Ternyata wanita ini agak sedikit kekurangan biaya hidup.
Dia pun keluar dengan wajah yang sangat senang. Dia pun bergosip positif๐
"Bu ibu, lelaki yang tadi aneh itu kasih kita uang lho, lihat ini, 200 ribu, alhamdulillah."
"Ah masa bu."
"Apa kita semua di beri" Ibu ibu pun pada berisik menanggapi pembicaraan Bu Ida.
__ADS_1
"Semuanya dapat ko Bu." Ucap Bu Ida.
Semua tampak senang.
Ceklek
Izzam pun membukakan pintu mobil, tangannya masih menggenggam tangan Mita sampai Mita benar-benar sudah duduk di dalam mobil.Sepanjang jalan Izzam sangat senang dan wajahnya sering terlihat senyum-senyum sendiri.
"Bang, kenapa senyum-senyum?" Mita pun jadi heran dengan tingkah suaminya itu.
"Aku sangat senanglah, aku yakin dia pasti laki-laki, dia sang pewarisku, emch." Izzam pun mencium tangan Mita yang slalu di genggamnya..
Ramadhan tiba. Saatnya puasa.
Sahur...
Sahur...
Sahur...
teriakan anak muda di tanah membangunkan Mita.
"Bang..." Tangannya meraba-raba suaminya, namun tidak terasa.
"Kemana dia?" Mita lun berdiri dn berjalan keluar.
Tring
Trang
Trong
"Kok dapur berisik amat ya?" Gumam Mita.
"Kakak, ada apa?" Zila pun keluar kamar karena mendengar suara-suara aneh di dapur.
"Tau tuh, ayo!" Mita dan Zila pun ke dapur.
"Abaaaaang!" Ternyata Izzam sedang memasak. dan membuat sayur capcay buat makan sahur.
"Tenaaaaang, sahur pertama karena kamu udah memberi aku sang pewaris, maka aku juga akan memasak untukmu, ini masakan pertamaku lho." Izzam sangat bersemangat, nampak di atas meja HP Izzam yang terus menyala karena Izzam membuka toturial memasak.
"Kalian duduk aja, ini semua udah masak kok."
"Selesai, ayo Zila panggil Ayana," Zila pun pergi ke kamar menjemput Ayana.
Tap
Tap
Tap
Zila merangkul Ayana yang masih memejamkan mata untuk menuju dapur.
Mita pun mengambil nasi.
"Ha....Abang!? Apaan ini Bang?" Beras masih berenang di kolam air.๐
"Kenapa? lho kok nggak jadi nasi?"
"Nasi kemaren masih ada nggak?" Mita pun membuka tudung saji, ada tersisa nasi 1 wadah, cukup untuk makan berempat porsi sedikit. Mereka pun,siap santap sahur pertama.
"Tunggu Kak, biar Zila jadi asesten icip-icip."
Ap ip up kreeeek
"wawawa kak wau we waamar wanwi."
Zila pun pergi dari meja makan, dengan suara yang tertahan karena mulutnya penuh makanan.
"Ih nggak sopan kak Zila, ngomong sambil makan.- Ucap Ayana yang masih meletakkan kepalanya di meja makan.
Hap. Mita pun mulai menyantap makanan, sementara, Izzam harap-harap cemas.
Dengan mata mendelik-delik Akhirnya Mita bisa memasukkan makananan yang di buat Izzam.
"Bagaimana sayang, enak?" Izzam penasaran.
"Enak kok, coba deh." Mita pun menyuapi Suaminya dengan porsi yang banyak.
Hap
"Huak...huak...huak." Izzam berlari ke wastafel.
"Ha...ha...ha..ha enak kan?"
__ADS_1
"Mita kamu ya."
"Au, ampun ampun." Izzam menggelitik pinggang isteinha.
"Apaan,sih Mi brisik amat sih." Ayana masih sangat ngantuk rupanya.
Mita pun berdiri dan merebus air.
"Buat apa air Kak." Zila keluar dari kamar mandi.
"Kayaknya kita lauk mie aja deh, sahur ini, dari pada kita mati keracunan garam?" Mata Mita pun mendelik menatap Izzam, Yang di pandang hanya tersenyum aneh.
Mereka pun sahur dengan makan mie dan nasi dingin. Setelah sahur mereka menunggu Azan dan sholat berjamaah.
11.00
Duk
Duk
Duk
"Buka! buka!" Suara seorang wanita terdengar dari luar rumah kediaman Mita.
Ceklek
Mita pun membukakan pintu.
"Hey wanita pela**r, mana papahku, kau pakai pelet apa sih, sehingga Papahku begitu tunduk padamu?"
Bruk
Minta pun terjatuh karena di dorong oleh Lili begitu kasar.
"Au." Mita pun memegangi perutnya yang teresa nyeri, jangan keguguran lagi ya Mita, nanti emak-emak marahin Author lho.๐.
"Lili!" Suara Izzam menggelegar ketika melihat Mita terjatuh di depan Lili, sudah bisa di tebak itu adalah ulah Lili.
"Sayang, kau tidak apa-apa" Izzam pun mengangkat Mita dalam gendongannya dan membawanya ke kamar, mita terlihat kesakitan.
"Papah, aku ingin bicara." Lili pun mengekori Izzam.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Mita, kau akan tau akibatnya."
"Rupanya Papah lebih sayang ke dia dari pada aku? Papah, tolong lepaskan Mamah, cabut tuntutan Papah, ku mohon Pah." Lili meminta Izzam melepaskan Tami dari penjara.
"Tentu saja aku lebih sayang Mita dia Istriku, sedangkan kau..." Izzam pun terdiam. Dia tidak ingin meneruskan kata-katanya.
"Sedangkan apa Pah?"
"Ah sudahlah, kau pulang saja, ku dengar kau sudah bercerai dengan Ahyar, padahal perusahaan itu kuberikan untuk Ahyar ucapan terima kasihku kepadanya, karena telah menikahimu, jangan sampai aku berubah pikiran dan mengambil kembali lerusahaan itu." Izzam pun memijet mijet kaki istrinya yang sudah di baringkan nya di ranjang. Lili semakin panas.
"Tidak, aku tidak mau pulang, lepaskan dulu Mamah, aku tidak tega melihat dia, hanya gara-gara pela**r ini Papah telah menyakiti kami."
"Plak plak."
"Abang, sudah." Mita pun bangun dan mencengkram pergelangan suaminya.
"Mulut Ibu dan Anak sama saja, dasar tak tau di untung."
"Ada apa Kak?" Zila pun datang karena mendengar keributan, sementara Ayana tertidur pulas karena bekas bangun sahur.
"Sini kamu." Izzam pun menarik tangan Lili dan membawanya keluar.
"Bilang sama ibumu, katakan padanya, didiklah mulut anakmu ini, sebelum aku kehabisan kesabaran, ingat itu!"
"Papah yang tidak mendidikku."
"Kau bukan... kau aaaaaarg, pergi kau."
Bruk
Izzam menutup pintu kasar.
"Apa yang ingin Papah katakan, aku bukan apa heh?"
Duk
Duk
Duk
"Pah, buka!"
BERSAMBUNG....
__ADS_1