Wanita Bercadar Biru

Wanita Bercadar Biru
Gagal menikah


__ADS_3

Hanan pun menatap punggung ke dua orang itu sampai menghilang, dia pun memesan makan dan menatap kartu nama yang di berikan Emre.


"Izzam Mahendra."


Hanan pun membaca kartu nama itu.


"Apa? Mahendra? apakah dia orang terkaya no 3 di Indonesia itu? atau hanya kebetulan?"


Hanan pun berbicara sendiri. Saat pelayan datang mengantarkan makanan pun dia masih bergumam sendiri, yang membuat pelayan bingung.


"Tafaddholi ya akhi!"


Hanan tak menggubrisnya.


Pelayan pun pergi.


Prang...


Tiba-tiba gelas jatuh dari meja karena tersenggol tangan Hanan, barulah Hanan sadar bahwa makanan sudah datang. Hanan pun makan dengan lahapnya, setelah selesai dia pun pergi meninggalkan warung makan tersebut. Saat sampai rumah hari sudah Maghrib, dia pun membersihkan diri dan sholat magrib. Selesai sholat dia pun menelpon Emre.


("Hello, assalamualaikum, Tuan, bolehkah aku tau tempat tinggal mu?"


("Kalau kau ingin bertemu denganku, kita janjian besok saja ya!)


("Oh maaf Tuan, apa aku noleh ke rumahmu?")


("Kita bjcara di luar saja ya, besok jam 15.00di Taman Kota Tarim.")


Tut Tut Tut


Apartemen Mita Balkon.jam 19.00


Mita tampak sedang menikmati suasana malam.


"Mita," tiba-tiba Emre muncul dan duduk di sisi Mita tanpa permisi.


"Tuan?"


"Apa kau memikirkan sesuatu?"


"Sesuatu? seperti apa maksud Tuan?"


"Apa kau memikirkan hubungan kita?"


"Tuan, aku masih bingung."


"Ayo kita menikah besok di mesjid Qasam!"


"Tuan, aku elim berbicara dengan Zila."


"Kalau kau mencintaiku, kau tidak perlu menunggu adikmu, ini masa depan kita."


"Tuaaaan." Mita tak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


"Besok, ku tunggu kau di mesjid Qasam jam 10.30 pagi, jangan lupa!"Emre pun pergi meninggalkan Mita, ada perasaan bahagia dan senang yang mewarnai hati Emre, dia akan menikah kembali dengan pujaan hatinya. Mita hanya menoleh menatap punggung Emre yang hilang di balik lantai Balkon, karena Emre pergi menuruni anak Tangga. Akhirnya Mita merasa mengantuk dan, dia pun pergi menuju kamarnya. Di kamar dia tidak bisa tidur, berbagai macam perasaan pun bercampur aduk di pikirannya, bayang-bayang Izzam slalu menghantuinya. Tapi juga dia mulai mencintai Emre, yang slalu menemaninya, bahkan karena banyak kesamaan Emre dan Izzam yang membuat dia bisa menerima Emre. EMANG MEREKA ORANG YANG SAMA. HIHI.


Hingga akhirnya mita pun tidur tepat jam 1 malam.


Pagi menjelang, tampak Emre sudah mandi dan makan dengan lahapnya. Walau hanya makan telor ceplok namun rasanya nikmat sekali. Setelah selesai makan, dia pun bersiap pergi untuk mencari bahan untuk di jadikan mahar.


"Apa jari manisnya masih seperti yang dulu ya? tapi selama menikah aku belum pernah membelikan dia cincin, ah, bodoh sekali aku ini."


Emre tampak bicara sendiri sambil menyisir rambut panjangnya, dia sengaja sedikit memanjangkan rambutnya, agar berbeda dengan rambut Izzam yang dulu. Setelah selesai a ara menyisir, dia pun pergi mungkin menuju pasar untuk membeli cincin.


###


Pasar Emas


"Khatim min almas?" Emre pun memilih-milih Cincin berlian yang sudah di tunjuk oleh pelayan toko. Setelah memilih dia pun membayar dengan harga senilai15 juta rupiah indonesia. Dia pun berjalan mencari toko Mukena dan baju lainnya untuk mahar. Setelah selesai tepat jam 9.40 dia selesai berbelanja. Dia pun pergi ke mesjid tempat mereka janjian.


Sepanjang jalan dia sering terlihat tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sesampainya di Mesjid dia pun bertemu dengan imam mesjid dan menemui seseorang yang akan menikahkan mereka.


"Tuan, 2 orang saksi sudah ada, jadi sekarang tinggal menunggu mempelai wanita." Ujar penghulu tersebut dengan bahasa Tatim.


"Baik Pa, dia berjanji datang jam 10.30, sekarang masih jam 10.20. masih tinggal 10 menit lagi." Ucap Emre.


Mereka pun duduk di teras mesjid untuk menunggu Mita, namun Mita tampak tak datang.


Apartemen 10.25


"Tidak! aku tidak boleh menikah menuruti nafsuku, aku mau menikah dengannya hanya karena dia mirip Izzam, matanya, jalannya, juga senyumnya, aku tidak boleh menikah dengannya namun hatiku terpaut pada seseorang, ini akan membuat dosa bagiku."


Mita,tampak mondar-mandir di depan cermin, dia pun melepas kerudung juga cadarnya, dia duduk di depan cermin dan memandangi wajah cantiknya.


"Bang Izzam, apa kau merindukanku?" Air mata Mita pun mulai bercucuran, dadanya sesak.


Trin


Mita pun melirik Hpnya


Emre


Gumamnya, hatinya pun bergetar, jam 10.30.


Dia tidak berani mengangkat telpon Emre, dia hanya memandangi nama itu, tiba-tiba Mita pun berdiri dan membuka lemari baju mengeluarkan baju Biru kerudung biru dan cadar biru, dia pun berlari keluar memanggil taksi.


"Pak, tolong antar ke pondok darul musthofa."


Pa sopir pun mengerti.


Mesjid Qasam 11.15.


Emre tampak terduduk sambil memegangi kepalanya dan meremas-remasnya.


"Mitaaaaa, kau di manaaaa?" Gigi Emre tampak berbunyi karena saling di gesekkan.


"Maaf Tuan, mungkin saya pulang saja, saya ada urusan yang lain," Ucap penghulu yang di undang Emre.

__ADS_1


"Iya pak, terimakasih," Ucapnya, Emre pun berdiri dan memberikan amplop.


"Tidak usah,Tuan."


"Ambil saja, ini untuk bayar ongkos taksi." Lelaki itu pun menerima, karena Emre sangat memaksa.


Sementara Mita sudah sampai di pondok adiknya Zila, setelah minta Izin dengan bagian perizinan, dia pun di izinkan bertemu dengan adiknya..


"Zilaaa....hik hik hik." Mita memeluk adiknya dan menangis histeris.


"Kakak ada apa? mengapa menangis?"


Zila pun jadi bingung melihat tingkah Kakak nya itu.


"Zila, maafkan Kakak, Kakak ... hik hik." Mita belum bisa bercerita.


"Sebentar, Zila pun pergi dan mengambilkan air mineral gelas yang di sediakan di kantor perizinan.


" Minumlah Kaka!"


Mita pun meneguk air itu sampai habis, sampai akhirnya dia tenang dan mulai bisa bercerita. Zila hanya menjadi pendengar yang baik, sesekali mulutnya menganga dan di sumbat nya dengan tangan kanannya sendiri.


"Jadi bagaimana sekarang?"


"Aku takut pulang."


"Aduh,aku juga bingung Kak."


Mereka sama-sama terdiam.


"Kak, mungkin kalian perlu bicara, kalian harus menyelesaikan ini, jangan sampai kejadian duku terulang, jangan sampai meninggalkan jejak yang menyakitkan." Ucap Zila.


Mita pun mulai tenang.


"Baik lah Dek, Kalau,begitu sekarang,aku pulang dulu."


Mita pun pamit pada adiknya itu, dengan hati yang was-was dia pun menjaga taksi dan meluncur menuju Apartemennya. Sesampainya di apartemen, dia seperti maling, berjalan dengan sedikit berjingkit, agar tidak terdengar orang, karena kamar Mita melewati kamar Emre.


Sementara di kamar, Emre sedikit tersenyum melihat orang yang di tunggunya sudah datang.


Dari jam 12 pagi tadi dia sudah datang ke apartemen, namun tak ada pergerakan apa pun di depan kamar Mita.


setelah Mita masuk Apartemennya, Emre pun menyusul dengan tergesak-gesak.


Bruk


Emre mendorong paksa lintu yang sudah setengah tertutup.


"Tuan?" Mita kaget.


Ceklek


Emre menutup pintu Aprtemen Mita.

__ADS_1


"Tuaaaan." Mita pun mundur, namun Emre terus mendekat.


BERSAMBUNG....


__ADS_2