
Elang tiba di Klinik Sejati, tepat pukul dua siang. Setelah mengantarkan Sya ke rumah terlebih dahulu, dia segera tancap gas dan melajukan Pajiranya dengan kecepatan tinggi. Peringatan Sya untuk tidak tergesa-gesa dalam menyetir tidak dia hiraukan.
Elang segera masuk, dan bertanya pada petugas klinik di ruang mana Nada dirawat. Petugas mengarahkan Elang dengan menyebutkan di mana Nada di rawat.
Di depan pintu ruang rawat Kacapiring, Elang berdiri sejenak untuk mengatur deru nafas yang masih tersengal, sebab dari parkiran Elang berlari kecil.
Perlahan dia buka pintu itu. Di dalam Elang mendapati Nada sedang dikerubuti dua orang, Bi Narti dan seorang pria paruh baya. Elang tidak mengenali siapa bapak tua itu. Mereka terlibat sebuah obrolan yang mampu membuat Nada nampak tertawa lepas walaupun ditahan. Mungkin Nada masih merasakan sakit dalam tubuhnya.
"Assalamu'alaikum!" ucap Elang. Semua yang di dalam sana kompak menjawab.
"Waalaikumsalam .... !" Semua mata menuju Elang , termasuk bapak tua itu. Rupanya dia Pak Darma, supir grab yang Nada tumpangi tadi.
Pak Darma datang lagi dengan sukarela, Pak Darma sengaja mampir saat grabnya melewati lagi klinik tempat Nada dirawat. Terlebih Nada, mengingatkan dia pada almahumah anak perempuannya, yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Bi Narti berdiri menyambut Elang dan mempersilahkan Elang mendekat ke arah istrinya. "Den Elang," seru Bi Narti. Elang duduk di samping kiri Nada namun dengan mata yang menatap ke arah Pak Darma.
"Saya, Darma. Supir grab yang kebetulan mengantar Neng Nada ke klinik ini. Dan saya saat ini sengaja datang untuk menjenguk Neng Nada," ucap Pak Darma memberikan alasan sambil mengulurkan tangan pada Elang. Elang mesem sembari menerima uluran tangan Pak Darma.
"Saya Elang, suami dari Nada." Elang memperkenalkan dirinya. Pak Darma tersenyum dan berkata.
"Baiklah Nak, kalau begitu saya mohon pamit dulu. Tadi saya mampir kesini kebetulan grabnya lewat depan klinik, sekalian saya mampir melihat Neng Nada. Rupanya mulai baik keadaannya. Semoga cepat pulih dan sehat saja," ucap Pak Darma berdiri dan berpamitan.
Elang tersenyum menanggapi ucapan Pak Darma yang dilihatnya seperti sudah lama kenal dengan istrinya.
"Baiklah, Pak, kalau begitu, terimakasih atas kedatangannya dan hati-hati di jalan," sambut Elang sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
"Pak Darma, terimakasih. Hati-hati, ya, Pak!" ucap Nada berterimakasih yang mampu menghentikan langkah Pak Darma.
"Sama-sama, Nak. Semoga lekas sembuh," ucap Pak Darma mengakhiri perjumpaannya kali ini. Pak Darma berjalan menuju pintu keluar diantar dengan tatapan mata ketiganya.
Setelah Pak Darma pergi, suasana menjadi hening, hanya deru nafas yang terdengar dari ketiganya. Nada tidak mau memulai bicara pada Elang, entah kenapa dia merasa sedih dan kecewa sama Elang.
"Maaf, Non, Den, Bibi ke kamar mandi dulu, kebelet," permisi Bi Narti seolah memberi kesempatan kepada Nada dan Elang untuk berbicara berdua.
"Bi, jangan lama, ya!" peringat Nada sembari menatap wajah Bi Narti penuh permohonan. Bi Narti hanya menatap sekilas lalu pergi. Kini suasana menjadi hening kembali.
Elang menghampiri lalu duduk di sebelah kiri ranjang pasien, diraihnya jemari Nada dan diremasnya. Nada tidak bisa menghindar, terpaksa dia membiarkan jemarinya diremas.
"Tadi pagi sebetulnya aku inigin menemuimu setelah antar Sya sekolah, namun Asistenku di PerkaSya Restoran menghubungi dan menyampaikan sesuatu yang penting yang benar-benar tidak bisa diwakilkan oleh orang lain," jelas Elang tanpa diminta.
"Dan ... Nada tidak penting 'kan, Mas?" Tiba-tiba Nada menyahut. Elang terhenyak dengan ucapan Nada. Dia sadar, sejak Ibunya sakit, Elang sedikit abai dengan Nada yang biasanya dia cari terus.
"Aku minta maaf sayang, aku tidak ada maksud mengabaikanmu. Tadi setelah antar Sya sekolah, aku berniat langsung datang ke sini. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Elang tanpa sahutan dari Nada. Elang menyadari semua ini salahnya, dia akhir-akhir ini terlalu sibuk sampai istrinya dia abaikan.
__ADS_1
Tiba-tiba Bidan Dina datang, dia tersenyum melihat keberadaan Elang.
"Pak Elang, Anda datang rupanya," celoteh Bidan Dina. Elang tersenyum seraya menyambut kedatangan Bidan Dina.
"Bagaimana keadaan istri saya, apakah istri saya sudah bisa pulang hari ini?" Tanya Elang langsung pada intinya.
"Sebetulnya istri Anda sudah bisa pulang jika labunya sudah habis. Namun karena labu yang ini belum habis jadi baru bisa pulang besok," jelas Bidan Dina seraya menuliskan sesuatu dalam. laporannya.
"Sebetulnya istri saya kenapa, Bidan?"
"Istri Anda terkena morning sickness yang sedikit berlebihan, jadi dia saat datang ke sini sudah lemas dan kekurangan cairan, juga asupan gizi dari makanan yang dia makan sama sekali tidak ada. Untung saja segera datang dan minta pertolongan. Jika terlambat sedikit saja,maka bayi kalian taruhannya."
Elang terhenyak mendengar penjelasan Bidan Dina, sebegitu parahnya Nada mengalami *morning* *sickness*. Dia tidak tahu selama ini Nada mengalami mual muntah yang parah. Saat melihat Nada muntah tempo hari, Elang menilainya muntah biasa dan tidak parah seperti itu.
"Untuk Pak Elang, saya mohon bantuannya, jika di rumah tolong perhatikan pola makannya, sekarang istri Anda harus rutin minum susu ibu hamil dengan mengandung asam folat. Makannya juga, jika dia tidak mau makan yang berat, maka Anda boleh kasih buah-buahan atau biskuit, asal sering, dan jangan dibiarkan sampai kosong."
Elang menyimak dengan seksama penuturan Bidan Dina! Dia seperti tidak ingin terlewat satu patah katapun dari Bidan Dina.
"Besok saya kasih resep, di sini saya kasih obat mual. Namun diminumnya saat Mbak Nada mual. saja. Insya Allah setelah minum ini, rasa mual akan sedikit ada," jelas Bidan Dina.
__ADS_1
Elang memahami setiap apa yang Bidan Dina sampaikan, dan dia kali ini tidak ingin melewatkan kehamilan Nada dengan hanya mengabaikannya.