
"Selamat datang Mbak Nada, ini pemeriksaan Anda yang terakhir. Ada keluhan apa akhir-akhir ini?" Bidan Dina bertanya seraya mengoleskan gel di perut buncit Nada setelah Nada terbaring di brangkar
"Perut sebelah kanan sering keram apalagi kalau sudah hubungan. Apakah itu tidak akan membahayakan janin saya, Bu?" Bidan Dina tersenyum seraya mencatat sesuatu.
"Keram itu biasa bagi orang hamil, apalagi diusia kehamilan yang sudah besar begini. Usia hamil muda juga banyak terjadi keram saat hamil." Bidan Dina menjeda ucapannya.
"Untuk mengatasi keram, apalagi saat hamil tua begini, Anda harus minum air putih yang cukup supaya kondisi tubuh tidak dehidrasi, tetap rileks dan jangan melakukan gerakan yang mendadak atau gerakan cepat. Saat bangun dari tidur sering juga terjadi keram karena kesalahan saat bangun. Maka dari itu, biasakan saat bangun tidur, tubuh menghadap kiri atau kanan lalu bangkit perlahan, duduk dulu sejenak untuk menghindari hentakan. Atur nafas dalam-dalam dan coba sesantai mungkin," anjur Bidan Dina panjang lebar.
"Terus mengenai hubungan intim, bagaimana, Bu?" timpal Elang sangat ingin tahu.
"Hubungan intim di usia kehamilan tua boleh-boleh saja dan tidak ada batasan. Akan tetapi harus melihat kesiapan keduanya, kalau istri tidak siap, maka suami jangan memaksakan. Bagusnya hubungan intim di usia kehamilan tua ini seminggu tiga kali. Dan usahakan jangan kasar, karena takut mengganggu keadaan janin," terang Bidan Dina. Elang berpikir, berarti dia sudah benar melakukan hubungan intim, yakni sejak usia kehamilan Nada tujuh bulan sudah tidak meminta tiap hari. Jadi, kali ini Elang tidak merasa disudutkan akan anjuran Bidan.
"Diperhatikan betul kondisi ibu hamilnya ya, Pak Elang! Terlebih sekarang usia kehamilan tua, yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi kontraksi atau melahirkan." Bidan Dina memberi peringatan.
Elang dan Nada mengangguk paham. Kali ini Nada tidak diberi resep obat apa-apa, hanya dianjurkan masih harus minum susu ibu hamil dan makan-makanan yang bergizi serta mengandung folat.
Malam itu akhirnya pemeriksaan Nada selesai, hujan masih gerimis kadang disertai angin kadang tidak. Mobil Elang pun keluar dari halaman rumah Bidan Dina yang cukup luas. Kini mobil menuju kedai baso Mas Ojolali sesuai keinginan Sya.
Setelah menikmati baso di Mas Ojolali, Elang dan Nada segera beranjak dan kembali ke rumah. Tiba di rumah waktu menunjukkan pukul 22.00 Wib, Sya sudah terlihat ngantuk terlebih tadi dia kekenyangan, karena sangat lahap makan baso.
Tiba di depan gerbang, Usep langsung membuka gerbang, dan mobil Elang pun masuk. Kedatangan mereka bertiga disambut Bi Narti dan Bi Ijah.
"Bi Ijah, bawa Sya ke kamarnya. Jangan lupa suruh gosok gigi dan cuci kaki dahulu!" titah Elang. Bi Ijah langsung meraih Sya dari pangkuan Elang. Sementara Elang langsung ke atas, dan Nada menuju dapur untuk memberikan baso buat para pegawainya.
"Bi Narti, ini ada oleh-oleh, buat Usep juga ada," ucap Nada sambil ngeloyor menuju dispenser mengambil air minum.
"Aduhhh, Non repot-repot. Padahal tidak usah, Non," ucap Bi Narti malu-malu.
"Tidak apa-apa, Bi, cuma baso kok. Enak dimakan saat dingin-dingin begini."
"Iya, Non terimakasih."
Nada kembali ke atas menyusul Elang yang sudah sejak tadi di atas. Tiba di kamar, Nada sudah mendapati Elang duduk rapi berbaju koko.
"Ayo, cepat bersihkan diri kamu dan berwudhu," titah Elang mengajak sholat berjamaah. Nada tidak menunda lagi, dia segera ke kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu. Sholat Isya berjamaah pun dilaksanakan bersama, dalam kekhusyukan.
"Ayo, Sayang, naiklah!" ajak Elang menepuk ranjang di sampingnya. Nada tidak membantah, dia segera naik dan berbaring di samping Elang yang sudah tidak berpiyama.
"Mas Elang," bisiknya kaget seraya merasakan sesuatu yang menonjol di balik punggungnya.
"Kamu semakin seksi dan menggemaskan, Sayang. Kata Bidan Dina kita tidak dilarang untuk melakukannya. Aku sudah siap dan kamu siap, jadi mau apa lagi?" ujar Elang seraya melucuti yang menempel di tubuh Nada. Nada sudah tidak bisa berontak lagi, sebab tubuhnya sudah dikuasai Elang.
Suara kecupan dan mengaduh bersahutan keluar dari bibir Nada beriringan dengan detak jam dinding, dan diiringi suara hujan yang turun kembali ke bumi, mendukung suasana romantisme dua insan yang saling mencinta.
__ADS_1
"Aduhhh, Mas, geli. Jangan terlalu dihentak dong Mas!" protes kecil itu menghilang seiring disentuhnya bibir Nada dengan sentuhan lembut bibir Elang.
"Aku mencintaimu, Sayang. I love you, baby!" Keduanya larut dalam buaian asmara malam yang semakin menggebu.
*
*
*
"Assalamu'alaikum, Nada, Kak Elang, Sya sayangggg, tante Marisa datang bersama baby Gama." Di depan, suara Marisa sudah cempreng terdengar ke ruang tengah sangat membahana mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam." Semua kompak menjawab salam Marisa.
"Nad, Nadaaa, aku datanggg, apakah kalian tidak merindukan aku dan baby Gama? Sya, Syaaaa, apakah Sya tidak merindukan tante yang baik ini. Sini Sayang, tante bawa oleh-oleh buat kamu." Teriakan Marisa yang menggema membuat Sya melonjak dari sofa dan berlari kecil menuju suara Marisa.
"Tanteee kami di sini, di ruang tengah!" Sya berteriak memberitahu Marisa yang hendak mencari keberadaan Nada.
"Eehhh, ponakan tante dari ruang tengah. Kalian pada ngapain?" Marisa langsung mendorong dorongan bayi menuju ruang tengah disusul Ilham suaminya di belakang.
"Sya, ini lho, tante belikan sesuatu untuk Sya." Marisa menyodorkan sekantong kresek makanan untuk Sya.
"Sya, tidak boleh begitu. Tante Marisa belikan makanan ini spesial buat Sya. Di sini juga ada es krim kesukaan Sya," rayu Nada sambil berjongkok.
"Ya sudah kalau begitu biar tante makan saja es krimnya sama baby Gama." Marisa meraih kembali kantong kresek yang dicuekkan Sya.
"Jangan dong Tante." Sya meraih kembali kantong kresek yang tadi diambil Marisa. Marisa tersenyum puas sembari duduk di sofa.
Elang berdiri saat suami Marisa tiba di ruang tengah. "Ilham, apa kabar? Tumben hari ini bisa kompak bertiga?"
"Alhamdulillah, Mas. Hari ini saya off, jadi ada waktu bersama mereka."
"Silahkan duduk, kebetulan kita lagi ngumpul keluarga nih." Elang dan Ilham tidak selang lama terlibat obrolan antar lelaki yang kadang diselingi tawa. Sementara Nada dan Marisa juga ngobrol seru, mereka tidak kalah seru dari kaum lelaki.
"Sya, lihatlah dulu baby Gama sudah besar lho 6 bulan. Dia sudah bisa ketawa dan bisa diajak ngobrol. Apakah Sya tidak mau melihatnya?" Marisa mencoba merayu Sya yang sedang anteng makan es krim yang dituangin Bi Narti.
Sya berdiri dan melihat baby Gama. Baby Gama yang baru bangun tidur mengucek matanya dengan tangan.
"Ehhh, Sayang sudah bangun." Marisa mengangkat baby Gama ke dalam pangkuannya dan menyodorkan dot yang sudah diisi ASI yang dipompa dari Sasa dan Sisi, lalu disimpan untuk stok.
"Kok, baby Gama dikasih susu formula sih, Mbak?" Nada heran dan nampak tidak suka saat baby Gama di kasih dot di mulutnya.
__ADS_1
"Ini bukan susu formula, Non. Tapi ASI yang sudah aku simpan dan aku sedot dari si Sasa sama si Sasi ini, kemudian aku simpan ke dalam peti khusus penyimpanan ASI. Yang suhunya sudah sesuai dengan keadaan ASI itu, supaya ASIku ini tidak basi." Nada mengangguk-angguk paham.
"Nanti kalau kamu bepergian dan tidak ingin repot harus nyusuin bayi, maka dari rumah sebelum pergi kamu harus stok ASI banyak dulu, tiga botol paling sedikit. Simpan di peti khusus ASI ini. Jadi kamu tidak perlu takut ASInya basi atau tidak enak di bayi kita. Begitu, Non," jelas Marisa sejelas-jelasnya.
"Wahhh, praktis dan mudah ya. Jadi, kalau kita mau kasih ASI di tempat manapun tidak usah malu karena ASI kita sudah ditampung di dot lebih dahulu."
"Itu benar Nada. Jaman sekarang kan sudah mudah dan praktis. Keuntungan juga buat kita, si Sasa sama si Sisi tidak akan mudah kendor karena tidak harus disedot mulut bayi, termasuk bayi besar, wak wak wak wak ....!" lanjut Marisa lagi diakhiri suara tawa yang kocak. Sontak Elang dan Ilham menoleh ke arah Marisa yang ceplas ceplos membicarakan bayi besar. Entahlah dua orang itu apakah paham atau tidak dengan maksud bayi besar yang dibicarakan Marisa.
"Ehem, ehem," deheman Marisa sontak membuat keduanya mengalihkan fokus ke obrolan tadi, yakni Elang tengah membicarakan bisnis baru yang akan di rintis Ilham di bidang pengadaan peroperti. Ilham yang notabene ahli dalam bisnis properti sangat antusias membicarakan ini, terlebih Elang juga berminat untuk memesan properti kepada Ilham untuk di homestay yang di Bali.
"Setelah ngobrol ngalor ngidul, Elang mengajak Ilham dan keluarga kecilnya makan siang. Makan siang kali ini menyajikan menu istimewa, yakni ayam bakar kecap, nila bakar, cah kangkung, sambal hijau dan ada makanan pelengkap seperti kerupuk. Semuanya makan dalam keadaan bahagia dan gembira, terlebih sebentar lagi Nada akan kedatangan anggota keluarga baru, maka suka citanya seakan sudah terasa.
"Alhamdulillah, kenyang banget. Aku datang ke sini malah gemblung, perut aku engap, Nad," ucap Marisa kekenyangan. Sementara Sya, makan sendiri di temani Nada yang dengan sigap membantu membuang cucuk ikan yang masih menempel di daging ikan.
"Terimakasih Mas Elang, saya sekeluarga sudah disuguhi makan yang enak ini. Kapan-kapan giliran Mas Elang dan Nada ke rumah kami, masa Marisa terus yang ke sini," ucap Ilham.
"Insya Allah, kami ke rumah kalian kapan-kapan. Aku sesuaikan waktunya dengan sekolah Sya."
"Oke deh Nada, Kak Elang, kami pulang dulu ya. Dan kayaknya kita akan bertemu lagi setelah Nada lahiran. Ini sudah bulannya kan, Nad?"
"Iya, Mbak. Ini bulannya. Doakan lahirannya lancar ya," harap Nada pada Marisa.
"Jelas dong aku doakan, nanti kalau sudah terasa, kasih tahu aku ya, biar aku bantu ngedennya, wakwakwakwak," ujar Marisa diakhiri tawa renyah.
Akhirnya Marisa, baby Gama, dan Ilham berpamitan dari rumah Elang. Mereka sangat bahagia keluar rumah Elang, sebab tuan rumahnya begitu menyambut tamu dengan suka cita.
"Kak Elang, sejak kami datang Kakak belum menyapa baby Gama, lho. Sapalah dulu biar baby Gama bisa sukses juga seperti Uwaknya," seloroh Marisa mendekatkan roda baby Gama ke arah Elang.
"Aku tadi sedang merokok Mar, dan ngobrol sama suami kamu, jadi tidak sempat menegur baby boy kamu. Lain kali deh aku pangkunya, sekarang saja kalian mau pulang kok."
"Ohh ya Kak, Marisa kalau liburan keluarga tahun depan ke Bali, nanti pengen deh nginapnya di Nada Homestay. Marisa nggak minta gratis lho, tapi mintanya diskonan. Bisa nggak nanti kosongkan di pertengahan bulan Januari tahun depan?"
"Tenang saja deh, Mar. Buat keluarga kamu aku kasih gratis deh, nanti aku kosongkan pertengahan bulan Januari di tahun depan. Iya tidak, Sayang?" Elang melihat ke arah Nada.
"Iya, dong Mas," seru Nada setuju dan merasa senang.
"Oke deh, Marisa pulang ya. Sya, tante pulang ya. Baby Gamanya merajuk gara-gara Sya tidak mau ajak main."
"Sya, kan kesal Tante. Habisnya baby Gama belum bisa diajak ngobrol," alasan Sya seraya menyalami tangan Marisa dan Ilham.
__ADS_1
Marisa dan Iham pamit dan pulang. Suasana rumah Elang kembali sepi tidak seramai saat ada Marisa. "*Mbak Marisa, bisa dikatakan oase di* *tengah padang pasir*, *terimakasih Mbak, selalu* membuat suasana menjadi ceria. Mbak *Marisa bagi* *Nada orang lain tapi rasa sodara*." Nada berkata-kata di dalam hatinya sambil menatap sedih kepergian keluarga kecil Marisa.