
Nada masih menangis di pelukan Elang. Rasa tidak percaya masih tersimpan di dalam dadanya. Elang meraih wajah Nada supaya berhenti menangis karena acara belum selesai dilaksanakan.
"Sudah, Sayang. Diluar masih banyak tamu dan teman-teman bisnis aku. Kita sambut dulu mereka dan persilahkan mereka untuk menikmati hidangan malam ini." Elang membujuk Nada yang menangis.
Elang mengajak Nada keluar untuk menyambut para tamu undangannya malam ini. Tamu Elang kali ini kebanyakan dari kalangan Pebisnis di kawasan Tabanan, dan beberapa tetangga dekat di sana. Saat keluar, Nada dikejutkan oleh seseorang orang yang baru tadi siang bertemu di sekitar penginapan.
"Nadaaaa! Wahhhh, rupanya *homestay* ini milik kamu, *Nada Homestay n Cafe*. Dekat dong kita," seru Ni Luh girang.
"Luhhh! Kamu di sini juga?" Nada terkejut.
"Iya, aku merupakan tetangga sekitar sini yang kebetulan mendapatkan undangan dari suami kamu. Aku tidak tahu yang mana suami kamu sebagai pengundang, cuma pak RT kemarin menyampaikan bahwa ada undangan khusus buat tetangga dekat sekaligus para Pebisnis Homestay di sekitar sini, untuk menghadiri launching sebuah Homestay n cafe baru di sekitar sini. Dan rupanya itu milikmu."
"Oh, ya! Jadi berdekatan dong kita. Senangnya," ujar Nada senang bisa berdekatan dengan teman masa SMPnya dahulu.
"Luh, di sini juga banyak bule. Yang mana suami kamu?" Mata Nada mengedar ke seluruh sudut melihat para tamu yang sedang dipersilahkan Elang untuk menikmati hidangan malam ini.
"Kayaknya di *homestay* sebelah deh, soalnya *homestay* sebelah juga sama-sama launching dan mengundang kami para Pebisnis kota Tabanan ini. Kayaknya Homestay kamu dan yang sebrang sana punya kedekatan tersendiri ya, mungkin menjalin persahabatan," simpul Ni Luh tepat sekali.
"Benar itu, Luh. Kebetulan *homestay* sebrang adalah milik sahabat suami aku. Namanya Kak Bintang Negara. Mereka berdua bersahabat dan mendirikan *homestay* di sini bareng-bareng. Harusnya istrinya Kak Bintang ikut menghadiri, tapi karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi istri Kak Bintang tidak bisa menghadiri."
"Ohhh begitu. Tuh, kan benar pasti suami kamu sahabatan sama yang punya *homestay* itu. Syukurlah, kita jadi berdekatan memiliki usaha di sini. Semoga kita semua sukses dalam bidang ini," harap Ni Luh.
"Aamiin." Nada mengamini apa yang Ni Luh doakan.
"Kayaknya suami kamu yang itu deh, Nad. Yang asik mempersilahkan para tamu, dia diikuti seorang anak kecil yang kemarin kamu bawa. Ahhh benar banget itu anak kamu dan suami kamu. Gilaa, ternyata suami kamu ganteng banget mirip Bradd Pitt, tapi ganteng ini sih. Kalau Bradd Pitt orang bule asli, dan suami kamu bule lokal." Ni Luh heboh sendiri menilai Elang suaminya Nada.
"Jangan berlebihan menilai suami orang tahu, nanti kamu bisa naksir dan itu bahaya, sebab di depan kamu ada aku, istrinya." Nada menyela sambil tertawa.
"Aduhhhh, Nad. Kamu ini ketakutan amat. Aku ini cuma menilai, bukan naksir atau mau merebut suami orang. Di sini aku cuma berekspresi secara jujur bahwa suami kamu itu memang ganteng, dan gantengnya sebelas dua belas sama Richard Gere saat masih muda," serunya lagi masih tidak kapok memuji suami Nada.
"Kamu ini, Luh, tidak konsisten banget. Tadi mirip Bradd Pitt, sekarang mirip Richard Gere masih muda. Terus yang benar yang mana? Kalau aku pikir, suami aku malah lebih mirip Oppa Korea. Kayaknya kamu memang terobsesi sama pria bule deh, makanya suami aku dimirip-miripin sama artis bule," sergah Nada mulai sewot.
__ADS_1
"Jangan ngambek, Non. Aku memang terobsesi sama pria bule. Bukan pria lokal. Eh tapiii, kayaknya suami kamu jauh lebih tua dari kamu, ya, Nad?" Ni Luh masih saja membahas Elang yang membuat Nada sedikit bosan.
"Ihhhh kamu ini, sudah jangan bahas lagi suami aku. Lebih baik sekarang nikmati saja hidangan yang ada ya." Nada mencoba mengalihkan topik perbincangan Ni Luh ke hal lain.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba seorang pria bule yang sudah berumur menghampiri mereka berdua dan berdiri di samping Ni Luh. Nada melihat ke arah pria bule itu dan tersenyum menyapa.
"Ehhhh, nah ini suami aku, Nad. Kenalin Mr. Smith Gordon." Ni Luh menoleh saat suaminya berada di sampingnya dan memperkenalkan pada Nada.
"I'm Gordon."
"Nada," ucap Nada pendek seraya menyalami tangan Mr. Gordon. Dia tidak mau panjang-panjang memperkenalkan diri, takutnya si bule ngajak ngomong bahasa Inggris, sedangkan Nada hanya sedikit memahaminya.
"Suami aku sudah pintar bahasa Indonesia, kok, Nad. Jadi diajak ngomong bahasa kita juga paham," ucap Ni Luh membuat Nada lega.
"Silahkan Mr. Gordon dinikmati hidangannya." Nada beramah tamah mempersilahkan suaminya Ni Luh untuk menikmati hidangan yang ada.
"Terimakasih, Miss!" ucapnya, mungkin dikiranya Nada belum nikah padahal perut sudah bengkak. Nada jadi merasa lucu. Kemudian Mr. Gordon pergi meninggalkan Nada dan Ni Luh menuju hidangan yang ada, dan berkeliling menyapa teman-teman yang lain.
"Suami kamu juga ternyata bule tua ya, Luh. Maksudnya sudah lebih dewasa daripada kamu."
"Hehee, benar, Nad. Aku kepincut bule tua. Sekarang usianya sudah 48 tahun, sebentar lagi setengah abad," ujarnya sembari ketawa merasa lucu mendapatkan suami bule tapi usianya dua kali lipat darinya.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, para tamu sebagian mulai pulang setelah menikmati hidangan yang disajikan. Perlahan namun pasti, hujan yang sejak pagi tadi ingin turun, kini mulai menampakkan rinainya. Semakin lama semakin kerap, dan pada akhirnya para tamu berhamburan menuju kendaraannya masing-masing setelah hujan makin kerap untuk pulang, setelah berpamitan pada Elang dan Nada sebagai tuan rumah.
"Hujan kayaknya akan bertambah lebat, Nad. Aku dan suami aku pamit, ya. Kak Elang, terimakasih banyak undangan dan hidangannya malam ini, kami sangat menikmati. Kami pamit, ya!" Ni Luh bersama suami dan yang lain berpamitan pada Elang dan Nada. Nada dan Elang membalas dengan anggukkan dan senyuman.
Bersamaan dengan itu hujan semakin lebat, para tamu pun bubar tidak tersisa satupun. Beruntung acara launching ini sukses dan para tamu sempat mencicipi hidangan yang ada.
"Ayo, Sayang, masuklah! Hujan makin lebat dan angin yang berhembus semakin kencang. Ayo, Sya!" Elang meraih Sya yang masih setia mengikuti Elang di belakang. Dan hujan malam ini seakan dicurahkan dari langit tumpah ruah.
Elang membawa Sya ke dalam kamar di *homestay* yang baru saja mereka tempati malam ini, dan menidurkannya, karena Sya sudah sangat lemah dan lelah.
"Kak Rafa, mana, Pah?" Tiba-tiba Sya menanyakan Rafa dengan matanya yang makin lemah. Mungkin dia merindukan bocah 10 tahun itu. Sejak acara tadi mereka hanya bertemu sebentar, lalu kembali ke Papanya masing-masing setelah acara launching homestay dimulai.
"Kak Rafa sudah istirahat di homestaynya, Sya. Jadi, Sya juga harus istirahat, ya. Nanti Papa dan Bunda temani tidurnya," bujuk Elang mengusap punggung Sya dengan rasa sayang.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Sya tertidur pulas. Elang menyelimuti Sya sampai dada, sebab malam ini terasa sangat dingin.
"Sayang, ke kamar sebelah duluan. Aku menemani Sya sebentar," ujar Elang memberi kode.
"Mas, bukannya kita mau tidur bersama Sya, di sini?" Nada protes dan mendelikan matanya pura-pura tidak paham.
"Nanti kita kembali lagi setelah kita menikmati malam panjang ini. Kebetulan ini sedang hujan, enak buat kita menyatukan cinta kita. Kamu ini seperti tidak paham," ujar Elang seraya mengibas tangannya memberi isyarat untuk Nada segera pergi kamar sebelah.
Nada segera beranjak memasuki kamar sebelah. Lalu ke kamar mandi ingin membersihkan diri dan gosok gigi, sebab dia tahu betul dengan isyarat yang diberikan Elang tadi. Bahwa malam ini Elang ingin menikmati malam berdua bersamanya.
Selang 10 menit, Elang masuk. Dengan cepat dia mengunci pintu kamar. Nada yang sedang di meja rias terperanjat dengan kehadiran Elang yang sudah memeluknya dari belakang dan langsung menyerang Nada dengan ciuman panas.
Nada langsung menepis, namun Elang tetap merangsek tidak menyerah.
"Sayang, aku kangen banget. Malam ini akan menjadi malam yang indah buat kita. Aku akan puaskan kamu, dan kamu puaskan aku juga."
Elang membawa Nada ke atas ranjang, tidak lupa mematikan lampu. Keadaan kamar kini hanya remang-remang, dua insan saling mendamba kini melemparkan senyuman bahagia di atas ranjang.
Elang menghampiri Nada sembari memberikan ciuman di sekitar leher, membuat Nada bergerinjal menahan sebuah rasa. "Mas, jangan kasar ya, Nada takut mengganggu bayi kita," pinta Nada memohon. Elang tidak sabar menikmati Nada yang semakin manja dan cantik malam ini.
Setelah puas menciumi sekujur tubuh Nada, dan keduanya sudah dalam keadaan terlucut semua dari kain, Elang bersiap memberikan gempuran selembut mungkin. Nada menerima serangan Elang yang sedikit menggebu-gebu dan sedikit menghentak-hentak bersemangat.
"Sayang, malam ini milik kita. Tidak akan aku lepaskan kamu sejengkal kulitpun." Nada merespon dengan bahagia, senyum nakalnya membuat Elang tidak tahan lagi untuk segera membenamkan hasratnya.
"Mas, jangan terlalu kasar," peringatan itu berlalu begitu saja seiring seluruh hasrat itu perlahan membenam dengan sebuah rasa yang tiada terkira. Keduanya larut dalam sebuah rasa yang sama yaitu penyatuan yang saling memberikan rasa nikmat tiada tara.
"Sayangggg, aku mencintaimu." Bersamaan dengan itu terjadi pelepasan untuk keduanya. Dan malam yang diiringi hujan lebat ini menjadi saksi menyatunya dua insan dalam ikatan suci yang sah, saling memberi dan menerima sebuah rasa yang sama.
"Nada juga mencintai kamu, Mas!" sambutnya dengan desssahhannn lega. Kemudian keduanya berciuman lama, seakan tidak sabar ingin mengulang kembali rasa indah yang barusan terlewati.
"Kita istirahat dulu, nanti kita lanjutkan, ya," ucap Elang seraya melayangkan ciuman di kening Nada yang tersenyum bahagia. Hujan yang semakin lebat pun seakan ikut membuai bahagia.
__ADS_1
Bersambung...