"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Nada yang Manja dan Kesalahpahaman Elang


__ADS_3

Nada mencari makanan di dalam tudung saji, namun makanan sisa tadi malam tidak ada yang menggiurkan lidahnya. Lalu Nada menuju kulkas. Saat dibuka, Nada tertarik dengan satu makanan khas, yaitu es krim. Nada mengambil es krim dan menuangnya ke dalam gelas berkaki. Dua sendok es krim vanila dan blueberry sudah berpindah ke gelas bercawan, lalu dimakannya es krim itu dengan lahapnya. Nada seakan sangat haus.



Menyudahi makan es krim, Nada melangkahkan kakinya menuju tangga, namun urung. Sejenak ia belokkan kakinya menuju kamar Bu Sri. Tiba di depan pintu kamar, Nada sudah tidak mendengar suara apa-apa, itu artinya ibu mertuanya sudah terlelap, terlebih jam di dinding menunjukkan pukul 11.45 malam.



Nada kembali menuju tangga dan menaikinya, lalu langsung masuk kamar. Namun Elang tidak di dapatinya. Nada duduk di atas ranjang seraya berpikir. Perutnya kini kembali terasa lapar, dan saat ini tiba-tiba dia kepikiran ingin makan seblak sayuran yang segar itu. Terbayang-bayang sampai air liurnya seakan ngeces.



Nada berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Kemudian keluar kamar bermaksud menemui Elang untuk diajak mencari seblak di luar. Tanpa mengucap salam, Nada masuk ke dalam ruangan itu. Nada memergoki Elang yang tengah duduk menenggelamkan kepalanya di kursi kerjanya sambil jemarinya mengapit satu buah rokok yang masih menyala. Nada sudah menutupi hidungnya dengan sapu tangan handuk untuk menghindari asap rokok masuk ke lubang hidungnya, sejak masuk ruangan ini.



Perlahan Nada meraih rokok di jemari Elang lalu diambilnya, kemudian digosoknya di asbak supaya baranya mati. Elang tiba-tiba mendongak dan kaget mendapati Nada sudah berada di belakangnya. Setelah bara api rokok itu mati, Nada memeluk Elang dari belakang, kepalanya ia telusupkan di leher Elang yang masih tenggelam.



Elang mendongak dan membenarkan posisi duduknya, otomatis kepala Nada terangkat.


"Sayang, kenapa masuk sini? Mas sedang merokok," protesnya. Nada diam, dia berpindah posisi mengitari kursi Elang lalu berpindah dan duduk di pangkuan Elang dengan manja.


"Kenapa, Sayang, kok tumben manja begini?" Elang heran seraya memeluk pinggang Nada. Nada menatap wajah Elang dengan tatapan sayu. "Ada apa, Sayang?" Nada melingkarkan tangannya di leher Elang, lalu menyandarkan kepala di dada bidang suaminya itu. Nada mendadak ingin bermanja dengan Elang, rasa rindu tiba-tib bergelora di dada Nada.



"Apa, Sayang?" Ditatap wajah Nada yang kini mendongak menatap wajahnya. Mereka saling bersitatap dengan rasa rindu yang bergelora.


Wangi rokok putih yang menyapu wajah Nada, kini rasanya tidak lagi membuat pusing kepala.

__ADS_1


"Tatapan mata sayu itu seakan sinyal rindu yang harus segera disambut. Elang makin mendekati wajah Nada lalu terjadilah ciuman itu. Nada membalasnya dengan pelukan tangannya yang semakin erat. Semakin dalam saja pertautan bibir keduanya dengan deru nafas yang saling memburu. Sejenak Elang melepaskan pertautan bibirnya, ia semakin bergelora dengan tatapan Nada yang manja. Pucuk dicinta ulam tiba. Kebetulan Elang tengah memuncak hasratnya.



"Mas, Nada pengen .... " Belum tuntas Nada bicara Elang membungkam kembali bibir Nada dengan penuh hasrat. Kemudian Elang membawa tubuh Nada ke sofa yang berada di ruangan kerjanya, tanpa melepaskan ciuman panas dan tubuh Nada dari pangkuannya.



Perlahan tubuh Nada dibaringkan di sofa. "Mas ....!" Seru Nada saat bibirnya terlepas dari bibir Elang. Elang menatap sayu dan mendamba dengan hasrat yang kian tidak tertahan.



Tanpa pikir panjang, Elang melucuti pakaiannya seraya menahan tubuh Nada yang kini berada di bawahnya. Elang tidak lagi memberikan Nada kesempatan untuk protes atau bicara.



"Ayo, Sayang, mas buka bajunya." Dengan kelihaian Elang satu persatu baju tidur yang melekat di tubuh Nada terlepas begitu saja, terlebih baju tidur Nada merupakan baju piyama bertali yang apabila ditarik cukup satu tarikan saja. Dan, brahhhh keindahan tubuh Nada terpapar nyata sehingga Elang tidak sanggup lagi menahan hasratnya yang semakin melambung.




Nada menggunakan kembali piyamanya yang tadi terbang akibat ulah Elang. Pun dengan Elang, segera memakai kembali pakaiannya.



"Mas!"Kembali Nada berbicara dengan nada yang manja. Elang berpikir bahwa Nada masih pengen lagi melanjutkan pertautan indah tadi.


" Mas, Nada lapar. Nada pengen makan pecel lele sama seblak," rengeknya membuat Elang terbelalak.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Elang heran. "Setelah pertautan kita tadi, kamu lapar ya? Kita bangunkan Bi Narti untuk buatkan makanan untuk kamu, Sayang." Nada langsung menggeleng.

__ADS_1


"Jadi?" Elang menatap wajah Nada yang memelas dan sedih.


"Nada ingin makan seblak dan pecel lele di Cafenya Mas Elang." Permintaan Nada ini sontak membuat Elang terbelalak, masalahnya di Cafenya tidak ada menu seblak dan pecel lele.



"Sayang, tapi di cafe milikku tidak ada menu seblak sama pecel lele," jelas Elang mendadak gelisah. Nada seketika merengut. Elang yang melihat, tidak tega rasanya orang yang dicintainya bersedih, apalagi barusan sudah memberikan sebuah rasa nikmat yang tiada terkira.



"Sayang, di tempat lain saja ya. Kita pastikan menemukannya," bujuk Elang sembari meraih pinggang Nada lalu menatapnya dalam. Nada diam dan tidak menyahut. Elang jadi tidak enak hati. "Ok, kalau begitu Mas telpon dulu Feri ya untuk menyiapkan segala bahannya." Akhirnya Elang mengalah menuruti kemauan Nada.



Elang menelpon Feri sebagai staff keuangannya untuk menyampaikan pada orang dapur supaya menyiapkan bahan seblak atau pecel lele sesuai kemauan Nada,



"Ok, Sayang, kita bersiap. Malam ini pergi ke cafe untuk membuat seblak dan pecel lele di cafe kita." Elang menyanggupi kemauan Nada. Mendadak wajah Nada menjadi sumringah.



"Mas, tahu tidak? Tadi saat Nada memanggil Mas Elang, itu sebenarnya Nada pengen makan karena lapar, bukan pengen dimakan sama Mas Elang." Sembari berjingkat, Nada menjelaskan maksudnya tadi saat dia mengatakan 'Mas pengen', padahal tadi Nada pengen makan karena lapar. Elang terkekeh akan kesalahpahamannya tadi.



"Sayang, ganti bajunya, jangan lupa pakai jaket, malam ini sangat dingin," perintahnya seraya membawa Nada ke kamarnya untuk berganti pakaian.



Nada mematuhinya dengan wajah yang senang, kemudian dia mencari rok panjang dengan dalamnya leging, lalu atasannya hoody yang lumayan melindungi dari hawa dingin malam ini. Waktu menunjukkan pukul 00.30. Elang dan Nada berangkat menuju cafe milik Elang yang berada di kawasan Benhil.

__ADS_1



Mobil melaju membelah jalanan kota itu, mengusik hawa dingin yang menerpa, terhempas oleh hembusan angin malam.


__ADS_2