
"Elang minta maaf Pak, karena telah membuat Nada pergi! Elang tidak menyangka jika pertengkaran itu akan membuat Nada pergi, dan Elang menduga jika Nada pergi pastinya ke rumah Bapak, tapi... dugaan Elang salah." Elang berkata dengan penuh penyesalan, ada titik-titik embun yang mulai jatuh dari sudut matanya.
Pak Zakaria menatap Elang nanar, ingin marah namun dia tidak tega melihat Elang semenyesal itu. "Sudahlah Nak Elang, sekarang tenangkan dulu pikiran Nak Elang. Saya akan mencari tahu Nada dengan mencoba menanyakan pada saudara-saudara saya. Dan Nak Elang juga jangan berhenti mencari Nada, jika memang Nak Elang benar-benar mencintai anak saya." Pak Zakaria berkata diiringi matanya yang berkaca-kaca.
Elang merasa tertohok dengan perkataan Pak Zakaria, bagaimanapun juga Pak Zakaria patut kecewa dan marah atas perginya Nada akibat pertengkaran itu. Elang merasa Pak Zakaria ragu jika dirinya benar-benar mencintai Nada, sehingga Pak Zakaria sanggup berbicara seperti itu.
"Sekali lagi Elang minta maaf, Pak! Elang benar-benar menyesal dan Elang janji akan mencari Nada sampai ketemu dan membawa Nada kembali dengan selamat," ucap Elang sungguh-sungguh seraya menyalami kedua tangan Pak Zakaria, mertuanya. Pak Zakaria membiarkan Elang melakukan itu, dalam hatinya percaya bahwa menantunya memang benar-benar mencintai anaknya, namun kesalahpahaman dan *miss komunikasi* adalah pemicu Nada pergi.
Elang berpamitan pada Pak Zakaria, dia harus segera kembali sebab akan menjemput Sya pulang sekolah. Sepanjang perjalanan Elang tidak hentinya memikirkan perkataan Pak Zakaria tadi. Pak Zakaria sampai meragukannya jika dirinya benar-benar mencintai Nada.
Elang mencoba menghubungi Nada namun nomernya tidak bisa dihubungi. Akhirnya Elang mencoba mengirimkan pesan WA.
"Sayang... di mana kamu berada? Tolong beritahu Mas, Mas jemput kamu. Pulanglah, sayang! Mas merindukanmu!" Pesan WA itu terkirim namun belum dibaca sang Empunya nomer. Namun Elang berharap, nanti Nada akan membaca pesan WAnya.
Kesedihan Elang berlanjut, kepergian Nada yang sudah lebih seminggu ini membuat pola makannya tidak teratur. Ditambah lagi Sya yang kini sering rewel dan sempat demam. Selama itu Elang tidak berhenti mencari Nada, meminta bantuan pada teman-temannya yang kebetulan seorang aparat, namun belum menemukan hasilnya.
"Nada... di mana dirimu? Mas mengaku salah terlalu menekanmu. Kembalilah, sayang!" guman Elang berkali-kali. Dan keadaan ini membuat dirinya semakin terpuruk. Bu Sri mamanya Elang, ikut sedih melihat anak semata wayangnya terpuruk dan nampak tidak terurus.
Dalam benak Bu Sri tiba-tiba muncul penyesalan. Penyesalan yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Menyesal kenapa selalu tidak pernah jaga mulut dengan mengumbar hubungan ranjang anak menantunya di depan teman-temannya. Menyesal kenapa tidak sedikitpun ada rasa sayang pada Nada menantunya yang tidak pernah neko-neko. Semuanya terlambat. Kini Nada pergi dan Elang terpuruk seperti tidak ada lagi gairah hidup.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Uwa. Lihat Kak Elang sampai terpuruk begitu. Wajah kusut, pucat, badan tidak terurus, bahkan wajah tampan berseri memikat hati tidak nampak lagi. Bagaimana bisa Nada perempuan biasa yang sering Uwa hina tertarik lagi sama Kak Elang? Jangankan Nada, perempuan lain yang biasa-biasa saja tidak mau melirik Kak Elang!" tandas Marisa meninggi, mutlak menyalahkan Bu Sri, Uwanya sendiri. Sehingga membuat darah Bu Sri mendidih.
"Kamu itu Mar, lagi hamil tapi bicara sangat keras seperti itu. Apa tidak terkejut tuh janin yang kamu kandung? Ngidam apa... Martini adikku saat mengandung kamu....?" ujar Bu Sri seraya memegang kepalanya merasa pusing dengan perkataan Marisa yang menyalahkannya, namun banyak benarnya.
"Jangan bawa-bawa Mama Martini ya Wak, Mama tuh baik dan tidak jahat kayak Uwa!" debat Marisa jengah.
"Aduhhh... sudah dong Mar, kamu malah bikin kepala Uwa pusing tahu, gak? Coba biarkan dulu Uwamu ini sedikit berpikir dengan tenang. Uwa juga kasihan melihat Elang seperti itu, dan Uwapun menyesal," ujar Bu Sri memegang kepalanya yang kini benar-benar pusing.
"Menyesal...? Uwak menyesal? Helooo... sejak kapan penyesalan Uwak hadir? Sudah terlambat baru menyesal! Tahu rasa jika Nada tidak mau kembali pada Kak Elang, maka kehancuran Kak Elang akan benar-benar terjadi. Dan ini semua gara-gara Uwak!" tandasnya benar-benar menyudutkan Bu Sri sehingga Bu Sri nampak terkejut. Terkejut jika anaknya benar-benar terpuruk, maka apa lagi yang akan dibanggakannya, terutama di mata Mayang mantan menantunya.
"Maafkan Mama, El! Mama benar-benar menyesal," bisiknya dengan mata berembun.
"Pikirkan ucapan Marisa ya, Wak! Ada saatnya Uwak akan merasa membutuhkan Nada. Tapi Nada sudah tidak mau kembali pada keluarga ini. Maka penyesalan Uwak akan sia-sia," tandas Marisa disela-sela menyempatkan datang ke rumah Uwaknya, yakni Bu Sri. Marisa pergi dan meninggalkan rumah Uwaknya dengan hentakan kaki yang cukup keras. Wanita hamil itu terlihat strong dan kuat di usia kehamilannya yang baru menginjak 4 bulan.
Sepeninggal Marisa keponakannya yang dia anggap cerewet dan paling berani, Bu Sri nampak terpuruk. Dia duduk terpekur di sofanya dengan wajah berubah sembab.
"El... jangan hancurkan keadaanmu gara-gara Nada pergi. Mama tidak mau kamu hancur. Jika kamu hancur, maka tidak ada lagi yang bisa Mama banggakan di depan orang-orang. Dan ini gara-gara Nada. Aku harus menemukan Nada, untuk mengembalikan keceriaan Elang kembali," ucapnya sesumbar. Masih saja rasa penyesalan itu hanya karena takut sebuah kebanggaan dari Elang hilang, bukan penyesalan karena merasa berdosa.
__ADS_1
Elang turun dari mobil dan menuju gerbang sekolah menghampiri Pak Satpam yang berjaga.
"Pak... kelas 1 belum bubar?" tanya Elang kepada Pak Satpam karena melihat halaman sekolah yang masih kosong.
"Mungkin sebentar lagi Pak, kita tunggu beberapa menit," jawab Pak Satpam seraya melihat ke arah jam tangan.
Elang kembali ke mobilnya yang dia parkir di depan sekolah, tadinya dia pikir Sya akan segera keluar seperti hari-hari biasa. Namun hari ini berbeda, bahkan tidak ada pemberitahuan dari Guru Wali kelasnya.
Sembari menunggu, Elang bergegas menuju toilet pos Satpam, meninggalkan mobil sejenak untuk melepas panggilan alami yang tiba-tiba memintanya untuk dikeluarkan.
Lima menit kemudian Elang keluar dari toilet. Anak-anak kelas 1 A mulai berhamburan keluar gerbang sekolah yang sudah dibuka Pak Satpam. Saat bersamaan, tiba-tiba hal yang sangat mengejutkan terjadi di depan matanya.
Mayang menggendong paksa Sya yang terlihat meronta-ronta. Elang langsung menghampiri dan berusaha mencegatnya. Mayang sudah mendekati mobilnya dan hendak memasukkan Sya ke dalam mobilnya.
"Papa....!"
"Sya... jangan bawa Sya....!" teriaknya menghentikan Mayang. Mayang tidak menggubris, dia memaksa memasukkan Sya ke dalam mobil dan berhasil, kemudian dia memutar dan masuk ke pintu kemudi. Elang mengejar mobil Mayang yang baru beberapa meter. Namun beberapa detik kemudian, Elang malah menyaksikan insiden tidak terduga.
"Tidakkkk....!"
__ADS_1
Bersambung..... bestie....