"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Bisikan Bu Sri


__ADS_3

POV Author


Elang pulang diikuti Nada dan Sya. Berita baik tentang keadaan kehamilan Nada, tidak merubah kesedihan Elang menerima keadaan Ibu Sri. Elang memang sangat terpukul dengan sakitnya Ibu Sri. Terlebih setelah melihat keadaannya hari ini, belum ada perubahan yang lebih baik pada Ibu Sri. Saat tadi ibu Sri membisikkan sesuatu di telinganya, Elang cukup terhenyak. Rupanya ibu Sri tidak mau melihat Nada di dalam ruang rawatnya. Walaupun bicaranya tidak jelas dan sulit dimengerti, namun Elang paham dengan gerak bibir dan lirikan mata ibunya.


Elang heran, saat sakit saja ibunya masih tidak suka dengan Nada. Elang jadi merasa serba salah, padahal kedatangan Nada menjenguk ibunya diharapkan akan merubah hati ibu Sri melunak dan luluh. Elang tidak ingin Nada tahu bahwa ibunya tidak menginginkan dia di sana.



Tiba di parkiran, Elang segera memasuki mobilnya, setelah membukakan pintu buat Sya dan Nada. Dalam perjalanan menuju rumah, Elang fokus dengan kemudinya tanpa terusik sedikitpun. Nada dan Sya, seakan terbawa oleh atmosfir yang diciptakan Elang. Mereka merasa tidak enak dengan keadaan ini dan ikut diam. Sampai mobil tiba di depan rumah, tidak ada percakapan diantara mereka.



"Ayo, Sya ....!" ajak Nada seraya menuntun lengan Sya menuju rumah. Mereka lebih menyibukkan diri berdua dan mencari aman. Nada juga merasa lebih baik diam dulu selama sikap Elang masih terlihat diam begitu.



"Ayo Sya, kita ke ruang bermain saja. Bunda mau menemani Sya bermain di sana," ajak Nada yang disambut dengan sorakan bahagia dari Sya. "Sebentar ya, Bunda ambil dulu es krim. Kita sambil makan es krim di sini ya."



"Asik ... es krim, Sya suka es krim. Yang banyak, ya, Bunda!" sorak Sya senang dan segera menuju ruang bermain duluan. Nada menyusul dengan membawa dua cup besar es krim. Keadaan ini membuat Sya sangat bersemangat dan bahagia. Sementara Elang yang kini berada di ruang kerjanya, duduk termenung dan sedih dengan keadaan ibunya.



"Bunda, Papa mana?" tanya Sya disela-sela makan es krim.

__ADS_1


"Papa, di atas dong, tadi Papa langsung ke atas," ujar Nada sembari menyuapkan es krim yang rasanya sangat enak dan dan menyegarkan.


"Bunda, kasih Papa es krim juga dong. Biar Papa kepalanya jadi dingin dan pikirannya fres lagi," ucap Sya persis orang gede. Nada terharu mendengar Sya begitu perhatian sama Elang.


"Baiklah, biar Bunda yang kasih ke Papa, ya, es krimnya," ujar Nada seraya bangkit menuju dapur. Es krim yang membuat dirinya dan Sya segar itu, telah diwadahi ke dalam gelas berkaki. Sehingga penampakannya selain menggiurkan juga elegan. Nada yakin es krim ini bisa membuat Elang segar kembali dan berharap tidak murung lagi.



Nada mencari Elang ke kamarnya dan kamar Sya, namun tidak ada. Lantas dia mencari ke ruang kerjanya Elang. Dan benar saja Elang berada di sana. Nada segera masuk, tidak lupa mengetuk pintu. Saat masuk, asap rokok sudah berterbangan memenuhi ruangan sehingga menjadi pengap. Nada tiba-tiba terbatuk dan sedikit sesak.



"Uhuk, uhuk, uhuk .... !" Elang terkejut lalu mematikan rokok yang masih diisapnya. Dia menghampiri Nada dengan risau.


Nada menyimpan gelas berkaki di meja kerja Elang, lalu segera keluar dari ruangan kerja Elang yang sudah tercemar asap rokok. Nada masih terbatuk-batuk sampai keluar air mata. Bi Ijah dan Bi Narti yang mendengar Nada terbatuk-batuk, datang menghampiri dan merasa khawatir.



"Non Nada, kenapa Non?" Kedua ART itu bertanya nampak was-was. Nada memegangi perutnya yang mendadak keram.


"Bi Narti, antar saya ke kamar, perut saya keram dan terasa sakit. Bi Ijah, temani Sya di ruang bermain. Kalau dia sudah ngantuk, bawa tidur saja," titah Nada seraya melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar, dengan perut yang ditahan. Bi Narti manut dan segera memapah Nada ke kamar.


Semetara di dalam ruangan kerja, Elang masih sibuk mengusir sisa asap yang masih memenuhi ruangannya. Elang tidak menyadari asap telah memenuhi ruangan kerjanya. Sakit kepala dan pikiran yang kalut serta perasaan sedih karena memikirkan keadaan ibunya, membuat Elang lupa bahwa ruangan itu berAC.


__ADS_1


Asap rokok telah berkurang, ruangan kini sedikit terang dan mulai kelihatan dalamnya. Elang melihat secup besar es krim teronggok di meja kerjanya. Hatinya tiba-tiba tersentuh, rupanya Nada datang menghampiri ke ruangannya untuk memberinya es krim. Sekaligus merasa bersalah karena telah membuat Nada terbatuk-batuk. Elang tidak tahu bagaimana kini keadaan Nada. Es krim yang berada di meja itu kini sedikit mencair. Demi menebus rasa bersalahnya, Elang segera menghabiskan es krim pemberian Nada dengan cepat.



Elang menuju kamarnya untuk melihat Nada, namun belum sampai kakinya menuju kamar, tiba-tiba Hpnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Hp ibunya. Elang segera mengangkatnya. Rupanya Bi Inah yang menelepon atas perintah Bu Sri. Bi Inah memberi tahu, bahwa Bu Sri ingin Elang datang ke rumah sakit dan ingin ditemani Elang sampai malam.



Elang mengurungkan niatnya masuk ke kamar untuk melihat Nada, dia segera menuruni tangga dan keluar, menghidupkan mesin mobil. Mobil keluar gerbang dan segera melaju di jalanan komplek, menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat.



Di dalam kamar, Nada mendengar deru mesin mobil Elang yang pergi menjauh dari halaman rumahnya. "*Pergi kemana Mas Elang, kenapa tidak* *menemuiku dulu*?" tanyanya dalam hati. "*Apakah* *Mas Elang tidak khawatir, setelah tadi dia melihat* *aku terbatuk-batuk karena asap rokok di ruangan* *kerjanya*?" tanyanya lagi dalam hati berubah sedih.



Sampai tiba waktunya makan malam, Elang belum datang juga. Sampai Sya tertidur, Elang belum juga muncul. Nada membuka Hpnya lalu mencoba menghubungi nomer Elang, namun nihil nomer Elang tidak aktif. Kesal karena Hp suaminya tidak kunjung aktif, akhirnya Nada ngantuk dan tertidur di kamar Sya.



Jam sebelas malam, Elang baru pulang. Saat masuk kamar, dia tidak mendapati Nada. Elang yakin Nada pasti ada di kamar Sya. Perasaan bersalahnya akibat asap rokok tadi, seketika muncul lagi. Elang benar-benar menyesal telah merokok di dalam ruangan. Perlahan dia memasuki kamar Sya, dan benar saja Nada dan Sya sudah tertidur sangat pulas, terdengar dari deru nafasnya yang teratur.



Tiba di depan ranjang yang sudah ditiduri dua orang yang sama-sama Elang sayangi, tatapan pertama Elang tujukan untuk Sya. Elang menurunkan badannya untuk mencium Sya. Kemudian tatapan kedua dialihkan menuju wajah Nada. Lama Elang menatap wajah cantik Nada. Ada gurat sedih dari wajah cantik Dara, setidaknya itu yang dapat dirasakan Elang.

__ADS_1


__ADS_2