"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mendadak Sensitif dan Cengeng


__ADS_3

Walaupun dengan hati yang berat, terpaksa kami harus pamit pada Ibu dan Bi Inah. Ibu nampak sedih saat melihat kami pamit, sejenak aku lihat ibu ke dalam dan berpamitan.



"Ma... kami pulang ya....!" pamit Mas Elang diikuti aku.


"Bu, Nada pulang ya! Ibu lekas sembuh," pamitku seraya mendoakan Ibu. Kami beranjak meninggalkan ruangan Ibu dan menuju parkiran rumah sakit. Dalam perjalanan menuju parkiran, tidak ada yang bersuara diantaranya kami, hanya sesekali Sya yang berceloteh.


"Pa... Sya mau ke Mall dulu ya!" rengek Sya sambil menatap ke arah Mas Elang penuh pengharapan. Mas Elang diam seakan tidak mendengarkan Sya dan fokus pada kemudi. Mobil sudah meninggalkan area rumah sakit dan kini berada di jalanan yang mulai ramai.



"Papa....!" teriak Sya sedikit kencang membuat Mas Elang terlihat kaget. Mas Elang memelankan laju mobilnya lalu mulai bicara.


"Kenapa, Sya?" Mas Elang sekilas menatap wajah Sya.


"Sya mau ke Mall, Sya mau main di mall," ucapnya masih merengek.


"Sya mau ke Mall ya? Ya sudah kita ke Mall dulu ya," ucap Mas Elang setuju lalu mengarahkan mobilnya menuju Mall terdekat dari rumah sakit.



Tiba di Mall, Sya begitu ceria dan bahagia. Sya mengajak Mas Elang ke tempat bermain. Di sana Sya bermain bersama dengan yang lain. Sementara aku dan Mas Elang mengawasi di kursi tunggu.



"Sayang, kenapa kamu diam saja sejak tadi?" Mas Elang bertanya dengan nada yang heran.


"Tidak ada. Nada hanya sedikit mual," jawabku tidak bersemangat.


"Mual? Kamu benar-benar hamil, kan?" tanya Mas Elang dengan raut gembira.


"Nada belum yakin, Mas," jawabku ragu.


"Ya sudah nanti kita ke apotek dulu membeli tespek," ujarnya tanpa ku respon. Aku hanya bisa diam, merasakan rasa mual yang kini mendera.


Setelah Sya puas bermain, Mas Elang membawa kami ke food court Mall tersebut. Namun aku menahannya, sebab rasa mual ini benar-benar sudah tidak tertahan. Aku langsung menuju toilet tanpa menunggu persetujuan Mas Elang.



Di sana aku tumpahkan semua rasa mual yang tadi mendera. Beberapa menit setelahnya, perutku sedikit enakan dan tidak mual lagi. Bergegas aku keluar toilet. Namun tanpa ku duga aku berpapasan dengan Kak Nadie teman masa kecilku.



"Nada... ! Lho kamu ada di sini? Kebetulan ya kita bertemu di sini. Kamu sedang apa di Mall ini?" tanya Kak Nadie penasaran. Aku terkejut karena bertemu Kak Nadie. Apa jadinya pertemuan tidak disengaja ini diketahui Mas Elang dan dia menjadi salah paham.



"Eh... Kak Nadie... Nada sedang jalan-jalan di mall ini Kak....!" jawabku ragu.


"Bersama siapa, Nad, sendiri?" Kak Nadie bertanya lagi seakan pengen tahu.

__ADS_1


"Nada bersama anak dan suami Nada, Kak!" jawabku jujur. Sekilas Kak Nadie terlihat kecewa sekaligus tidak percaya dengan apa yang aku katakan baru saja.



"Sayang... kok lama sih?" Tiba-tiba Mas Elang datang dan menghampiri kami yang tadi terlibat sedikit percakapan. "Ayo pulang, ngapain diam berdiri di sini!" ketus Mas Elang seraya menatap tajam ke arah Kak Nadie dan meraih tanganku lalu menariknya menuju Sya yang sudah duduk manis di hadapan meja makan food court Mall. Aku mengikuti Mas Elang dengan rasa hati yang was-was.



"Lelaki itu siapa? Perasaan lelaki itu terus mengikuti kamu sejak di pesta pernikahan kolega aku tempo hari. Kalian ada hubungan apa? Sepertinya kalian begitu dekat?" tanya Mas Elang menyimpan curiga.



"Itu bukan siapa-siapa Nada, Mas. Dia Kak Nadie teman masa kecil Nada. Barusan Nada tidak sengaja bertemu dengannya, kami tidak pernah janjian kok," sangkalku menepis kecurigaan Mas Elang tentang kedekatan aku bersama Kak Nadie. Mas Elang menatapku masih belum percaya.


"Awas ya ... jika kalian ada apa-apa di belakang Mas, maka tahu rasa kalian," ucapnya mengancam dengan sorot mata yang marah dan bengis.


"Ya sudahlah kamu mau makan apa?" tanya Mas Elang padaku dengan wajah yang masih kesal. Aku tidak menjawab, rasanya makanan di food court ini tidak ada yang menggugah seleraku setelah melihat Mas Elang kesal begitu. "Kamu tidak mau makan?" Aku menggeleng. "Ya, sudah, terserah!"



"Bunda, ayo makan Bunda....!"


"Bunda tidak selera makan, sayang. Bunda maunya rujak," celetukku.


"Rujak? Di sini mana ada rujak!" serunya namun berdiri dan pergi entah kemana.


Tidak berapa lama Mas Elang datang lagi dengan membawa teh jeruk hangat lalu disodorkannya padaku. "Minumlah... di food court ini kebetulan yang jual rujak sedang tutup, jadi rujaknya tidak dapat," ucap Mas Elang menyesalkan. Aku sedikit murung saat Mas Elang bilang bahwa penjual rujaknya tutup dan tidak jualan. Namun relung hatiku ada sedikit rasa bahagia, sebab Mas Elang mau mencarikan rujak walaupun tidak hasil, padahal tadi masih mode kesal.




Tiba di rumah, aku langsung berlari kecil menuju kamar, dan langsung ke kamar mandi membuang rasa tidak enak dan mual dalam perutku. Aku terduduk lemas setelah cairan bening dari perutku berhasil aku keluarkan. Nafasku tersengal dan cepat serta tidak beraturan. Mas Elang yang menyusul ke kamar bersama Sya, langsung panik melihat aku terduduk di lantai kamar mandi.



"Bunda... Bunda kenapa?" Sya menghampiri dan melihatku dari balik pintu kamar mandi. Aku mendongak seraya menahan tubuhku yang lemas karena kecapean saat tadi muntah.



"Nada ... kenapa ini?" Mas Elang datang menyusul dan melihat aku terduduk di lantai kamar mandi. Aku tidak menjawab hanya tatapan sendu yang mampu aku berikan sebagai jawaban.



"Sya ... menepi dulu ya, Papa mau bantu angkat Bunda dulu. Baju Bunda juga basah karena air, jadi Papa mau ganti bajunya," ucap Mas Elang mengusir Sya secara halus. Sya patuh dan mundur, namun dia tetap mengawasiku. Betapa gemasnya tingkah Sya, membuat aku terhibur.



Mas Elang mengangkat tubuhku dan membawanya ke kasur kemudian perlahan membuka kancing baju atasku, namun segera aku tahan, sebab di dalam kamar masih ada Sya. Mas Elang paham, lantas dia menatap Sya dan menghampirinya lalu membujuk Sya supaya menemui Bi Ijah.


__ADS_1


"Sya, keluar dulu ya! Papa mau ganti baju Bunda. Nanti kalau Bunda sudah dibaju, Sya boleh kembali lagi ke kamar ini," titah Mas Elang lembut. Sya sedikit kecewa, namun Sya pergi juga dengan wajah yang dihiasi cemberut.



Mas Elang membuka bajuku yang basah, satu persatu kancing yang saling bertautan dibukanya. Kemudian bajuku diganti sama baju santai dalam rumah. "Kamu pucat begini, Sayang. Apakah benar kamu hamil?" tanya Mas Elang mengusap keningku yang basah karena keringat dingin.



"Nada tidak tahu, Mas. Coba lihat apakah tespek yang di dalam laci itu hasilnya garis dua atau satu. Karena tadi subuh kalau tidak salah lihat, garisnya dua," jawabku ragu. Mas Elang langsung menuju laci meja rias dan membukanya. Saat menemukan benda yang dimaksud, Mas Elang langsung membukanya dan melihat hasil yang tertera di tespek tersebut.



"Apa ... kamu benaran hamil, Sayang? Ohhh ... kamu hamil sayang....!" pekik Mas Elang seraya mendekatiku lalu memperlihatkan hasil tespek. Aku terbelalak untuk yang kedua kali, sebab hasil tespek itu benar-benar garis dua yang muncul.



Aku bersyukur dalam hati, alangkah bahagianya diberikan anugerah kepercayaan keturunan oleh Yang Maha Kuasa. Aku tiba-tiba cengeng dan meneteskan air saat itu juga. Mas Elang menyadarinya, lalu dengan cepat dia menyusut air mataku dan mencium keningku.



Pantas aku akhir-akhir ini sedikit cengeng dan moodku kurang baik, kadang tiba-tiba sedih dan ingin menangis. Bahkan saat mendengar ibu ingin dirawat di rumah Mas Elang, aku langsung tidak enak hati dan sedih.



"Mas kamu senang, Nada hamil?" tanyaku dibalut perasaan ragu.


"Isss ... kenapa kamu nanyanya begitu, ya senanglah. Masa aku yang hamili tapi tidak senang? Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak dong, nanti malah ngedrop dan mengganggu kehamilan kamu," bujuk Mas Elang seraya menyelimuti tubuhku dari kaki sampai dada, namun tangan Mas Elang menelusup ke dalam perutku mengusap-usap perut, membuat aku merasa nyaman.


"Tapi ... kenapa Mas Elang seperti tidak antusias mendengar Nada hamil?" tanyaku penasaran.


"Apanya yang tidak antusias, Mas itu senang tahu. Kamu itu jangan mikir yang tidak-tidak, nanti kalau kamu down dan ada apa-apa sama janin yang kamu kandung, Mas tidak segan menghukum kamu!" ancamnya serius.


"Sudahlah, sekarang Mas mau meluk kamu supaya mual kamu hilang," ujarnya seraya membaringkan tubuhnya miring menghadap ke arahku lantas menatapku mesra.


"Mas ... emm ... tentang ibu, apakah benar Mas Elang mau bawa ibu ke sini dan merawat ibu di rumah ini?" tanyaku tiba-tiba yang membahas masalah ibu yang waktu tadi mendengar bahwa ibu ingin dirawat di rumah ini.



"Entahlah, Mas masih bingung. Kalau dibawa ke sini, Mas tahu kalian itu masih belum akur dan Mas tidak ingin melihat kalian terus-terusan bertengkar. Tapi ... jika membiarkan Mama di sana, Mama akan merasa kesepian, karena Mama bilang ingin dekat sama Mas jika sakit," ungkap Mas Elang yang mendadak wajahnya suram ketika memikirkan dua pilihan yang dikiranya sulit. Aku paham akan sikap Mas Elang, jika Mas Elang masih bawa Ibu ke sini maka resikonya ditakutkan Ibu dan aku akan terjadi konflik lagi. Tadi saja ibu sikapnya masih kurang suka padaku saat aku mau menyalaminya.



"Nada sih terserah Mas Elang, karena ibu tinggal di sini bukan di tempat orang lain. Tapi ... Nada tidak bisa bayangkan jika ibu masih benci Nada dan Nada sakit hati, maka bagaimana jika ada sesuatu terjadi dengan janin yang dikandung Nada?" ungkapku sedikit sensitif lalu memalingkan tubuh membelakangi Mas Elang yang sejak tadi memeluk.



"Itu dia, Mas jadi bingung. Kalian sih kenapa juga tidak mau akur? Apa susahnya sih yang satu mengalah, dan lebih baik memaklumi karena Mama lebih tua. Kamu kan tahu kalau sama yang tua, kita harus lebih menghormati dan mengalah supaya kita mendapat berkah. Tapi ... Mama dan kamu sama keras kepalanya," ujarnya seakan-akan lebih condong menyalahkan aku.



"Mas itu, selalu menyalahkan Nada. Apa-apa Nada yang harus ngalah. Dikatain wanita ranjang di depan orang lain Nada harus diam, dicemooh juga tidak dibela, ujung-ujungnya Mas bilang 'jangan berkata kasar sama Mama' dan Mas Elang tidak mau menegur ibu sampai ibu menyadari kesalahannya. Dan akhirnya Nada juga yang dipaksa harus ngertiin Mas Elang, padahal hati Nada sakit. Karena Mas Elang tidak pernah membela Nada. Nada benci Mas Elang. Kalau begitu, lebih baik Nada pergi saja yang jauh tidak perlu datang ke sini lagi," akhirnya dengan lancar jaya persis jalan tol tanpa hambatan, aku berhasil mengungkapkan segala unek-unekku di depan Mas Elang, entah dorongan keberanian dari mana. Yang jelas saat ini aku merasakan moodku benar-benar tidak bisa dikontrol, dan rasanya ingin mengungkapkan segala unek-unekku.

__ADS_1



Mas Elang nampak tersentak dan berusaha menenangkan emosiku yang lagi menggebu-gebu. "Sayang sudah ... Mas minta maaf. Tenangkan pikiranmu. Kamu saat ini sedang hamil dan Mas tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi sama kamu dan janin dalam perut kamu," bujuk Mas Elang nampak prustasi.


__ADS_2